·

Senin, 31 Maret 2008

Info Lowongan Kerja untuk D3 di PGN

PT. Perusahaan Gas Negara (Persero)Tbk Strategic Business Unit Transmisi Sumatera-Jawa membutuhkan calon pekerja yang profesional, energik, dan berdedikasi tinggi untuk mengisi jabatan dengan posisi :
.
NO. POSISI
KODE - BERPENDIDIKAN/MEMILIKI IJAZAH
.
A. Teknisi Teknologi Informasi
IT - D3 Teknik Elektro/Teknik Informatika
.
B. Teknisi Survey On–Shore dan Off-Shore
SV - D3 Teknik Mesin/Sipil
.
C. Teknisi CAD
CD - D3 Teknik Mesin
.
D. Teknisi Operasi dan Pemeliharaan
OM - D3 Teknik Mesin/Sipil/Elektro
.
E. Teknisi Scada / Teknisi Telekomunikasi / Teknisi Lightning Protection
OPS - D3 Teknik Elektro/Instrumen
.
F. Pengelola Manajemen Data
DM - D3 Teknik Informatika / Manajemen Informatika
.
G. Teknisi Host System
HS - D3 Teknik Elektro / Teknik Informatika
.
H. Staf Audit Bid. Teknik
AT - D3 Teknik Mesin/Elektro
.
I. Staf Audit Bid. Administrasi
AA - D3 Manajemen / Hukum
.
Persyaratan Umum Pelamar:
a. Laki-laki untuk posisi A, B, C, D, E
b. Laki-laki atau perempuan untuk posisi F, G, H, I
c. Usia Maksimal 25 tahun pada tanggal 1 April 2008.
d. IPK minimal 2,75 untuk jurusan Teknik dan 3,00 untuk jurusan NonTeknik.
e. Menguasai Bahasa Inggris baik lisan maupun tulisan.
f. Diutamakan memiliki pengalaman kerja di bidang posisi jabatan yang dipilih minimal 2 (dua) tahun.
.
Persyaratan Tambahan :
a. Bersedia ditempatkan diseluruh Wilayah Indonesia.
b. Bersedia mengganti seluruh biaya seleksi termasuk biaya On The Job Training apabila mengundurkan diri kurang dari 1 tahun terhitung sejak diumumkan lulus / menerima panggilan kerja.
c. Informasi selengkapnya dapat dilihat pada website Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI) di www.lptui.com mulai tanggal 29 Maret 2008.
.
Pengiriman lamaran hanya dilakukan dengan cara mengisi form aplikasi secara on-line. Kami tidak menerima berkas lamaran yang dikirim langsung maupun melalui pos/kurir.
.
LEMBAGA PSIKOLOGI TERAPAN UNIVERSITAS INDONESIA
.
Hanya pelamar yang memenuhi syarat dengan kriteria terbaik yang akan diikutkan dalam proses seleksi. Kami tidak menerima tanya jawab apapun selama proses seleksi berlangsung dan keputusan seleksi bersifat mutlak.
.
Dalam penerimaan tidak dipungut biaya apapun.
.
Agar lebih jelas lihat di www.pgn.co.id atau di www.lptui.com
.
Batas waktu 4 April 2008
.
good luck
.
God Bless Us
.
www.blog-hkbp.com

Rabu, 26 Maret 2008

HKBP Menteng Jakarta Berusia 52 Tahun

Sejak dulu, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, dikenal sebagai pemukiman elit. Di sana, ternyata telah lama hadir gereja etnik, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Gereja itu dikenal dengan nama HKBP Menteng atau HKBP Jalan Jambu. Usianya kini 52 tahun.
.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, HKBP Menteng berdiri tepat pada hari Minggu 25 September 1955. Para perintis Jemaat Persiapan Menteng saat itu mengadakan kebaktian pertama di gedung Adhuc Stat yang berarti "Di sini aku berdiri." Saat ini gedung tersebut menjadi kantor Bappenas, tepatnya di dekat Taman Suropati. Ibadah pertama itu kemudian dijadikan sebagai tanggal hari jadi resmi Jemaat Menteng - Jalan Jambu.
.
Peminjaman ruangan gedung tersebut untuk tempat ibadah kebaktian hanya hari Minggu saja, diajukan oleh pemuka warga kepada pemilik gedung, Pengurus Perhimpunan Theosofi, yang kebetulan kegiatannya telah "megap-megap" setelah berakhirnya Perang Dunia (PD) II. Acara kebaktian hanya dapat berlangsung pukul 10.00 pagi saja, karena harus lebih dahulu digunakan ibadah oleh jemaat Gereformeerd, warga Kristen Belanda yang tinggal di kawasan Menteng ketika itu.
.
Setidaknya ada dua peristiwa unik saat warga itu mulai kebaktian di gedung Adhuc Stat. Pertama, muncul beberapa komentar "minuer" warga persiapan jemaat ini yang mengatakan gedung itu tidak layak dijadikan tempat kebaktian dengan alasan gedung itu agak angker.
.
Ada kemungkinan klaim ini dilancarkan, mengingat gedung itu bekas tempat kegiatan ritual kaum Theosofi sehingga terkesan angker. Selain karena banyak dari anggotanya "dibabat" oleh tentara pendudukan Jepang, kesan Theosofi terhadap beberapa warga jemaat mungkin membuat mereka antipati. Bukankah organisasi itu adalah tempat berkumpul orang-orang yang lazim disebut sebagai para pemikir yang berhaluan vrijdenker (free thinker) alias orang yang tak mempunyai iman-ketuhanan?
.
Tentu saja para penggagas peribadatan Minggu Menteng pada mulanya tidak sampai berpikir tentang layak tidaknya bekas gedung Theosofi itu dipakai untuk kebaktian. Sampai-sampai mereka merasa perlu meminta advis kepada Pdt.Prof.Dr. Verkuyl dari STT Jakarta, serta memohon petunjuk. Teolog itu menegaskan bahwa sama sekali tidak ada salahnya menggunakan bekas gedung Theosofi untuk ibadah. Dan bukankah Gereja Gereformeerd, warga Belanda juga menggunakannya untuk tujuan yang sama? Dengan jawaban itu, jemaat mula-mula HKBP itu puas, dan meneruskan peribadatan di gedung Adhuc Stat.
.
Peristiwa kedua, datangnya utusan pengurus jemaat PKB, yang sudah mendapat tempat kebaktian di Jalan Jawa, Menteng, kepada Wakil Guru Huria, G.A. Siahaan, pada awal pembukaan Parmingguan (peribadatan) HKBP Menteng. Utusan itu adalah rekan-rekan Siahaan yang sudah bermukim di Menteng sejak awal kemerdekaan. Saran utusan itu, sebaiknya tidak dibuka "jemaat Batak-Kristen" yang lain di kawasan Menteng, mengingat PKB sudah mendirikan gereja di sana. Tentu saja usulan itu suatu cetusan hati yang terlalu "prinsip-prinsipan" tanpa mempertimbangkan faktor-faktor sosiologis lainnya. Seperti disajikan di muka, terbentuknya jemaat-jemaat yang memisahkan dari Batakmission (cikal bakal HKBP) seperti HChB, PKB, dan lain-lain sebagai akibat adanya anggapan terlalu otoriternya pimpinan Zending atau Batakmission yang pada gilirannya mengakibatkan kuatnya gejolak keinginan mandiri di kalangan beberapa warga.
.
Singkat cerita, kebaktian di gedung Adhuc Stat hanya berlangsung lima tahun, yakni sampai 25 September 1960. Alasan diakhirinya pemakaian gedung tersebut adalah, selain memang ada niat warga jemaat untuk membangun gereja sendiri (sebagaimana ditekadkan oleh oranng Batak Kristen), karena pada tanggal tersebut batas akhir penggunaan gedung itu yang diijinkan oleh pemerintah. Mulai saat itu pemerintah telah melarang kegiatan Theosofi di Indonesia, lalu mengambil alih kepemilikan gedung itu. Sebuah orgel ditinggalkan oleh jemaat Gereja Gereformeerd Belanda yang sebelumnya sama-sama menggunakan gedung untuk kebaktian, dihibahkan kepada jemaat HKBP Menteng.
.
Bulan Marturia
.
Seperti diuraikan Pdt Hotma TAP Pasaribu, MTh, Pendeta Resort HKBP Menteng, Jakarta, memasuki tahun 2008, pihak gereja HKBP Menteng telah mempunyai program Bulan Marturia, sebagai landasan kegiatan selama kurun tahun 2008.
.
Kami dan seluruh gereja HKBP di seluruh dunia, mempunyai program Bulan Marturia. Dimana pada tahun ini kami mempunyai fokus pelayanan pada hal penginjilan. Salah satunya melalui kegiatan penginjilan serta pemberian bantuan bagi masayarakat di Pulau enggano, Bengkulu," tutur pria kelahiran Medan 5 September 1961 ini.
.
Ternyata gereja yang mempunyai motto "Jadi Saluran Berkat Damai Sejahtera dan Sukacita Bagi Jemaat dan Masyarakat" ini memiliki keunikan tersendiri, dimana jemaatnya tersebar di seluruh wilayah Jabodetabek.
.
Seperti dikutip dari Laporan Tahunan HKBP Menteng tahun 2007, jumlah KK yang terdaftar sebanyak 1.283, yang tersebar di berbagai wilayah Guntur, Setiabudi, Manggarai, Saharjo, Menteng, Kebon Melati, Cikini, Kramat, Rawasari, Pal Meriam, Kayumanis, Jatinegara, Petojo, Tanah Abang, Pejompongan, Pluit, Jelambar, Tomang, Grogol, Slipi, Tebet Barat, Tebet Timur, Kebon Baru, Cempaka Putih, Kemayoran, Sumur Batu, Sunter, Kayu Putih, Rawamangun, Pondok Kelapa, Bekasi, Depok, Cimanggis, Mampang Prapatan, Pasar Minggu, Kramat Jati, Pasar Rebo, Cikoko, Kalibata, Tanjung Duren, Kebon Jeruk, Joglo, Pondok Indah, Lebak Bulus, Ciputat, Bintaro Ulujami, Tangerang dan Serpong.
.
Sumber :
Daniel Siahaan,
Tabloid Reformata Februari 2008

HKBP Karawang Siap Menjadi Resort

Sejak tahun 1973, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Kabupaten Karawang berupaya memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh umatnya (huria na), baik itu melalui pelayanan rohani (ibadah) maupun jasmani. Sebab, HKBP yang mayoritas memiliki jemaat halak hita (orang Batak) ini tidak menghendaki jemaatnya menjadi pengangguran.
.
Menurut Pdt A Nainggolan, STh, HKBP Kabupaten Karawang ini berdiri pada tanggal 2 September 1973. Kebaktian pertama dilaksanakan di rumah IM Damanik/br.Tampubolon di Jalan Raya Telukjambe. Kala itu, jemaat hanya berjumlah 20 kepala keluarga (KK).
.
Namun demikian, jumlah itu sudah tergolong banyak karena pada tahun itu jumlah orang Batak yang bermukim dan berdomisili di Kota Lumbung Padi ini masih tergolong sedikit.
.
Dengan senang hati, para jemaat ini melaksanakan acara kebaktian dari rumah ke rumah. Tetapi, acara kebaktian dengan sistem door to door ini tidak berlangsung lama. Sebab, berdasarkan kesepakatan bersama antar jemaat tersebut, Gedung Sekolah Teknik Menengah Negeri (STMN) 1 Karawang dipinjam selama satu tahun untuk digunakan sebagai tempat kebaktian.
.
Untuk lima tahun berikutnya, para jemaat berhasil meminjam Gedung SD Maranatha milik Gereja Pasundan, Kabupaten Karawang sebagai tempat kebaktian.
.
“Sejak kebaktian pertama, Jemaat HKBP Karawang sangat memiliki rasa kebersamaan yang cukup tinggi,” kata Pdt Nainggolan.
.
Tahun 1980, kerinduan jemaat HKBP Karawang untuk memiliki tempat ibadah (gereja) tetap akhirnya diberikan Tuhan. Tepatnya pada tanggal 6 April 1980 acara kebaktian pindah ke tempat ibadah tetap di Jalan Singadireja, Gang Mandala No.1 Karawang yang diberi nama Gereja HKBP Kabupaten Karawang.
.
Berdasarkan data statistik Gereja HKBP Karawang, hingga akhir tahun 2007 anggota Jemaat HKBP Kabupaten Karawang berjumlah 504 KK atau 2.779 jiwa yang tersebar di 30 kecamatan yang ada di Kabupaten Karawang. Akibatnya, pelayanan kerohanian secara otomatis berkembang dan secara resmi pos pelayanan dibuka di Kecamatan Rengasdengklok yang bertempat di rumah salah satu anggota jemaat.
.
Gereja HKBP Kabupaten Karawang ini telah berdiri selama 27 tahun. Dan sebagai legalitas peribadatan, pada tanggal 28 Januari 2008 HKBP Kabupaten Karawang mendapat izin prinsip Nomor: 503/361/Kesbang Linmas yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang.
.
“Pengurusan perizinan ini terus kita lakukan, sampai akhirnya diterbitkan oleh Bupati Karawang Drs H Dadang S Muchtar,” ujarnya.
.
Semakin hari, jemaat HKBP Karawang ini semakin bertambah dan berkembang. Berdasarkan perkembangan itu, jemaat HKBP ini pun menginginkan dibentuknya resort, karena selama ini HKBP Karawang menginduk ke Resort Purwakarta.
.
Dikatakan, pada tanggal 8-9 September 2007, HKBP Karawang diresmikan menjadi Resort Persiapan, yang langsung dipimpin oleh Praeses HKBP Distrik XVIII Wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta (Jabartengdiy), Pdt J Tambunan, STh.
.
Dan tepat pada hari Minggu (9/3), HKBP Karawang diresmikan menjadi HKBP Resort Karawang. Pesta syukuran peresmian HKBP ini juga dipimpin langsung oleh Praeses HKBP Distrik XVIII Wilayah Jabartengdiy, Pdt J Tambunan, STh.
.
Sumber : Harian Batak Pos, 8 Maret 2008

Sabtu, 23 Februari 2008

HKBP Maranatha Medan Gelar Ibadah Syukur, Malam Nada dan Dana

HKBP Maranatha Medan :
.
Gelar Ibadah Syukur, Malam Nada dan Dana
.
HKBP Maranatha Resort Maranatha Medan menggelar ibadah syukur dirangkaikan dengan malam nada dan dana. Acara yang merupakan wujud rasa syukur atas berkat Tuhan, diadakan Minggu 13 Januari 2008 di Grya Dome Medan.
.
Acara berlangsung penuh sukacita dan berakhir dengan sukses. Tampak hadir Sekjen HKBP Pdt. WTP Simarmata, MA dan Praeses Distrik Medan-Aceh Pdt. Midian KH Sirait, MTh.
.
Pendeta Resort HKBP Maranatha Pdt Halomoan Marpaung STh menyatakan gereja tersebut diresmikan 15 Februari 1976 dan akan memasuki usia yang ke-32 tahun pada Februari 2008 ini. Dikatakannya sejak awal 2007 lalu, sekitar 370 keluarga jemaat bersatu hati mengadakan pembenahan fisik gereja, pembangunan rumah dinas pendeta, dan memperbaiki rumah dinas bibelvrow serta pembangunan rohani jemaat.
.
Ibadah syukur serta malam nada dan dana mendapat respon dari jemaat dan undangan. Mereka menaruh hati dan pikirannya untuk pembangunan, sehingga acara berlangsung sukses. Tidak ketinggalan juga undangan menaruh perhatian atas pembangunan HKBP Maranatha yaitu AKBP Dra. Roslinda Sianturi, MM. Dia menyanyikan lagu "Poda ni Dainang" dan lagu Mandarin yang berhasil mengumpulkan dana Rp 29,9 juta.
.
Roslinda perwira polisi yang aktif di Sampali Medan, menerima buah kasih berupa ulos Batak yang langsung diuloskan oleh Sekjen HKBP Pdt WTP Simarmata MA dan Praeses.
.
Juga tampak menerima ulos Dr. Januari Siregar, SH, MH, Sobo Simangunsong, H. Marpaung, SH, dr. Simon Marpaung, B. Tarigan (GBKP), Juara Pangaribuan, Gongga Marpaung, SH dan, Victor Silaen.
.
Donatur yang berhalangan hadir juga memberikan bantuan dana. Panitia Mamaeakkon Batu Ojahan (MBO) S. Nainggolan tetap bergandengan dengan panitia malam nada dan dana yang diketuai HD Pasaribu.
.
Pembangunan yang hampir rampung tersebut direncanakan akan ditahbiskan Ephorus HKBP sekaligus dengan ibadah peletakan batu alas pada HUT ke-22 HKBP Maranatha Februari 2008 ini.
.
Grup penyanyi yang terlihat meramaikan acara antara lain Natama Trio dan Palambas Grup. Juga vokal solo, seperti Victor Pardede, AKBP Roslinda Sianturi MM, Januari Siregar, H.D. Pasaribu, serta penyanyi cilik Winda Siregar, Rince Simanjuntak (TVRI) Medan dan Pdt. Halomoan Marpaung, STh.

Kepedulian Jemaat HKBP Singapura Mengunjungi Bona Pasogit

HKBP Singapura :
.
Kepedulian Jemaat Mengunjungi Bona Pasogit
.
Jemaat gereja HKBP Singapura kembali mengunjungi Kabupaten Humbang Hasundutan. Kunjungan dilakukan Jumat 18 Januari 2008 lalu, merupakan yang ketiga kali. Mereka melihat secara langsung siswa-siswi yang telah menerima bantuan.
.
Menurut rencana bantuan akan disalurkan kembali April 2008 mendatang, sekaligus penambahan penerima beasiswa. Demikian dikatakan Pdt. Dr. Martonga Sitinjak (spiritual leader HKBP Singapura) didampingi St. R. Samosir, MBA, LLM.
.
Sebelumnya utusan jemaat HKBP Singapura menemui Bupati Humbahas Drs Maddin Sihombing, MSi. Mereka menyampaikan tujuan, sekaligus minta dukungan dan saran. Bupati menyampaikan ucapan terimakasih atas partisipasi membantu anak-anak sekolah yang mayoritas ekonominya lemah.
.
Bantuan yang diberikan bertujuan untuk memajukan Tapanuli lewat konsep pendidikan maju dan berkembang. Sejak enam bulan lalu telah membantu biaya pendidikan 30 anak SMP di Kabupaten Humbang Hasundutan. Penerima beasiswa diseleksi langsung melalui camat di lingkungan masing-masing.
.
Untuk lebih memotivasi, pada bulan Desember 2008 nanti, sebanyak 10 orang di antara penerima beasiswa akan dibawa ke Singapura. Tujuannya untuk melakukan orientasi, sebagai bahan perbandingan. Agar anak sekolah dari Tapanuli kelak dapat bersaing di kancah internasional.
.
St. R. Samosir menjelaskan, pemberian bantuan semata-mata karena kecintaan dan mempraktekkan kasih sayang kepada seluruh umat Kristen. Selain itu dia mengaku walaupun dirinya warga Singapura, tetapi darah dan kecintaan kepada Batak masih melekat dan tidak mungkin terlupakan.
.
Martonga Sitinjak mengungkapkan, gereja menyadari bahwa pendidikan yang layak bukan hanya milik yang kaya. Tetapi juga ekonomi lemah perlu diberikan dukungan nyata, agar dapat mengejar ketinggalan. "Orang Kristen Batak di Singapura mendoakan agar Bona Pasogit terus terbantgun dalam kasih Tuhan. Untuk diajak supaya anak sekolah bergaul dengan firman Tuhan, "tambahnya.
.
Sumber : Dalihan na Tolu

Jumat, 15 Februari 2008

Setelah "Tempo " Terbit

Setelah Tempo edisi 4-10 Februari 2008 terbit, yang memuat gambar Soeharto dan anak-anaknya mirip adegan The Last Supper, majalah dengan slogan "Enak Dibaca dan Perlu" itu kontan menuai reaksi.
.
Perwakilan organisasi Katolik, bukan hirarki gereja, mendatangi majalah yang berkantor di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat itu. Mereka bukan memrotes, tapi meminta penjelasan. Apa motivasi di balik kerja bareng awak majalah yang telah berkali-kali mendapat peringatan, bahkan pernah dibredel itu?
.
Sampul depan Tempo yang menghebohkan itu mirip lukisan The Last Supper atau Jamuan Makan Malam Terakhir karya Leonardo da Vinci, yang melukiskan Yesus berada di tengah meja makan, dikelilingi murid-murid-Nya. Pada saat itulah, Yesus memberikan wejangan terakhir kepada para murid, bahwa kelak, setelah Ia pergi dari dunia ini, mereka harus saling menyinta dan tolong-menolong. Wasiat Yesus pada last supper itulah yang kemudian melahirkan hukum tertinggi bagi orang Kristen: cinta kasih. Slogan Tempo sendiri sebenarnya bagus. Jika saja menjadi napas, dan semangat corporate culture setiap insan yang bekerja di sana, betapa indahnya. Sebab, itulah yang dikehendaki dari setiap media dan jurnalis. Seperti diperingatkan Horatius, pujangga Romawi kuno, bahwa setiap penulis adalah guru moral. Dan media, termasuk media cetak, akhirnya bermuara hanya pada dua ihwal: dulce (indah) dan utile (berguna). Persis slogan Tempo, "Enak Dibaca dan Perlu".
.
Sayangnya, ketika sidang menentukan akan seperti apakah sampul edisi 4-10 Februari, Tempo telah khilaf pada aspek utile (perlu). Pertimbangan pasar agaknya lebih dikedepankan. Hal ini terbukti dari pernyataan mewakili lembaga, bahwa "...Kami minta maaf, namun tidak akan menarik majalah edisi the last supper dari peredaran."
.
Terus terang, Tempo memang enak dibaca. Gaya jurnalismenya yang sastrawi, sering saya pakai sebagai contoh di ruang kuliah. Tulisan ini tak hendak memihak atau menghakimi salah satu pihak. Sekadar memaparkan persoalan, bahwa dalam kerja jurnalistik, ada yang disebut sense of audience, atau nalar khalayak, yang perlu diperhatikan seorang jurnalis. Seorang wartawan boleh pintar dan ini baik. Namun, seorang yang pintar namun tidak bermoral, akan menjadi perusak yang hebat.
.
Ada apa dengan awak Tempo, sehingga dalam edisi The Last Supper alpa mempertimbangkan nalar khalayak? Barangkali pertimbangannya hanya parodi. Barangkali pertimbangannya untuk mendongkrak oplah. Dan sejumlah "barangkali" yang lain. Hanya awak Tempo yang mafhum semua pertimbangan itu!
.
Pengujung tahun 1970-an, ketika waktu itu Tempo satu-satunya majalah berita mingguan terdepan di negeri ini, para wartawan bidang agama telah mencetuskan "10 Pedoman Penulisan Bidang Agama".
.
Pedoman butir 3 "Wartawan menyadari dalam menyajikan tulisan, berita, ulasan dalam bidang agama harus memiliki nalar khalayak (sense of audience) yang tepat, agar mengetahui betul lapisan masyarakat mana yang menjadi sasaran tulisan."
.
Sedangkan butir 4 menyatakan, "Wartawan menyadari bahwa mempersoalkan masalah yang menyangkut khilafiyah, yaitu masalah-masalah yang dapat menimbulkan perbedaan pendapat di bidang agama dapat mengganggu kerukunan intern umat beragama, karena itu harus dijauhi dalam tulisannya."
.
Kita tidak tahu persis, apakah awak Tempo yang urun rembuk menentukan sampul The Last Supper sudah lahir tahun 1970-an? Ataukah mereka sama sekali tidak pernah dibekali pengetahuan tentang kesepuluh pedoman itu? Jika tidak, dan mereka bukan lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi yang sudah kuliah etika dan filsafat Ilmu Komunikasi, maka kurikulum pelatihan wartawan pemula hendaknya memasukkan etika dan Kode Etik Jurnalistik. Khusus untuk wartawan bidang agama, diberikan lebih mendalam mengenai psychographics and demographic proximity yang wajib memperhatikan check ability serta 10 Pedoman Penulisan bidang Agama. Jika ini dilakukan, niscaya dalam menjalankan kerja jurnalistik, wartawan tidak akan terjerembab melakukan kesalahan fatal yang menyangkut agama. Wartawan akan terasah dan senantiasa bekerja dibimbing sense of audience!
.
Atas Nama Seni
.
Persoalannya kemudian ialah, apakah bisa seni dijadikan alasan modifikasi mahakarya seni The Last Supper? Bisakah lukisan Leonardo da Vinci, berdiri sendiri, semata-mata benda profan?
.
Tidak! Di sini tidak bisa dipisahkan antara isi (objek lukisan/pesan) dan media (lukisan, cat, dan kanvas). Memang lukisan itu karya tangan manusia, namun ia adalah simbol kesakralan bagi umat Kristen. Objeknya yang sakral, lalu disandingkan dengan ihwal yang profan. Di sinilah sentimentalitas keagamaan itu muncul!
.
Di situ pula parodi itu terjadi, seperti diakui Tempo, dan mereka menganggapnya tidak apa-apa. Padahal, mustahil antara lukisan sebagai karya seni berdiri sendiri, lepas dari objeknya.
.
Kedalaman makna karya Da Vinci inilah yang mungkin tidak dipahami. Padahal, bagi orang Kristen, jamuan makan malam terakhir sangat dalam maknanya. Seperti diperingati dan diperagakan pada tiap malam Kamis Putih dalam upacara pembasuhan kaki, pesan penting The Last Supper adalah, supaya tiap orang saling melayani. "Yang besar di antara kamu ialah dia yang menjadi pelayan", demikian pesan terakhir Yesus, sebelum Ia pergi.
.
Sungguh dalam hikmah di balik pesan terakhir itu! Pelayan adalah orang besar. Akal manusia tidak dapat menyelaminya dengan mudah. Tapi, jika ditelisik, benar kata-kata itu. Ambil contoh dalam dunia olahraga dan bisnis. Bukankah orang yang paling banyak melayani, dialah yang menang? Bulutangkis, misalnya, pemain yang banyak melakukan servis (melayani), dia menang. Demikian pula dalam bisnis. Yang berhasil memuaskan pelanggan, dia akan menerima imbalannya.
.
Kini, banyak pesan terakhir pada The Last Supper itu diadaptasi di dunia bisnis dan kepemimpinan. Beredar banyak buku tentang pemimpin yang melayani atau perusahaan yang melayani (pelanggan). Itulah sebabnya, pesan terakhir Yesus kepada para murid lalu dianggap wasiat oleh orang Kristen. Dan lazimnya setiap wasiat, ia akan terus terngiang. Karenanya, dianggap keramat, dan hanya patut diucap dan dibicarakan penuh khidmat, sambil merunduk hormat.
.
Maka melihat sampul Tempo, kita jadi mengerti, mengapa hati sebagian orang jadi miris. Masak iya, Yesus disamakan dengan Soeharto? Emangnya, junjungan kami hanya didudukkan sama rendah dengan manusia biasa? Inilah yang menusuk hati sebagian orang Kristen, sehingga mereka melakukan dialog dan menanyakan duduk perkaranya ke Tempo.
.
Itu pula yang mendorong sejumlah orang Kristen (bukan hirarki gereja), yakni perwakilan dari Forum Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik RI, Forum Masyarakat Katolik Indonesia, Solidaritas Masyarakat Katolik RI, Perhimpunan Mahasiswa Katolik, Pemuda Katolik, Tim Pembela Kebebasan Beragama, dan Wanita Katolik RI datang ke kantor dan berdialog dengan Tempo. Mereka menanyakan dan ingin mendapat klarifikasi, mengapa Tempo berbuat demikian?
.
Dalam dialog, pimpinan Tempo telah meminta maaf dan mengatakan, pemuatan gambar itu tidak hendak menyinggung siapa pun. Maksud memang tidak menyinggung, tapi faktanya, ada yang tersinggung. Di sini kita masuk pada debat filsafat etika, maksud yang baik harus ditunjukkan dengan cara-cara dan hasil yang baik pula.
.
Senada dengan ini, misalnya, bisakah kita mengatakan waktu hendak mencemplungkan orang ke dasar laut, "Maksud saya kamu tidak mati, hanya bercanda biar Anda bermain-main dengan ombak!" Nyatanya, orang yang kita cemplungkan itu merasa takut dan sakit, dan perlahan-lahan, hingga akhirnya, mati lemas.
.
Setelah edisi The Last Supper terbit, cukupkah Tempo hanya meminta maaf? Selama hampir dua jam perwakilan umat Katolik yang mendatangi kantor Tempo, berdialog dengan jajaran pimpinannya. Dari Tempo, hadir Pemimpin Redaksi Toriq Hadad, Redaktur Eksekutif Wahyu Muryadi, Redaktur Senior Fikri Jufri, dan awak redaksi lainnya. Kedua pihak, yang merugikan dan merasa dirugikan, berdialog.
.
Yang menarik, "Kami hanya mengambil inspirasi dari sebuah gambar yang dilukis Leonardo Da Vinci... Perbedaan tafsir ini kami hormati dan saya sebagai pemimpin Majalah Tempo mohon maaf apabila gambar ini dianggap menistakan umat Kristiani," ujar Toriq Hadad.
.
Agaknya, Tempo tahu betul "kelemahan" orang Kristen dan cerdik memanfaatkannya. No violent, bahkan memaafkan.
.
Tapi, bagaimanapun ini preseden! Jika nanti ada media yang berbuat hal yang sama, cukuplah seperti yang Tempo lakukan. Minta maaf dan persoalan selesai. Tinggal mengatakan, "Kita beda tafsir!"
.
Sumber:
R Masri Sareb Putra
Penulis adalah mantan wartawan, kini dosen mata kuliah Teknik Menulis Berita dan Feature dan Etika Jurnalistik, tinggal di Jakarta
Harian Suara Pembaruan, Jum'at, 15 Februari 2008

Kamis, 07 Februari 2008

Poso-poso

KELAHIRAN ANAK adalah suatu even yang sangat ditunggu-tunggu suatu keluarga. Apalagi bagi komunitas Batak yang menganggap kesuburan (hagabeon) cenderung sebagai nilai tertinggi dalam hidup, tentu saja kelahiran anak adalah peristiwa yang luar biasa membanggakan dan membahagiakan. Itulah sebabnya jaman dahulu di Tanah Batak bila suatu anak lahir (dahulu tentunya di rumah sendiri dengan bantuan bidan atau sibaso, bukan di RS) maka ayah si anak akan segera membelah kayu secara demonstratif, walaupun tengah malam, di depan rumahnya dengan menimbulkan suara keras. Jendela rumah pun dibuka lebar-lebar dan asap pun membubung dari perapian dapur. Inilah suatu tanda kepada segenap penghuni kampung telah terjadi kelahiran atau kehidupan baru.
.
1. MANGALLANG HAROAN atau MANGALLANG ESEK-ESEK
.
Keluarga yang mendapat anak pun secara spontan segera memotong ayam dan memasak nasi kemudian mengetok pintu rumah para tetangga sekaligus kerabat walau tengah malam atau dinihari mengundang makan. Ibu-ibu se kampung pun spontan berdatangan bersama anak-anak. Inilah yang dinamakan mangallang haroan atau mangharoani (menikmati makanan kedatangan). Di daerah Silindung disebut mangallang indahan esek-esek. Jamuan ini bersifat sangat spontan dan seadanya. Jika tidak ada ayam di kandang maka sayur labu siam dan ikan asin pun jadi. Sebab itu mangharoani benar-benar suatu pesta ungkapan sukacita yang spontan dan tulus dari suatu komunitas yang saling mengasihi atas kehidupan baru. Sementara itu di luar selama tiga malam para bapak mandungoi (bergadang) atau “melek-melekan” sambil bercengkerama dan “berjudi” sesamanya untuk menjaga si bayi dan ibunya dari kemungkinan ancaman kepada si bayi dan ibunya. Beberapa hari kemudian orangtua si perempuan (ompung bao) pun dan kerabat yang lain datang membawa aek ni unte (harafiah air asam) yaitu sejenis makanan sayuran bangun-bangun yang diberi asam dan disantan dengan campuran daging ayam untuk memulihkan raga ibu si anak dan menderaskan ASI. Selain jamuan spontan mangharoani, di Toba dikenal juga tradisi mangambit atau marambit (harafiah: menggendong), jamuan resmi yang diadakan keluarga untuk menyambut kelahiran si bayi dengan memotong babi. Pada kesempatan inilah keluarga dapat menyampaikan permohonan kepada ompungbao (ompung dari pihak perempuan) agar menghadiahkan sepetak tanah yang disebut sebagai indahan arian (makan siang) kepada cucunya atau seekor kerbau/ lembu yang disebut batu ni ansimun (biji ketimun, yang dapat berkembang-biak). Namun berhubung tanah yang dapat dibagi-bagikan semakin lama semakin sempit, maka tradisi mangambit ini berangsur hilang.
.
2. MANUTU AEK dohot MANGALAP GOAR
.
Sesudah beberapa minggu keluarga yang mendapat anak akan menentukan hari (maniti ari) untuk membawa anak yang baru lahir itu pertama kali ke mata air keramat atau homban (biasanya setiap kampung memiliki mata air keramat di tengah sawah) dipimpin oleh seorang dukun (datu). Inilah yang dinamakan upacara manutu aek. Melalui ritus ini keluarga menyampaikan persembahan kepada dewa-dewa terutama dewi air Boru Saniang Naga yang merupakan representasi kuasa Mulajadi na Bolon dan roh-roh leluhur untuk menyucikan si bayi dan menjauhkannya dari kuasa-kuasa jahat. Juga sekaligus meminta agar semakin banyak bayi yang dilahirkan (gabe). Acara ini dilanjutkan dengan memberikan nama atau mambahen goar kepada si bayi, yang juga dengan meminta rekomendasi dukun (datu). Bila dukun mengatakan nama itu tidak berakibat baik kepada si anak, maka orangtuanya pun akan mengganti nama itu. Beberapa umpasa yang sering diucapkan:
.
Dangka ni bulu godang pinangait-aithon.
Sai simbur magodang ma ibana dao ma panahit-nahiton.
.
Ijuk ma tarup ni sopo godang basbason tarup ni sopo balian.
Sai simbur ma ibana magodang pengpeng laho matua jala dao ma parsahitan.
.
Bagi kita komunitas Kristen-Batak jelas acara manutu aek bertentangan dengan iman kristiani kita sebab itu harus ditinggalkan. Begitu juga upacara mamampe goar (memberi nama) yang melibatkan dukun (datu). Kita percaya hanya darah Kristus sajalah yang dapat membersihkan dan menyucikan kita dari dosa dan kejahatan, dan melindungi kita dari segala bahaya. Upacara manutu aek dan mangalap goar biasanya dilanjutkan dengan membawa si bayi ke pekan (maronan, mebang). Kita tahu pada jaman dahulu pekan atau pasar (onan) terjadi satu kali seminggu. Onan adalah simbol pusat kehidupan dan keramaian, sekaligus simbol kedamaian. Ke sanalah orangtua si bayi membawa anak yang baru lahir itu. Orangtua si bayi sengaja membeli lepat (lapet) atau pisang di pasar dan membagi-bagikan kepada orang yang dikenalnya sebagai tanda syukur dan sukacitanya. Sebaliknya kerabat yang menjumpainya juga membekali si bayi dengan oleh-oleh kecil. Bagi kita komunitas Batak-Kristen moderen yang paling penting adalah menangkap makna atau nilai yang terkandung di dalam tradisi maronan atau mebang ini
yaitu: memperkenalkan dan membawa anak masuk kepada realitas atau dunia sekitarnya.
.
3. MEBAT atau MANGEBATI
.
Sesudah anak cukup kuat untuk dibawa berjalan-jalan maka keluarga pun memilih hari untuk membawanya untuk mengunjungi atau melawat (mebat, mangebati) kepada ompungnya (terutama ompung bao) dan keluarga lain seperti tulang. Keluarga ini pun membawa makanan (baca: memotong seekor babi) kepada ompung si bayi. Pada kesempatan ini ompungbao dapat memberikan ulos parompa (ulos kecil untuk menggendong atau mendukung anak bayi). Bagi kita komunitas Kristen-Batak moderen tradisi mebat (melawat) ini tentu juga baik untuk dipertahankan. Sebab makna yang terkandung dalam tradisi mebat ini adalah mendekatkan si anak secara emosional kepada kerabatnya, terutama ompungbao dan tulangnya.
.
4. PAIAS RERE
.
Ada kalanya suatu keluarga muda tinggal di rumah atau kampung mertuanya dan melahirkan anak di sana. Ada kebiasaan pada jaman dahulu, keluarga mengadakan jamuan paias rere (membersihkan tikar) untuk mertuanya sebagai tanda terima kasih atas kerepotan mertua mengurus bayi yang baru lahir. Bagi keluarga Kristen-Batak moderen yang menganut kesetaraan laki-laki dan perempuan, tentu saja adat paias rere ini harus dikritisi dan diberi makna baru hanya sebagai ucapan terima kasih. Sebab bagi kita anak laki-laki dan perempuan sama dan setara.
.
5. ULOS PAROMPA
.
Ulos parompa adalah ulos yang diberikan oleh ompung bao kepada cucunya. Pada jaman dahulu ulos kecil ini memang benar-benar fungsional atau digunakan untuk menggendong (mangompa) si bayi sehari-hari. Namun sekarang dalam prakteknya ulos parompa tinggal merupakan simbol kasih ompung bao sebab komunitas Batak moderen sudah menggunakan tempat tidur bayi, kain panjang batik, gendongan dan ayunan untuk menggendong bayi.
.
Ada kebiasaan komunitas Batak sekarang terutama di kota-kota untuk mengobral ulos parompa. Bukan hanya ompung bao, tetapi seolah-olah semua hula-hula harus memberikan ulos parompa kepada bayi yang baru lahir. Obral ulos ini hanya mengurangi makna ulos parompa.
.
7. PANDIDION NA BADIA
.
Inilah isi Pengakuan Iman (Konfessi) HKBP tentang baptisan kudus:
.
Kita percaya dan menyaksikan : Baptisan kudus adalah perantaraan anugerah Allah kepada manusia, sebab melalui baptisan orang percaya menerima keampunan dosa, kelahiran kembali, kelepasan dari maut dan kuasa iblis, serta hidup yang kekal. Dengan ajaran ini kita menyaksikan: anak kecil pun harus dibaptiskan karena dengan pembabtisan itu mereka juga masuk ke dalam persekutuan orang-orang yang ditebus oleh Yesus. Ini juga berhubungan dengan pembekatan anak-anak oleh Tuhan Yesus. (Kis 2:41, 10:48, 16:33, Roma 6:4, I Kor 10:4, Titus 3:5, Ibrani 11:29, I Pet 3:21).
.
Dengan penjelasan di atas jelaslah bagi kita bahwa Pandidion na Badia (baptisan kudus) berbeda sama sekali dengan tradisi manutu aek dan mamampe goar. Baptisan adalah sakramen yang menjadikan seorang anak masuk ke dalam Kerajaan Allah, pewaris segala berkat, dan keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Pemberian nama adalah hak dan urusan orangtua si bayi. Sebab itu baptisan bukanlah “mengambil nama” (mangalap goar) dari gereja. Gereja membabtiskan si bayi untuk masuk Kerajaan Allah bukan memberikan nama si bayi. Nama bisa saja berganti. Namun babtisan tetap sekali untuk selamanya.
.
Dalam Roma 6:4 melalui pandidion na badia atau baptisan kita dijadikan satu atau sepokok (sanghambona) dengan Kristus yang mati (bagi dosa) dan Kristus yang bangkit (hidup bagi Allah). Sebab itu dasar baptisan adalah mempersatukan orang percaya dengan kematian dan kehidupan Kristus. Sebab itu sama seperti kematian Kristus, babtisan itu pun bagi kita hanya terjadi sekali untuk selama-lamanya. Sebagai orang-orang Kristen-Batak sebaiknya kita tidak mencampur-adukkan atau menggabung Baptisan Kudus (Pandidion na Badia) dengan adat Batak (mebat, memberikan ulos parompa, dll). Baptisan itu adalah peristiwa yang sungguh besar dan mulia bagi orang beriman yang tidak dapat lagi ditambah-tambah dengan makna yang lain. Melalui baptisan seorang pindah dari kematian kepada kehidupan, dari perhambaan dosa kepada Kerajaan Allah. Jika komunitas Kristen-Batak ingin menyampaikan kasih kepada anak atau penghormatan kepada orangtua sebaiknya dilakukan di kesempatan lain.
.
Kita harus mengatakan dengan berani, jujur dan penuh kesantunan bahwa kegiatan-kegiatan adat yang dilakukan komunitas Kristen-Batak yang dilakukan di rumah persis sesudah acara Babtisan Kudus sangat merugikan makna baptisan sebagai sakramen, yang merupakan sarana keselamatan, hidup baru, pengampunan dan pewarisan Kerajaan Allah.
.
Oleh: Daniel T.A. Harahap
Google Search Engine
Google
·

Guestbook of HKBP

·
·


Visitor Map