·
Tampilkan postingan dengan label Batak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Batak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Februari 2008

Poso-poso

KELAHIRAN ANAK adalah suatu even yang sangat ditunggu-tunggu suatu keluarga. Apalagi bagi komunitas Batak yang menganggap kesuburan (hagabeon) cenderung sebagai nilai tertinggi dalam hidup, tentu saja kelahiran anak adalah peristiwa yang luar biasa membanggakan dan membahagiakan. Itulah sebabnya jaman dahulu di Tanah Batak bila suatu anak lahir (dahulu tentunya di rumah sendiri dengan bantuan bidan atau sibaso, bukan di RS) maka ayah si anak akan segera membelah kayu secara demonstratif, walaupun tengah malam, di depan rumahnya dengan menimbulkan suara keras. Jendela rumah pun dibuka lebar-lebar dan asap pun membubung dari perapian dapur. Inilah suatu tanda kepada segenap penghuni kampung telah terjadi kelahiran atau kehidupan baru.
.
1. MANGALLANG HAROAN atau MANGALLANG ESEK-ESEK
.
Keluarga yang mendapat anak pun secara spontan segera memotong ayam dan memasak nasi kemudian mengetok pintu rumah para tetangga sekaligus kerabat walau tengah malam atau dinihari mengundang makan. Ibu-ibu se kampung pun spontan berdatangan bersama anak-anak. Inilah yang dinamakan mangallang haroan atau mangharoani (menikmati makanan kedatangan). Di daerah Silindung disebut mangallang indahan esek-esek. Jamuan ini bersifat sangat spontan dan seadanya. Jika tidak ada ayam di kandang maka sayur labu siam dan ikan asin pun jadi. Sebab itu mangharoani benar-benar suatu pesta ungkapan sukacita yang spontan dan tulus dari suatu komunitas yang saling mengasihi atas kehidupan baru. Sementara itu di luar selama tiga malam para bapak mandungoi (bergadang) atau “melek-melekan” sambil bercengkerama dan “berjudi” sesamanya untuk menjaga si bayi dan ibunya dari kemungkinan ancaman kepada si bayi dan ibunya. Beberapa hari kemudian orangtua si perempuan (ompung bao) pun dan kerabat yang lain datang membawa aek ni unte (harafiah air asam) yaitu sejenis makanan sayuran bangun-bangun yang diberi asam dan disantan dengan campuran daging ayam untuk memulihkan raga ibu si anak dan menderaskan ASI. Selain jamuan spontan mangharoani, di Toba dikenal juga tradisi mangambit atau marambit (harafiah: menggendong), jamuan resmi yang diadakan keluarga untuk menyambut kelahiran si bayi dengan memotong babi. Pada kesempatan inilah keluarga dapat menyampaikan permohonan kepada ompungbao (ompung dari pihak perempuan) agar menghadiahkan sepetak tanah yang disebut sebagai indahan arian (makan siang) kepada cucunya atau seekor kerbau/ lembu yang disebut batu ni ansimun (biji ketimun, yang dapat berkembang-biak). Namun berhubung tanah yang dapat dibagi-bagikan semakin lama semakin sempit, maka tradisi mangambit ini berangsur hilang.
.
2. MANUTU AEK dohot MANGALAP GOAR
.
Sesudah beberapa minggu keluarga yang mendapat anak akan menentukan hari (maniti ari) untuk membawa anak yang baru lahir itu pertama kali ke mata air keramat atau homban (biasanya setiap kampung memiliki mata air keramat di tengah sawah) dipimpin oleh seorang dukun (datu). Inilah yang dinamakan upacara manutu aek. Melalui ritus ini keluarga menyampaikan persembahan kepada dewa-dewa terutama dewi air Boru Saniang Naga yang merupakan representasi kuasa Mulajadi na Bolon dan roh-roh leluhur untuk menyucikan si bayi dan menjauhkannya dari kuasa-kuasa jahat. Juga sekaligus meminta agar semakin banyak bayi yang dilahirkan (gabe). Acara ini dilanjutkan dengan memberikan nama atau mambahen goar kepada si bayi, yang juga dengan meminta rekomendasi dukun (datu). Bila dukun mengatakan nama itu tidak berakibat baik kepada si anak, maka orangtuanya pun akan mengganti nama itu. Beberapa umpasa yang sering diucapkan:
.
Dangka ni bulu godang pinangait-aithon.
Sai simbur magodang ma ibana dao ma panahit-nahiton.
.
Ijuk ma tarup ni sopo godang basbason tarup ni sopo balian.
Sai simbur ma ibana magodang pengpeng laho matua jala dao ma parsahitan.
.
Bagi kita komunitas Kristen-Batak jelas acara manutu aek bertentangan dengan iman kristiani kita sebab itu harus ditinggalkan. Begitu juga upacara mamampe goar (memberi nama) yang melibatkan dukun (datu). Kita percaya hanya darah Kristus sajalah yang dapat membersihkan dan menyucikan kita dari dosa dan kejahatan, dan melindungi kita dari segala bahaya. Upacara manutu aek dan mangalap goar biasanya dilanjutkan dengan membawa si bayi ke pekan (maronan, mebang). Kita tahu pada jaman dahulu pekan atau pasar (onan) terjadi satu kali seminggu. Onan adalah simbol pusat kehidupan dan keramaian, sekaligus simbol kedamaian. Ke sanalah orangtua si bayi membawa anak yang baru lahir itu. Orangtua si bayi sengaja membeli lepat (lapet) atau pisang di pasar dan membagi-bagikan kepada orang yang dikenalnya sebagai tanda syukur dan sukacitanya. Sebaliknya kerabat yang menjumpainya juga membekali si bayi dengan oleh-oleh kecil. Bagi kita komunitas Batak-Kristen moderen yang paling penting adalah menangkap makna atau nilai yang terkandung di dalam tradisi maronan atau mebang ini
yaitu: memperkenalkan dan membawa anak masuk kepada realitas atau dunia sekitarnya.
.
3. MEBAT atau MANGEBATI
.
Sesudah anak cukup kuat untuk dibawa berjalan-jalan maka keluarga pun memilih hari untuk membawanya untuk mengunjungi atau melawat (mebat, mangebati) kepada ompungnya (terutama ompung bao) dan keluarga lain seperti tulang. Keluarga ini pun membawa makanan (baca: memotong seekor babi) kepada ompung si bayi. Pada kesempatan ini ompungbao dapat memberikan ulos parompa (ulos kecil untuk menggendong atau mendukung anak bayi). Bagi kita komunitas Kristen-Batak moderen tradisi mebat (melawat) ini tentu juga baik untuk dipertahankan. Sebab makna yang terkandung dalam tradisi mebat ini adalah mendekatkan si anak secara emosional kepada kerabatnya, terutama ompungbao dan tulangnya.
.
4. PAIAS RERE
.
Ada kalanya suatu keluarga muda tinggal di rumah atau kampung mertuanya dan melahirkan anak di sana. Ada kebiasaan pada jaman dahulu, keluarga mengadakan jamuan paias rere (membersihkan tikar) untuk mertuanya sebagai tanda terima kasih atas kerepotan mertua mengurus bayi yang baru lahir. Bagi keluarga Kristen-Batak moderen yang menganut kesetaraan laki-laki dan perempuan, tentu saja adat paias rere ini harus dikritisi dan diberi makna baru hanya sebagai ucapan terima kasih. Sebab bagi kita anak laki-laki dan perempuan sama dan setara.
.
5. ULOS PAROMPA
.
Ulos parompa adalah ulos yang diberikan oleh ompung bao kepada cucunya. Pada jaman dahulu ulos kecil ini memang benar-benar fungsional atau digunakan untuk menggendong (mangompa) si bayi sehari-hari. Namun sekarang dalam prakteknya ulos parompa tinggal merupakan simbol kasih ompung bao sebab komunitas Batak moderen sudah menggunakan tempat tidur bayi, kain panjang batik, gendongan dan ayunan untuk menggendong bayi.
.
Ada kebiasaan komunitas Batak sekarang terutama di kota-kota untuk mengobral ulos parompa. Bukan hanya ompung bao, tetapi seolah-olah semua hula-hula harus memberikan ulos parompa kepada bayi yang baru lahir. Obral ulos ini hanya mengurangi makna ulos parompa.
.
7. PANDIDION NA BADIA
.
Inilah isi Pengakuan Iman (Konfessi) HKBP tentang baptisan kudus:
.
Kita percaya dan menyaksikan : Baptisan kudus adalah perantaraan anugerah Allah kepada manusia, sebab melalui baptisan orang percaya menerima keampunan dosa, kelahiran kembali, kelepasan dari maut dan kuasa iblis, serta hidup yang kekal. Dengan ajaran ini kita menyaksikan: anak kecil pun harus dibaptiskan karena dengan pembabtisan itu mereka juga masuk ke dalam persekutuan orang-orang yang ditebus oleh Yesus. Ini juga berhubungan dengan pembekatan anak-anak oleh Tuhan Yesus. (Kis 2:41, 10:48, 16:33, Roma 6:4, I Kor 10:4, Titus 3:5, Ibrani 11:29, I Pet 3:21).
.
Dengan penjelasan di atas jelaslah bagi kita bahwa Pandidion na Badia (baptisan kudus) berbeda sama sekali dengan tradisi manutu aek dan mamampe goar. Baptisan adalah sakramen yang menjadikan seorang anak masuk ke dalam Kerajaan Allah, pewaris segala berkat, dan keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Pemberian nama adalah hak dan urusan orangtua si bayi. Sebab itu baptisan bukanlah “mengambil nama” (mangalap goar) dari gereja. Gereja membabtiskan si bayi untuk masuk Kerajaan Allah bukan memberikan nama si bayi. Nama bisa saja berganti. Namun babtisan tetap sekali untuk selamanya.
.
Dalam Roma 6:4 melalui pandidion na badia atau baptisan kita dijadikan satu atau sepokok (sanghambona) dengan Kristus yang mati (bagi dosa) dan Kristus yang bangkit (hidup bagi Allah). Sebab itu dasar baptisan adalah mempersatukan orang percaya dengan kematian dan kehidupan Kristus. Sebab itu sama seperti kematian Kristus, babtisan itu pun bagi kita hanya terjadi sekali untuk selama-lamanya. Sebagai orang-orang Kristen-Batak sebaiknya kita tidak mencampur-adukkan atau menggabung Baptisan Kudus (Pandidion na Badia) dengan adat Batak (mebat, memberikan ulos parompa, dll). Baptisan itu adalah peristiwa yang sungguh besar dan mulia bagi orang beriman yang tidak dapat lagi ditambah-tambah dengan makna yang lain. Melalui baptisan seorang pindah dari kematian kepada kehidupan, dari perhambaan dosa kepada Kerajaan Allah. Jika komunitas Kristen-Batak ingin menyampaikan kasih kepada anak atau penghormatan kepada orangtua sebaiknya dilakukan di kesempatan lain.
.
Kita harus mengatakan dengan berani, jujur dan penuh kesantunan bahwa kegiatan-kegiatan adat yang dilakukan komunitas Kristen-Batak yang dilakukan di rumah persis sesudah acara Babtisan Kudus sangat merugikan makna baptisan sebagai sakramen, yang merupakan sarana keselamatan, hidup baru, pengampunan dan pewarisan Kerajaan Allah.
.
Oleh: Daniel T.A. Harahap

Rap Marsipanganon

MAKAN BERSAMA (rap marsipanganon) sangat penting dan bermakna khusus bagi komunitas Batak. Tidak ada suatu pembahasan atau kegiatan penting yang boleh dilakukan sebelum makan bersama. Ingkon di ginjang ni sipanganon do pangahataion na marsintuhu. (percakapan penting harus dilakukan sesudah makan). Seperjamuan atau sapanganon adalah tanda persekutuan, kebersamaan dan perdamaian, jadi bukan sekadar aktifitas mengenyangkan perut saja.
.
Ada bermacam bentuk makan bersama dalam kultur Batak. Ada tradisi mamboan sipanganon (membawa makanan ke rumah seseorang) dan ada pula mamio (mengundang orang datang untuk makan), memberi makan pihak “atas” (manulangi) dan atau pihak “bawah” (mangupa), memberi makan dalam rangka meminta sesuatu dan ada juga hanya untuk mentraktir (manggalang), makan merayakan sukacita (mangan haroan, mamoholi, pesta unjuk) atau menghayati kedukaan (mangan indahan sipaet-paet/ togar-togar).
.
Kultur Batak secara umum menyebutkan makan sebagai mangan indahan na las (makan nasi hangat) dan manginum aek sitio-tio (minum air bening). Indahan na las dohot aek sitio-tio adalah simbol kehidupan penuh sukacita dan kejujuran. Makan bersama sebab itu bertujuan merayakan kehidupan dan kebenaran.
.
Menarik, bahwa bahasa Batak sama-sama menggunakan kata las untuk menyebutkan hangat maupun sukacita. Kata tio berarti bening, digunakan untuk air maupun pandangan juga niat hati. Air yang bening adalah simbol transparansi, kejujuran dan ketulusan yang sangat dijunjung tinggi dan dihargai oleh kultur Batak.
.
1. TUDU-TUDU SIPANGANON
.
Tudu-tudu sipanganon yang arti harafiahnya penanda perjamuan (bila dalam keadaan lengkap disebut na margoar atau bagian-bagian hewan yang diberi nama sesuai dengan yang berhak menerimanya dalam parjambaran atau pembagian daging hewan) adalah bagian-bagian tertentu hewan sembelihan yang diletakkan di tengah-tengah sebagai simbol penghormatan hasuhutan kepada undangannya khususnya hula-hula. Maksudnya: untuk menjamu hula-hula pihak tuan rumah tidak membeli daging kiloan (rambingan) tetapi rela mengorbankan nyawa satu ekor hewan. Sebagai balasnya hula-hula akan memberikan ikan (dengke) dan beras. (Dahulu disebut boras sipir ni tondi atau beras penguat roh, sekarang bagi komunitas Batak-Kristen harusnya disebut boras parbue atau beras buah kehidupan).
.
Sering kita saksikan pada jaman sekarang sewaktu menyerahkan tudu-tudu sipanganon atau penanda perjamuan pihak keluarga akan beramai-ramai memegang piringnya dan kalau mereka terlalu banyak jumlahnya akan saling memegang bahu, seolah-olah ada sesuatu yang hendak dialirkan. Padahal kesaksian orang tua-tua pada jaman dahulu tidak begitu. Tudu-tudu sipanganon cukup diletakkan di tengah-tengah ruangan di hadapan undangan terhormat! Bagi kita orang Kristen lebih baik tudu-tudu sipanganon diletakkan di tengah tengah ruang agar tidak menimbulkan salah tafsir seolah-olah makanan itu memiliki kekuatan magis atau menjadi medium penyaluran berkat. Sebab tudu-tudu sipanganon itu hanyalah simbol penghormatan kepada undangan bahwa jamuan dilakukan dengan khidmad dan sepenuh hati. Tidak ada kekuatan magis yang hendak dialirkan di sana.
.
Sebagai simbol pengormatan, tudu-tudu sipanganon seharusnya pertama kali disampaikan kepada Allah dan kemudian kepada manusia. Sebab itu dalam even pertemuan Kristen-Batak sebaiknya kita lebih dulu berdoa makan sebelum menyerahkan tudu-tudu sipanganon kepada hula-hula. Itulah tanda bahwa kita lebih taat dan hormat kepada Allah daripada kepada manusia (Kis 5:29)
.
2. SAPA
.
Sapa adalah piring kayu berdiameter lebih-kurang 40 cm. Pada jaman dahulu keluarga nenek moyang kita makan duduk lesehan di lantai menggunakan satu sapa. Lazimnya 1(satu) rumah memiliki 1(satu) sapa. Bapa, ibu dan anak-anak makan di satu sapa dengan tertib, sopan dan hormat. Peranan sapa sebab itu mirip dengan meja makan di rumah kita orang moderen. 1 satu) rumah 1(satu) meja makan. Yang terpenting bukanlah sapa atau meja makan itu an sich tetapi kesatuan keluarga yang menggunakan sapa atau meja makan itu.
.
Tentu saja kita sekarang tidak mungkin lagi kembali ke tradisi sapa. Namun acara makan dan doa bersama satu keluarga inti harus tetap kita hidupkan dan laksanakan. Mungkin bagus jika kita komunitas Kristen-Batak dapat menjadikan sapa sebagai simbol kebersamaan keluarga inti: ayah, ibu dan anak-anak. Sebab ada kecenderungan kita hanyut dengan ritus-ritus keluarga besar (na saompu, parmargaan) dan mengabaikan peranan keluarga inti sebagai dasar atau tiang kehidupan.
.
3. MARMEME
.
Pada jaman dahulu ibu-ibu marmeme, mengunyahkan makanan untuk anak-anaknya yang masih kecil. Makanan lebih dulu dikunyah si ibu kemudian secara cepat dan trampil langsung dimasukkan ke mulut si anak kecil. Persis seperti burung atau hewan lainnya. Bagi kita orang moderen mungkin ini dianggap menggelikan, kurang higienis atau “jorok”. Namun pada jaman dahulu marmeme adalah wajar dan merupakan tanggungjawab orangtua. Sebagaimana menyusui, marmeme sangat meneguhkan hubungan emosional antara orangtua. Ada satu umpama yang dalam tentang marmeme: dompak marmeme anak, dompak marmeme boru. Artinya tidak ada perbedaan antara anak laki-laki atau anak perempuan.
.
4. MANULANGI & MANGUPA-UPA
.
Kultur Batak mengenal istilah manulangi, yaitu menyampaikan makanan yang lezat kepada orangtua atau hula-hula. Dahulu motivasi memberi makanan ini selain untuk menyenangkan hati orangtua atau hula-hula, juga untuk menyampaikan permohonan kepada yang diberi makan. Apalagi ketika memberi sulang-sulang hariapan atau perjamuan purnabakti atau pensiun dari adat kepada seorang tua, sebetulnya lebih kental dengan kepentingan anak-anak daripada kepentingan orangtua yang sudah lanjut usia itu. Disinilah iman Kristen harus menerangi dan menggarami kultur manulangi. Acara manulangi haruslah berdasarkan kasih agape atau kasih tanpa pamrih (holong na so marpambuat) dan hormat tanpa syarat (hormat na so marsiala) kepada orangtua.
.
Mangupa-upa adalah kebalikan dari manulangi. Yaitu dari orangtua kepada anak, dari hula-hulakepada boru. Tujuannya terutama untuk menguatkan, meneguhkan dan memberi semangat kepada anak atau boru yang sakit, terkejut atau baru lepas dari bahaya. Pada jaman pra-kristen orang yang sakit, lemah, terkejut, celaka dianggap ditinggalkan oleh roh-nya (tondi-nya) karena itu perlu diupa-upa agar rohnya kembali: “mulak tondi tu ruma”. Sebab itulah nenek moyang kita kadang memberikan beras ke atas kepala anak atau borunya. Istilah boras si pir ni tondi menunjuk kepada pemahaman bahwa tondi (roh) si sakit harus dikuatkan dan didinginkan. Istilah boras si pir ni tondi ini tidak cocok lagi dengan kekristenan kita yang menghayati kesatuan pribadi (tubuh-roh). Selain itu bagi kita yang beriman kepada Kristus makanan (sipanganon) tidak lagi dianggap memiliki kekuatan magis atau menjadi medium berkat. Sumber kesembuhan, kekuatan dan keselamatan kita adalah Tuhan Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit. Boras hanyalah simbol hahorason! Sebab itu acara mangupa-upa bagi kita adalah kebaktian atau ibadah memohon kesembuhan atau kekuatan kepada Allah Bapa, AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus. Makanan upa-upa hanyalah simbol kasih dan perhatian kita kepada yang sakit dan bukan medium (parhitean) berkat. Dalam mangupa-upa perhatian kita harus tetap tertuju kepada Kristus yang tersalib dan bangkit. Jelas dan tegas bagi kita Kristus itulah satu-satunya sumber kehidupan.
.
5. MANGAN INDAHAN NA SINAOR atau PARPANGANAN NA BADIA
.
Kultur Batak mengenal apa yang dinamakan mangan indahan na sinaor, atau perjamuan pendamaian (pemulihan hubungan). Jika ada dua orang atau kelompok yang terlibat konflik maka mereka akan menyelesaikan konflik melalui makan bersama yang biayanya dipikul oleh kedua belah pihak. Bagi kita komunitas Kristen-Batak tentu tidak ada larangan menyelenggarakan makan bersama sebagai tanda perdamaian ini. Namun, kita harus menyadari bahwa sesungguhnya Kristuslah yang mendamaikan kita (Efesus 2:13-18). Karena itu Perjamuan Kudus (ekaristi) itulah sesungguhnya perjamuan pendamaian yang sejati. Melalui Perjamuan Kudus pertama-tama dan terutama kita diperdamaikan dengan Allah dan sebagai dampaknya diperdamaikan dengan sesama, diri sendiri dan alam lingkungan kita.
.
Dalam Perjamuan Kudus tubuh dan darah Tuhan hadir dalam dan bersama-sama roti dan anggur yang kita makan. (con-substansia). Roti dan anggur tidak berubah wujud namun tubuh dan darah Tuhan hadir bersama-sama roti dan anggur itu. Sebab itu pada saat Perjamuan kita memang benar-benar menerima tubuh dan darah Tuhan Yesus: sumber pengampuan dosa, pendamaian, kehidupan yang kekal, sukacita, dan damai sejahtera kita. Dalam gereja purba (I Kor 11:17-22) dikenal perjamuan kasih (agape). Sebelum Perjamuan Kudus, maka jemaat lebih dulu makan bersama, yang bahannya dikumpulkan dari yang dibawa oleh masing-masing anggota. Lambat-laun tradisi ini menghilang. Namun sebenarnya baik jika dihidupkan kembali oleh gereja-gereja berlatar belakang budaya Batak dan modernitas yang sangat haus akan kebersamaan dan persekutuan (communion).
.
Pertanyaan terakhir: siapa yang paling berat menanggung biaya tradisi makan (marsipanganon) Batak ini? Apakah jamuan-jamuan makan ini membebaskan (meringankan) atau malah memberatkan (menekan) komunitas Kristen-Batak itu sendiri terutama yang ekonominya lemah?
.
6. SEMUA BOLEH TETAPI TIDAK WAJIB
.
Apa kata Alkitab tentang makanan? Yesus mengatakan bahwa segala sesuatu boleh dimakan, yang najis bukanlah apa yang masuk melalui mulut tetapi apa yang keluar dari mulut (perkataan). (Mat 15:11) Segala sesuatu dapat dimakan dan diminum, tidak ada yang haram. (Kol 2:16). Kerajaan Allah bukan soal makanan atau minuman. (Roma 14:17). Tidak ada jenis makanan yang mendekatkan atau menjauhkan diri kita dari Allah (I Kor 8:8-10). Kita boleh makan dan minum apa saja (termasuk daging bercampur darah, atau alkohol) dengan ucapan syukur. Dan kita tidak diijinkan menjadikan kebebasan itu sebagai batu sandungan bagi orang lain. Kita harus menguasai diri dan tidak boleh diperhamba oleh makanan atau minuman (termasuk bir atau anggur!). Karena itu kita juga tidak boleh menjadikan sangsang (daging babi yang dicincang dan dimasak memakai darah) sebagai tanda kekristenan kita. Ingat: tanda bukti kekristenan kita yang sesungguhnya adalah kebenaran, damai sejahtera dan sukacita abadi oleh Roh Kudus. (Roma 14:17).
.
Oleh: Daniel T.A. Harahap

Hamatean

1. DULU DAN SEKARANG
.
Kultur Batak pra-kristen memberikan perhatian yang sangat (terlalu?) besar kepada peristiwa kematian. Menurut nenek moyang orang Batak ada berjenis-jenis kematian yang menunjukkan status sosial seseorang (yang terkait erat dengan konsepsi kesuburan/ hagabeon): mati sewaktu kanak-kanak, mati sewaktu remaja/ pemuda (mate ponggol, mate matipul), mati sesudah menikah namun tanpa anak (mate punu), mati sesudah menikah dengan anak masih kecil (mate mangkar), mati sesudah bercucu (mate sari matua), mati sesudah bercucu dari semua anak-anaknya (mate saur matua) dan puncaknya mati sesudah bercicit dan berbuyut (saur matua bulung). Bagi kita orang yang beriman Kristen makna kematian ini adalah sama: yakni akhir hidup di dunia dan jalan untuk menghadap Tuhan. Sebab itu sebagai orang Kristen kita wajib menaruh penghormatan dan kasih yang tinggi juga kepada orang yang mati muda.
.
2. SOLIDARITAS DAN KOMUNALITAS
.
Mengapa kita harus berusaha hadir dalam peristiwa kematian seorang anggota keluarga atau kerabat? Pertama-tama: tentu hendak menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih dulu mati tersebut. Kedua: menunjukkan rasa hormat dan kasih kepada orang yang ditinggalkan. Ketiga: mengingatkan diri kita bahwa suatu saat kelak kita juga harus mati.
.
Secara khusus ritus-ritus atau acara di sekitar kematian merupakan tanda solidaritas (kesetiakawanan) kita dengan orang yang ditinggalkan. Kehadiran seluruh kelompok adat dan mandok hata yang berderet-deret dalam peristiwa kematian juga seharusnya diartikan sebagai tanda solidaritas dengan orang yang sedang berduka.
.
Kehadiran dalam peristiwa kematian adalah suatu tanda solidaritas dan kebersamaan: bahwa seorang yang sedang berduka tidak boleh dibiarkan sendirian menanggung bebannya. Dia harus ditemani dalam kedukaannya. Memang ada umpama pitu batu martindi sada do na tumaon na dokdok. Tetapi beban yang berat itu hendak dikurangi dan dibagi-bagikan kepada banyak orang.
.
3. ULOS TUJUNG DAN SAPUT
.
Kultur Batak mengenal ulos tujung, yaitu ulos yang diberikan hula-hula kepada seorang perempuan yang kematian suami atau menjadi janda. Ulos itu, sesuai namanya, dikerudungkan ke atas kepala si perempuan, sebagai tanda kejandaan atau bahwa “kepalanya sudah terputus” (maponggol ulu). Pada jaman dahulu tidak ada acara membuka tujung sesudah pemakaman (kecuali si janda hendak menikah lagi). Ulos tujung itu selalu dikenakan lagi oleh semua janda dalam even-even kematian yang lain, sehingga sering memberi kesan menggetarkan bagi orang yang melihatnya. Berhubung
sebelum datangnya kekristenan orang Batak masih bersifat poligami (banyak istri) maka di beberapa wilayah ulos tujung tidak diberikan kepada laki-laki yang kematian istri.
.
Sebagai komunitas Kristen-Batak kita dapat menerima tradisi ulos tujung ini sebagai simbol tanggungjawab yang berat (peran orangtua tunggal) yang dibebankan kepada seorang perempuan yang kematian suami. (Bagi perempuan yang sudah lanjut usia dan bercucu biasanya tidak lagi disebut ulos tujung, tetapi ulos sampetua).
.
Selain ulos tujung, kultur Batak juga mengenal ulos saput, yaitu ulos yang diberikan tulang untuk membungkus jenazah keponakannya. Kita komunitas Kristen-Batak sekarang mengartikan ulos saput ini adalah tanda perpisahan atau ungkapan kasih terakhir kalinya dari Tulang kepada bere/ ibaberenya yang sudah meninggal. Namun dalam pemberian ulos saput ini kita harus menyadari bahwa pada hakikatnya orang mati adalah urusan dan tanggungjawab Tuhan dan kita tidak bisa lagi berkomunikasi dengan orang yang sudah mati itu. Tentu saja kita percaya dan mengaku bahwa Kristus lah satu-satunya yang menyelamatkan kita dan membungkus jiwa kita dengan darahNya yang kudus, namun kita boleh saja menerima tanda kasih dari sesama manusia, termasuk tentu dari Tulang.
.
4. ONDA-ONDA, SIJAGARAON / SANGGUL MARATA
.
Kultur Batak menganggap kematian seorang tua yang sudah bercucu (sari matua) dan bercicit (saur matua) sebagai suatu peristiwa besar yang patut disyukuri. Tidak lagi banyak kesedihan di sana. Dalam kematian orangtua tersebut semua keturunannya akan menari (manortor) gembira dengan iringan gondang atau musik tiup (perkembangan kemudian). Kita sebagai orang Kristen bisa menerima tradisi ini dengan beberapa catatan. Iman kekristenan menolak kebiasaan agama lama menimba atau mencedok tuah atau berkat dari orang mati. Sebab itu ketika mangondasi (menari di sekeliling mayat) orang tua kita perlu tetap mengarahkan hati kepada Tuhan Yesus Kristus yang mati dan bangkit itu.
.
Catatan: dalam manortor kita harus mewaspadai agar mengubah simbol-simbol gerakan tubuh sewaktu manortor. Antara lain: jangan menggerakkan tangan dari arah mayat ke diri sendiri ibarat orang menimba atau mencedok air untuk minum yang biasa digunakan oleh orang Batak pra-Kristen sebagai simbol mengambil (mencedok) tuah atau berkat dari orang mati.
.
Sebagai tanda kebesaran dari orang tua yang sudah meninggal dunia biasa dipasang sijagaron atau sanggul marata (mahkota segar) dari daun beringin (simbol kesuburan) dan padi (simbol kekayaan) dll. Sebagai komunitas Kristen-Batak kita harus memberi makna baru kepada sanggul marata ini, yaitu sebagai tanda syukur dan persembahan kepada Tuhan yang telah memberikan umur panjang dan berkat kepada orangtua yang meninggal dunia dan keluarganya. Untuk memperkaya pemahaman itu mungkin dengan menambah simbol salib dan lilin di sanggul marata tersebut yang mengingatkan kita bahwa mahkota kehidupan hanya datang dari Allah dalam Yesus PutraNya kepada orang yang setia dalam imannya (Wahyu 3:11) dan api Roh Kudus yang membaharui hidup.
.
5. MANGONGKAL HOLI DOHOT MANANGKOKHON SARING-SARING
.
Kultur Batak pra-Kristen menganggap salah satu bentuk penghormatan kepada orangtua atau leluhur adalah dengan meninggikan posisi tulang-belulang (saring-saring) mereka di atas tanah, khususnya ke bukit yang tinggi dan batu yang keras. Panangkokhon saring-saring tu dolok-dolok na timbo tu batu na pir. Peninggian tulang-belulang ini biasanya dilakukan melalui upacara besar.
.
Ruhut Parmahanion Paminsangon (RPP) atau Hukum Penggembalaan dan Siasat HKBP mengatakan bahwa penggalian tulang-belulang (mangongkal holi) dimungkinkan karena beberapa alasan:
.
1. Kerusakan kuburan karena dimakan usia atau faktor alam (banjir, longsor).
.
2. Penggusuran kuburan karena pembebasan lahan untuk pembangunan jalan, waduk, industri dll.
.
3. Penyatuan tulang-belulang keluarga yang kuburannya terpisah-pisah.
.
Majelis Gereja harus mengetahui dan aktiv terlibat dalam acara penggalian tulang-belulang mulai dari menggali, menyimpan hingga memasukkan ke tempat yang baru. Bila lokasi antara kuburan yang lama dan baru berjauhan, maka tulang-belulang harus disimpan di gereja. Dalam proses menggali atau memasukkan tulang-belulang itu tidak boleh diiringi tortor dan gondang serta musik. Juga tidak berjalan Agenda Pemakaman.
.
Majelis harus mengawasi tidak ada yang manortori, meratapi, memasukkan tulang-belulang ke ulos dan ampang/ piring, memberi sirih atau makanan, atau memasukkan batang pisang kelubang bekas penggalian.
.
6. TUGU
.
Gereja HKBP memang tidak melarang secara tegas anggota jemaat membangun tugu penghormatan kepada nenek moyang atau persatuan keluarga (marga, ompu) namun mengingatkan jemaat bahwa pembangunan tugu itu kurang berdampak bagi pembangunan kehidupan iman maupun ekonomi. Sebagai gantinya gereja HKBP menganjurkan jemaat membangun tugu yang fungsional atau hidup, seperti: sekolah, perpustakaan, poliklinik, jembatan, koperasi, komisi beasiswa dll.
.
Gereja juga mengajak jemaat untuk selalu mengingat peristiwa kubur kosong karena Tuhan Yesus Kristus sudah bangkit dari antara orang mati. Tuhan ada di tengah-tengah realitas kehidupan. Kita juga tahu bahwa penampakan Yesus yang bangkit selalu di tengah kehidupan. Bahkan Maria Magdalena berjumpa dengan Yesus setelah ia membelakangi kubur kosong! Selanjutnya agar warga jemaat lebih dulu menyatakan kesatuan dalam Kristus dan Roh Kudus daripada kesatuan marga, luat, ompu dll.
.
7. ZIARAH
.
Kita harus mengkritisi tradisi berziarah dan membersihkan kuburan di kalangan komunitas Kristen-Batak. Iman kita mengatakan ada jurang yang tidak terseberangi yang memisahkan orang yang hidup dengan yang mati. Sebab itu kekristenan menolak setiap bentuk usaha untuk berhubungan kembali dengan orang mati, misalnya: memberi makan, meminta petunjuk, memohon berkat dari orang yang sudah mati tersebut. Kita sebaiknya menyadari kuburan bukanlah tempat yang ideal untuk berdoa. Tempat berdoa yang paling kondusif adalah rumah dan gereja. Tanda penghormatan kita kepada orangtua yang sudah meninggal bukanlah terutama membangun megah atau sering mengunjungi kuburannya tetapi dengan menghayati hidup yang benar dan baik sesuai firman Tuhan dan teladannya.
.
8. PENGAKUAN IMAN HKBP
.
Konfessi HKBP pasal 16 menyatakan: Kita percaya dan menyaksikan bahwa manusia satu kali mengalami kematian dan sesudah itu penghakiman. (Ibrani 9:27). Manusia yang telah mati itu beristirahat dari seluruh pekerjaannya (Wahyu 14:13). Yesus Kristus adalah Tuhan orang yang hidup maupun mati. Bila kita mengenang orang yang sudah meninggal, sebetulnya kita hendak menyadarkan diri kita sendiri akan ajal atau akhir hidup kita dan untuk meneguhkan pengharapan kita akan persekutuan orang-orang percaya dengan Allah serta untuk menguatkan hati kita berjuang dalam realitas hidup ini. (Wahyu 7:9-17). Dengan ajaran ini kita menolak dan melawan ajaran animisme yang mengatakan bahwa roh-roh (tondi) orang yang sudah mati masih dapat berhubungan atau berinteraksi dengan manusia. Kita juga menolak ajaran yang mendoakan orang yang sudah mati. Sebab orang yang sudah mati menjadi wewenang dan urusan Tuhan.
.
Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Hagabeon

Hagabeon (kesuburan, memiliki banyak turunan) adalah satu dari antara tiga cita-cita atau filsafat hidup terpenting Batak. Dua lagi adalah: hamoraon (memiliki banyak harta) dan hasangapon (sangat dihormati). Ketiga hal itu, sering disingkat 3(tolu)-H, dianggap sebagai “tiga serangkai” nilai yang menjadi falsafah atau orientasi hidup masyarakat Batak. (dalam lagu Alusi ahu ciptaan Nahum Situmorang ke tiga nilai itu sudah disebut sebagai cita-cita banyak orang Batak). Namun menurut penulis, sadar atau tidak sadar, banyak rang Batak sebenarnya menganggap hagabeon itulah yang paling penting atau bahkan satu-satunya yang memberi makna hidup di dunia ini.
.
1. HAGABEON DALAM PANDANGAN TRADISIONAL BATAK
.
Kita harus memahami falsafah hagabeon ini dalam konteks sejarah. Pada jaman dahulu,
sebelum masuknya Injil dan modernitas ke Tanah Batak, angka kematian bayi dan anak-anak di kampung-kampung sangatlah tinggi. Sementara jumlah (kuantitas) manusia sangatlah dibutuhkan untuk menopang kehidupan dan persekutuan, antara lain untuk bertani dan membuka lahan baru, bertahan terhadap serangan musuh dan lain-lain. Sebab itu hagabeon (kesuburan) manusia memang sangat dibutuhkan untuk menopang kehidupan. Karena itulah masyarakat Batak sangat merindukan banyaknya orang (mauas di jolma). Hal ini didukung oleh konsep agama Batak yang menganggap kesuburan sebagai berkat ilahi yang terpenting. sebagaimana terlihat begitu banyak umpasa yang mengharapkan kesuburan tersebut:
.
Bintang na rumiris ombun na sumorop
Anak pe riris boru pe torop.
.
Lili ma di ginjang hodong ma di toru
Riris ma jolma di ginjang torop ma pinahan di toru.
.
Andor halumpang togu-togu ni lombu
Sai saur matua ma ho paabing-abing pahompu.
.
Harangan ni Pansur batu hatubuan ni singgolom
Maranak ma hamu sampulu pitu marboru sampulu onom.
.
Sahat-sahat ni solu sai sahat tu bontean
Leleng hita mangolu sai sahat ma tu panggabean
.
Sai tubuan laklak ma tubuan singkoru
Sai tubuan anak ma hamu tubuan boru.
.
Tinampul bulung ni salak laos hona bulung singkoru
Tibu ma hamu mangabing anak laos mangompa boru
.
Balga ma tiang ni ruma umbalga tiang ni sopo
Nunga gabe angka na matua gabean ma angka naposo.
.
Dalam kultur Batak pra-Kristen sumber hagabeon (kesuburan) ini adalah berkat hula-hula. Sebab itu jika seseorang tidak mendapat anak, maka dia juga datang kepada hula-hulanya memohon belas kasihan dan berkat. Begitu pentingnya kesuburan ini, sehingga demi memperoleh hagabeon kultur Batak pra-Kristen mengijinkan seorang laki-laki yang tidak memiliki keturunan atau bahkan anak laki-laki untuk menikah lagi (marimbang) atau menceraikan istrinya (sirang).
.
Hagabeon (kesuburan) itu juga sangat menentukan status sosial seseorang dalam masyarakat Batak pra-Kristen. Semakin banyak anak, cucu dan cicit seseorang semakin terhormatlah orang tersebut dalam persekutuan adat. Itu nampak jelas dalam ritus-ritus kematian yang diatur oleh adat Batak pra-Kristen. Seorang yang mati meninggalkan keturunan yang banyak (saur matua bulung) akan mendapat penghormatan yang luar biasa. Berbeda dengan seorang yang mati tanpa anak atau bahkan tanpa anak laki-laki.
.
Nilai hagabeon (kesuburan) ini juga nampak jelas dalam berbagai praktek ritus Batak pra-Kristen yang lain. Seorang yang tidak menikah (walaupun sukses secara pribadi) dianggap sama dengan kanak-kanak. Pada jaman dahulu seseorang yang menikah namun tidak punya anak juga tidak diijinkan mangulosi (memberi berkat) dan jika manortor hanya boleh mengepalkan kedua tangannya. Seorang yang menikah dan hanya memiliki anak perempuan manortor dengan satu tangan terkepal dan satu tangan terbuka. Dalam rumah tradisional Batak nilai hagabeon (kesuburan) ini dimunculkan dalam simbol atau gambaran biawak (boraspati ni tano) dan empat payudara (adop-adop). Sementara dalam even kematian terlihat dalam simbol daun beringin yang bercabang dan beranting (sijagaron atau sanggul narata).
.
Dalam kultur Batak pra-Kristen hagabeon (kesuburan) bukan saja menentukan status sosial seseorang namun dianggap sebagai suatu tanda yang absolut bahwa seseorang mendapat berkat. Karena itu kemandulan otomatis dianggap sebagai bencana atau kutuk (terlebih bagi kaum perempuan). Itulah juga yang menyebabkan kultur Batak pra-Kristen menganggap pernikahan tanpa anak sama sekali tidak berguna atau tidak bermakna. Sisa-sisa warisan adat dan agama lama tentang keuburan itu mesti kita kritisi dan waspadai karena tidak lagi relevan (cocok) dengan iman Kristen dan budaya modernitas kita.
.
2. HAGABEON DALAM PERSPEKTIF MODEREN
.
Komunitas Batak sekarang hidup dalam era moderen. Agar dapat survive di tengah masyarakat moderen maka komunitas Batak juga harus mengakomodir nilai-nilai modern termasuk tentang kesuburan (hagabeon). Bagaimana pandangan modernitas tentang nilai kesuburan?
.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk kedokteran dan farmasi, maka angka kematian bayi dan anak-anak dapat ditekan. Jumlah penduduk bumi semakin bertambah. Sebab itu masyarakat moderen mencanangkan Keluarga Berencana (Keluarga Bertanggungjawab) termasuk dengan membatasi jumlah kelahiran.
.
Nilai-nilai manusia juga bergeser termasuk tentang kehidupan keluarga, pernikahan dan anak. Bagi masyarakat moderen bukan lagi kuantitas anak yang dipentingkan tetapi kualitas kehidupannya. Karena itu sedikit anak lebih bagus dibanding banyak anak. Anak laki-laki atau perempuan benar-benar dianggap sama dan setara. Pernikahan bukan lagi kewajiban tetapi pilihan bebas seseorang. Sebab itu pernikahan bagi bukan berarti peningkatan status sosial namun merupakan penambahan tanggungjawab pribadi. Menikah atau tidak menikah sama nilainya. Bahkan bagi sebagian orang, mengejar karir, prestasi, kinerja, dan kesenangan pribadi dianggap sama atau bahkan lebih penting dari menikah dan mempunyai anak.
.
Hal itu tidak berarti bahwa masyarakat moderen tidak menghargai kesuburan. Kemajuan teknologi kedokteran genekologi dan genetika (termasuk yang paling menghebohkan: bayi tabung dan clonning) menunjukkan bahwa orang moderen masih tetap merindukan anak atau keturunan. Namun, bagi orang moderen kesuburan sperma atau kandungan bukan lagi nilai terpenting atau satu-satunya dalam kehidupan manusia. Manusia moderen lebih menghargai produktivitas, kreativitas, karya hasil pemikiran dan budi baik manusia daripada kesuburannya menghasilkan banyak anak.
.
3. HAGABEON DALAM PERSPEKTIF KRISTEN
.
Berbeda dengan agama-agama Kanaan (juga Batak kuno) yang sangat menekankan kesuburan (hagabeon), kekristen lebih menekankan ketaatan kepada Allah dan kasih kepada sesama. Sebab itu tujuan pernikahan dalam kekristenan bukan hanya untuk berkembang-biak (prokreasi) tetapi juga untuk mengalami dan menikmati kesejahteraan (rekreasi).
.
Pernikahan adalah perjanjian dua pribadi yang saling mengasihi di hadapan Tuhan dan dijadikan gambaran hubungan Tuhan dan gereja. (Ef 5:31-32). Kasih dan kesetiaan kepada pasangan lebih penting daripada pemilikan anak. Karena itu ketidakhadiran anak (anak laki-laki) tidak dapat dijadikan alasan untuk menikah lagi atau bercerai. (Markus 10:9). Memang benar Alkitab mengatakan bahwa salah satu berkat Tuhan adalah memiliki keturunan (Kej 12:1, Kej 17:4-6). Namun keturunan bukanlah satu-satunya berkat Tuhan, sehingga kehidupan tanpa anak boleh dianggap sama dengan kehidupan tanpa berkat. Berkat Tuhan begitu banyak dan tidak terbatas jumlah dan jenisnya . (Ulangan 28)
.
Kita harus mengkoreksi pemahaman orang banyak yang mereduksi berkat Tuhan hanya menjadi 3(tiga):umur panjang, anak banyak, dan harta banyak. Kemudian direduksi menjadi satu: keturunan. Jika keturunan inilah satu-satunya parameter berkat Tuhan maka, Yesus dan Rasul Paulus serta nabi Yeremia tidak termasuk dalam kategori orang yang diberkati. Mungkinkah?
.
Sebagai komunitas Kristen-Batak dan moderen kita harus membaharui dan memperkaya makna hagabeon (kesuburan) dengan nilai moral dan spiritual.
.
Pertama: kesuburan bukanlah satu-satunya berkat Tuhan sebab itu ketidaksuburan jasmani (sperma dan kandungan) bukanlah dosa atau cela dihadapan Tuhan dan sesama, apalagi yang bukan diakibatkan oleh kesalahan yang bersangkutan. Sebab itu pasangan yang kebetulan tidak subur secara jasmani harus dapat melihat berkat Tuhan yang lain yang berlimpah dalam kehidupannya, sehingga tetap memiliki alasan bersyukur dan bersukacita serta berbuat kasih dan kebajikan kepada dunia.
.
Kedua: kesuburan jasmani tidak berpengaruh terhadap hubungan dengan Tuhan dan sesama, di hadapan Tuhan dan sesama orang yang menikah atau tidak menikah sama berharga dan mulianya, begitu juga orang yang memiliki anak atau tidak memiliki anak. Sebab itu tidak ada alasan menganggap diri rendah jika belum atau tidak memiliki anak.
.
Ketiga: kesuburan jasmani tidak boleh dijadikan alasan mengkhianati janji pernikahan, berselingkuh, menambah jumlah istri/ suami, atau bercerai. Kesuburan bukanlah satu-satunya yang memberi makna pernikahan. Sebab itu pasangan yang kebetulan tidak subur secara jasmani harus tetap meyakini pernikahan mereka sangat berguna bagi dirinya, bagi Tuhan dan dunia.
.
Keempat: kesuburan rohani, kreativitas dan produktivitas akal budi serta karya kasih kepada sesama lebih penting daripada sekedar kesuburan jasmani. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus, untuk melakukan pekerjaan baik (Ef 2:10)
.
Oleh: Pdt. Daniel T.A. Harahap

Kamis, 24 Januari 2008

Liturgi HKBP

LITURGI HKBP
Suatu Kajian Terhadap Perkembangan Tata Ibadah Minggu Gereja HKBP Ditinjau dari Segi Pendekatan Teologis
.
I. Pendahuluan
.
Liturgi adalah istilah teologis yang biasanya mengacu kepada ibadah gereja atau tata kebaktian. Kata “liturgi” berasal dari bahasa Yunani leiturgia. Kata leitourgia terbentuk dari akar kata ergon, yang berarti ‘karya’, dan leitos, yang merupakan kata sifat untuk kata benda laos (bangsa). Secara harafiah, leitourgia berarti ‘kerja’ pelayanan yang dibaktikan bagi kepentingan bangsa. Dalam masyarakat Yunani kuno, kata leitourgia dimaksudkan untuk menunjuk kerja atau sumbangan dari warga masyarakat yang kaya, dan pajak untuk masyarakat atua Negara.
Liturgi merupakan sarana penting untuk menghidupkan dan menguatkan kepercayaan jemaat dan untuk menyinarkan kasih Kristus kepada orang-orang yang belum menjadi anggota jemaat, sehingga mereka tertarik untuk bergabung dengan jemaat. Dengan demikian liturgi bagaikan cermin yang menerima sinar-sinar injil dan yang memantulkannya kepada jemaat dan kepada dunia. Bukan saja injil (sebagai hal yang terpenting) yang dipantulkan, tapi juga ajaran gereja (dogma) dan seringkali juga sejarah gereja dan dnegan cara bagaimana jemaat menghayati serta mengamalkan kepercayaannya. Semua itu dicerminkan dalam bentuk rupa suasana dan warna kebaktian.
Dewasa ini kebutuhan untuk membaharui liturgi gereja semakin mendesak, tetapi sebagian gereja tidak responsif terhadap kebutuhan tersebut. Mulai dari isi dan cara penyampaian khotbah, lliturgi yang kaku dan monoton. Akibatnya, liturgy gereja menjadi tidak komunikatif kepada warganya. Padahal liturgy merupakan komunikasi dengan Allah dan itu berarti harus pula komunikatif dalam persekutuan. Karena cenderung mengabaikan kebutuhan warganya dan mempertahankan yang diwarisi dari zending, banyak gereja yang ditinggalkan oleh jemaatnya, sebagian lari ke persekutuan-persekutuan doa (istilah “jajan”) dan sebagian lagi memilih menjadi anggota gereja yang pasif, yang hanya datang ke kebaktian pada hari-hari raya gereja, misalnya Natal dan Paskah. Oleh karena itu, dalam paper ini, penulis tertarik membahas perkembangan liturgi HKBP (dalam hal ini tata ibadah), sejauh mana HKBP mampu melakukan transformasi di dalam gereja khusus liturgi minggu, sehingga pelayanan HKBP kepada jemaat lebih optimal.
.
II. Gambaran HKBP Secara Umum yang Berkaitan dengan Faktor-Faktor Pembentukan Liturgi
.
Sebagaimana ada kemajuan dalam sejarah keselamatan, begitu juga ada kemajuan liturgi dalam ibadah jemaat. Liturgi berkembang dalam sejarah keselamatan dan menyesuaikan diri kepada corak setiap zaman. Liturgi tidak bersifat kaku atau keras, dan bentuknya tidak tetap sama sepanjang zaman. Secara dinamis liturgi mengikuti perkembangan sejarah keselamatan. Demikian juga halnya dengan HKBP. Liturgi HKBP juga mengalami perubahan mulai dari masa zending sampai masa sekarang.
Liturgi dibangun berdasarkan pada beberapa faktor , antara lain :
.
1. Faktor Alkitab
Alkitab berfungsi sebagai dasar dalam teologi Reformasi ( sola fide, sola gratia, sola scriptura) Dalam hal ini HKBP memiliki ajaran gereja yang berazaskan Alkitab . Setiap orang Kristen tunduk kepada Firman Allah, karena Firman itu bukan Firman manusia, melainkan Firman Allah yang satu-satunya. Maka dengan demikian Alkitab bagi HKBP mempunyai wibawa mutlak (absolute) dalam kehidupan bergereja.
.
2. Faktor Ajaran Gereja (dogma)
Faktor dogma dapat mempengaruhi penetapan liturgi. Hal ini dapat dilihat dalam gereja HKBP. HKBP merupakan gereja reformasi, dimana dalam penetapan lliturginya gereja reformasi menekankan pentingnya pelayanan Firman (sola Scriptura), sehingga khotbah mendapat tempat yang sentral dalam kebaktian. Bagi gereja reformasi faktor dogma erat berkaitan dengan faktor Alkitab. Gereja Reformasi mengakui sebgai dalil utama, bahwa dasar ajarannya adalah Firman Tuhan. Sejajar dengan itu dapat dillihat bahwa wewenang factor ini sama pentingnya dengan factor Alkitab.
.
3. Faktor Persekutuan Gereja
Wewenang faktor persekutuan tergantung pada peraturan gereja. Apabila persidangan raya menentukan suatu tata ibadah, dengan maksud supaya semua gereja memakai tata ibadah, maka peraturan itu bersifat perintah mutlak. HKBP merupakan gereja yang memilliki system sinodal episkopal dan presbiterial. Dari Sinode telah ditentukan suatu tata ibadah yang akan diikuti oleh seluruh gereja HKBP yang ada di Indonesia bahkan di dunia.
.
4. Faktor Sejarah Gereja
Gereja yang hidup pada masa sekarang bertanggung jawab untuk mengkaji perlindungan dan pemeliharaan dan untuk belajar dari sejarah gereja. Ajaran sejarah ini merupakan (juga di bidang liturgi) nasihat yang penting sekali untuk gereja sekarang. Namun faktor sejarah tidak mempunyai wibawa yang mutlak, melainkan (tergantung dari hasil penyelidikan sejarah) dapat membawa pengaruh yang bersifat ajaran yang penting atau nasihat yang kuat. Berdirinya HKBP merupakan hasil pekabaran Injil yang dibawa oleh badan zending RMG. HKBP resmi berdiri pada tanggal 7 Oktober 1861 , tanggal berundingnya antara pekabar-pekabar Injil Belanda dan pekabar-pekabar Injil Jerman (Heine, Klammer, Beltz dan Van Asselt). Tetapi pekabaran Injil di Tapanuli benar-benar berkembang berkat semangat Nomensen yaitu misionaris yang berasal dari Jerman yang mendapat pendidikan di bawah RMG. Sehingga pada masa itu corak teologi yang dibawa oleh Nomensen sangat berpengaruh terhadap pembentukan corak teologi HKBP bahkan sampai sekarang.
.
5. Faktor Misioner
Setiap jemaat seharusnya adalah jemaat missioner. Artinya berminat untuk mengabarkan Injil. Dengan kata lain setiap jemaat berusaha untuk menarik orang-orang yang belum mengenal Kristus supaya masuk gereja. Jemaat mendorong mereka untuk menggabungkan diri dengan jemaat yang berkumpul pada hari minggu. Pada dasarnya jemaat HKBP juga diharapkan menjadi jemaat yang missioner. Hal ini dapat dilihat dari sikap yang diwariskan oleh para misionaris pada masa zending. Tetapi sikap missioner ini secara nyata kurang terlihat di tengah-tengah jemaat HKBP. Padahal faktor missioner untuk menciptakan liturgi adalah fakor yang penting sekali, yang merupakan dorongan, terutama untuk membuat kebaktian itu hidup dan sesuai dengan pengertian dan penghayatan setiap hari.
.
6. Faktor Kebudayaan
Faktor kebudayaan juga merupkan faktor yang penting dalam pembentukan liturgi. Faktor ini berkaitan dengan faktor missioner. Gereja HKBP sangat erat hubungannya dengan kebudayaan karena HKBP adalah gereja suku. Jemaat HKBP pada umumnya adalah suku Batak Toba. Suku Batak Toba sangat kaku dengan adat karena bagi mereka adapt berfungsi untuk mengatur hidup kekeluargaan, hidup bermasyarakat dan hidup berpemerintahan, dimana setiap orang/keluarga diminta supaya saling menghormati, saling menghargai, salling membantu dan saling mengasihi. Hal ini tampak jelas dalam umpama yang mengatakan “Sisolisoli uhum, siadapari gogo”. Artinya, yang memberi adat, dialah yang menerima adapt, yang mau menolong temannya, dialah yang menerima pertolongan . Contohnya Dalihan Na Tolu (DNT). DNT adalah pranata adat yang diciptakan dan merupakan warisan peninggalan nenek moyang (leluhur) orang Batak sejak ratusan tahun yang lalu. DNT sudah merupakan deep culture bagi orang Batak sehingga sekalipun budaya Batak bersentuhan dengan budaya baru/perubahan-perubahan yang baru, DNT akan berusaha tetap eksis bersama-sama dengan budaya baru itu. DNT terdiri dari 3 pilar, yaitu :
.
• Manat Mardongan Tubu
Hubungan sesama satu marga (sabutuha) harus hati-hati, dalam arti berbuat dan berbicara mesti saling menghormati, menghargai, dan menghindari sikap arogan.
.
• Somba Marhula-hula (hormat kepada hula-hula)
Hula-hula harus dihormati agar memperoleh keberuntungan dan senantiasa selamat sentosa
.
• Elek Marboru
Selalu bersifat membujuk,/mengayomi kepada pihak boru/perempuan
.
Orang Batak juga sangat berjuang untuk memperoleh kesuksesan yang diwujudkan dalam 3H, yaitu hagabeon (banyak keturunan), Hamoraon (banyak harta) dan hasangapon (terhormat). 3H ini merupakan falsafah hidup orang Batak. `Kekakuan orang Batak terhadap adat yang dipegangnya sangat berpengaruh terhadap perkembangan gereja HKBP khususnya dalam hal liturgi.
.
7. Faktor Etnologis dan Antropologis
Faktor ini sebenarnya tidak begitu berbeda sifatnya dari faktor kebudayaan. Hanya, ingin menekankan bahwa dalam pembentukan liturgi harus sadar akan kenyataan, setiap bangsa berbeda-beda sifatnya. Misalnya emosi (dan cara untuk mengungkapkan emosinya dalam gerak-gerik, musik, cara berbicara); cara berpikir (sifat timur lain dari sifat barat); pandangan dunia (pandangan dunia adapt masih akan lama sekali mempengaruhi pengertian manusia akan penggunaan berbagai unsur kebaktian), dan lain sebagainya. Bila hendak menciptakan liturgi, mau tidak mau harus berhadapan dengan faktor ini.
.
8. Faktor Dunia Gereja
Maksudnya adalah pengaruh dunia di sekitar gereja yang dapat mempengaruhi liturgy. Misalnya:
• keadaan ekonomi. Bila keadaan ekonomi tidak baik dan masyarakat pada umumnya miskin, maka akibatnya untuk gereja jelas : bangunan gereja memprihatinkan, alat-alat musik tidak ada atau sederhana saja
• keadaan iklim. Keadaan hawa jjuga mempengaruhi sifat gedung gereja
• keadaan polotik. Bila gereja dianiaya, maka akibatnya untuk ibadah jelas, yaitu berkumpul secara rahasia di tempat-tempat tersembunyi. Tapi sebaliknya, pemerintah memberika subsidi untuk membangun gereja.
.
HKBP memilliki jemaat yang beraneka ragam dari segi ekonomi. Mulai dari tingkat perekonomian yang rendah sampai tingkat ekonomi tinggi. Keadaan politik sangat berpengaruh terhadap perkembangan gereja HKBP. Hal ini dapat dilihat dari masalah HKBP beberapa tahun yang lalu yang dipicu oleh campur tangan pemerintah terhadap gereja HKBP.
.
Dari ke-8 faktor-faktor tersebut dapat dilihat bagaimana kondisi HKBP secara umum yang berkaitan dengan pembentukan dan perkembangan tata ibadah/lliturgi HKBP sampai sekarang.
.
Bentuk Liturgi/Tata Ibadah Awal Masa Zending
.
Bentuk liturgi yang dibawa oleh para misionaris ke tanah Batak merupakan cikal bakal bentuk liturgi HKBP setelah HKBP mandiri sampai sekarang. Bentuk liturgi yang dibawa ke tanah Batak adalah lebih dominan menyerap bentuk liturgi Lutheran. Penampilan peraturan gereja dan Tata Ibadah dapat melukiskan betapa di tingkat jemaat para zendeling menjalin tradisi Eropa Kristen dengan tradisi kebudayaan Batak. Tata Ibadah karangan Nomensen menampilkan pola kesalehan : Ibadat dimulai pukul 9 pagi, setelah lonceng dibunyikan sampai 3 kali. Pada mulanya diadakan nyanyian disusun oleh Liturgi yaitu : Perintah-perintah, Pengakuan Iman dan Doa. Kemudian nyanyian lagi, Khotbah dan Doa, selanjutnya kembali nyanyian, pemberkatan, lalu 9 kali haleluya dan 6 kali Amin dinyanyikan. Setelah diadakan doa diam, jemaat bubar
.
Liturgi/Tata Ibadah HKBP Masa Sekarang dan Makna Teologisnya
.
Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa tata ibadah HKBP cikal bakalnya berasal dari tata ibadah yang dibawa oleh para misionaris pada masa zending, maka tata ibadah HKBP pada masa sekarang ini adalah sebagai berikut :
.
a. Tata Ibadah
.
1. Bernyanyi
2. Votum
3. Bernyanyi
4. Hukum Taurat
5. Bernyanyi
6. Pengakuan Dosa
7. Bernyanyi
8. Epistel
9. Bernyanyi
10. Pengakuan Iman Rasuli
11. Warta Jemaat
12. Doa Syafaat
13. Bernyanyi (Persembahan)
14. Khotbah
15. Bernyanyi (Persembahan)
16. Doa Persembahan + Nyanyian
17. Doa Bapa Kami dan Berkat
? Koor disisipkan di antara susunan ibadah, tiap-tiap gereja berbeda penempatan koornya, tergantung kebijaksanaan gereja setempat.
.
b. Makna Teologis
.
1. Pujian
Sebagai tanda kesiapan jemaat untuk memulai ibadah
.
2. Votum
Pernyataan, proklamasi bahwa ibadah yang dilakukan adalah ibadah yang dilakukan dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Allah-lah yang telah mengumpulkan jemaat dalam ibadah. Haleluya yang dinyanyikan oleh jemaat merupakan respon jemaat dengan spontan untuk menyatakan terima kasih/syukur serta memuji Tuhan yang telah berkenan dengan kemurahan-Nya untuk mengumpulkan jemaat dalam persekutuan. Doa dalam votum: Doa yang dipimpin oleh pembaca votum untuk seluruh rangkaian ibadah dan mengarah ke thema Minggu
.
3. Pujian
Jemaat diingatkan akan berkat Tuhan yang selalu nyata dalam hidup serta memuji kemurahanNya
.
4. Hukum Taurat
Sebagai cermin bagi jemaat, apa yang diinginkan Tuhan dari setiap kehidupan anak-anakNya. Jemaat dapat melihat hal-hal yang diinginkan oleh Tuhan untuk evaluasi hidupnya. Kemudian dilanjutkan dengan pengakuan dosa.
.
5. Pengakuan Dosa
Setelah jemaat bercermin kepada Hukum Tuhan, maka jemaat menyadari dosa-dosanya. Jemaat sadar bahwa jemaat hanya dapat beribadah itu atas dasar penyesalan/pengakuan segala dosa-dosanya dan jemaat yakin bahwa dosa-dosa itu akan diampuni melalui penebusan Tuhan Yesus Kristus. Setelah jemaat mengakui dosa-dosanya maka ada Janji Tuhan bahwa Tuhan tidak akan melakukan kepada jemaat setimpal dengan dosa jemaat dan tidak dibalasNya kepada jemaat setimpal dengan kesalahan jemaat. Dia mengasihi anak-anakNya.
.
6. Nyanyian
Nyanyian ini merupakan respon jemaat terhadap pengampunan dosa yang telah diberikan Tuhan kepada jemaat, pernyataan syukur serta kekaguman kepada Allah yang telah mengampuni setiap dosa anak-anakNya, kekaguman terhadap Allah yang begitu baik dalam kehidupan setiap jemaatNya.
.
7. Epistel
Epistel merupakan pengantar Firman Tuhan yang dikemas dalam Khotbah. Epsitel dan Evanggelium (Firman untuk Kotbah) merupakan satu kesatuan yang utuh karena Firman Tuhan dalam Alkitab yang dibacakan dalam epistel mendukung Firman Tuhan yang dibacakan dalam khotbah. Epistel adalah pembacaan Firman Tuhan yang melibatkan jemaat.
.
8. Nyanyian
Merupakan respon jemaat terhadap Firman Tuhan yang dibaca
.
9. Pengakuan Iman Percaya
Kesaksian Iman Kristen yang harus dinyatakan dengan berani, yakin, tegas dan sungguh-sungguh ( tidak dengan ragu-ragu dan tidak ikut-ikutan) oleh sebab itu dilakukan berdiri. Pengakuan Iman merupakan pertanggungjawaban iman kepada Tuhan dan dunia sehingga harus benar-benar keluar dari hati yang ikhlas. Setelah jemaat menerima pengampunan dosa dari Tuhan, mendengarkan janjiNya dan membaca Firman Tuhan, jemaat menyatakan kesaksian imannya dengan rasa tulus hati tanpa paksaan
.
10. Warta Jemaat
Warta sudah disediakan bagi jemaat secara tertulis, tetapi masih ada gereja HKBP yang tidak membuat warta secara tertulus, warta hanya dibacakan secara lisan. Warta yang dibacakan dari depan adalah benar-benar harus diseleksi sehingga pembacaan warta tidak perlu membutuhkan waktu yang cukup lama. Pembacaan warta diletakkan sewaktu ibadah karena warta juga merupakan bagian yang penting dalam ibadah. Warta merupakan pemberitahuan kepada jemaat tentang perkembangan pelayanan, rencana-rencana kegiatan yang akan diadakan di gereja maupun dalam masyarakat, berita dari pusat sampai kepada kehidupan berjemaat. Pembacaan warta ini mengajak supaya semua jemaat peduli terhadap pelayanan/gereja bahkan terhadap sesama.
.
11. Doa Syafaat
Jemaat berdoa syafaat menyerahkan semua kegiatan pelayanan bahkan seluruh kehidupan jemaat kepada Tuhan. Oleh karena itu doa syafaat ditempatkan setelah warta jemaat. Apa yang sudah dibacakan di warta jemaat hendaknya dibawakan di dalan doa syafaat (misalnya: program-program pelayanan dalam gereja, orang-orang yang berulang tahun, dll) ditambah dengan hal-hal yang berkembang yang menurut pendoa syafaat perlu didoakan
.
12. Nyanyian Pujian :
Merupakan ungkapan hati jemaat bahwa jemaat siap untuk mendengarkan Firman Tuhan
.
13. Khotbah
Pemberitaan Firman Tuhan. Mewartakan kerajaan Allah bagi jemaat oleh si pengkotbah
.
14. Persembahan yang diikuti dengan nyanyian pujian
Persembahan merupakan tanda pengucapan syukur atas segala berkat Tuhan terutama atas perdamaian dengan Tuhan melalui pengorbanan Kristus, oleh sebab itu pengumpulan persembahan diikuti oleh nyanyian pujian ( pernyataan syukur dinyatakan dalam bentuk pemberian (kolekte) dan perkataan (nyanyian)). Persembahan penting untuk pembangunan persekutuan gereja dan jemaat serta membiayai misi gereja untuk menyatakan kesaksian dan pelayanan.
Persembahan ini juga merupakan respon jemaat yang dinyatakan melalui pemberian kolekte dan nyanyian pujian pada ibadah yang telah berlangsung atas undanganNya.
.
15. Doa Penutup ( Doa Persembahan + Doa Bapa Kami + Berkat)
Mendoakan persembahan yang telah terkumpul sekaligus doa untuk mmpersembahkan keseluruhan hidup jemaat (dinyatakan melalui nyanyian) kemudian Doa Bapa Kami yaitu doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada Jemaat melalui firman-Nya. Dan diakhir ibadah ditutup dengan berkat ( suatu jaminan bahwa Tuhan yang melindungi umat milik-Nya). Dengan penuh pengharapan dan penuh keyakinan jemaat atas jaminan Tuhan, jemaat menyambut dengan menyanyi : Amin, Amin, Amin. Artinya, jemaat memuji Tuhan dan mengamini seluruh ibadah yang dinaikkan kepada Tuhan dan juga jaminan Tuhan atas hidup jemaat-Nya. (sungguh, pasti = amin)
.
III. Refleksi
.
1. Evaluasi
.
Liturgi HKBP sampai sekarang masih mempertahankan liturgi warisan dari zending. Ada kesan, dengan mempertahankan bentuk liturgy seperti itu jemaatnya sudah bosan. Di beberapa gereja HKBP, liturginya dari masa ke masa begitu-begitu saja, tidak berkembang. Doa-doanya bisa dihapal. Malah kalau jemaat rajin ke gereja semua aspek liturgi sudah dihafal. Misalnya pengakuan dosa, sudah di atur dari depan, padahal setiap jemaat mempunyai dosa-dosa yang berbeda. Di samping itu banyak jemaat juga yang menyatakan bahwa liturgi HKBP tidak menarik, ibadah di gereja HKBP tidak ada Roh Kudusnya. Mereka mengatakan ibadah di HKBP suam-suam kuku, khotbah-khotbahnya terlalu panjang, cara menyanyi tidak bergairah, kaku membosankan, dan lain sebagainya. Dan sering sekali jemaat memuji gereja-gereja aliran lain dengan menyatakan liturginya mantap sekalli, menghidupkan dan menggembirakan. Tidak dapat disangkal, ocehan-ocehan seperti itu pasti keluar dari jemaat. Kondisiseperti ini sangat menyedihkan.
.
Ibadah menempati tempat yang sentral dalam gereja HKBP, namun anggota-anggota jemaat umumnya tidak banyak mengetahui tentang ibadah. Mereka tidak tahu makna unsur-unsur liturgi. Makna simbol-simbol yang ada dalam gereja juga tidak dimengerti oleh jemaat. Mereka tiap minggu menghadiri kebaktian, tapi banyak dari mereka tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi di situ. Sehingga jemaat terjebak dengan kegiatan-kegiatan rutin. Kondisi seperti ini sangat merugikan.
.
Liturgi HKBP adalah liturgi yang beraliran Lutheran, yang menekankan kepada pelayanan Firman dan pelayanan Firman itu paling banyak di khotbah. Dalam penyusunan liturginya, jemaat tidak dilibatkan karena sudah ada bentuk liturgi yang ditawarkan dari pusat. Sehingga tidak sedikit gereja HKBP yang mengadopsi secara bulat-bulat dari pusat tanpa melakukan pembaharuan, oleh sebab itu suasana setiap minggunya tidak berubah. Bagi gereja-gereja HKBP yang tidak mengadopsi dari kantor pusat, yang menyusun liturgi hanya dipercayakan kepada pendeta/penatua (pendeta/penatua sentris). Majelis tidak melibatkan potensi-potensi yang ada di tengah-tengah jemaat.
Dalam pelaksanaan ibadah, persekutuan secara horizontal (sesama) kurang dirasakan. Allah yang digambarkan dalam ibadah adalah Allah yang agung, Allah yang kudus, Allah yang mulia, Allah sebagai hakim, Allah yang sulit untuk dijangkau, hal ini dapat dilihat dari penataan ruangan gereja (mimbar yang tinggi, altar yang disakralkan, tempat duduk para pelayan terpisah dari jemaat, kotbah harus mimbar, dan lain sebagainya).
.
Secara umum terdapat dua kelompok dalam gereja, yaitu kelompok yang ingin mengubah ibadah (progresif) dan kelompok yang setia mempertahankan tata ibadah (konservatif). Kedua pihak fanatik membela posisi masing-masing. Kelompok progresif berpendapat bahwa tata ibadah harus diubah untuk menghidupkan dan menguatkan iman. Tapi kelompok konservatif justru kuatir, bahwa oleh segala macam pembaharuan maka kehidupan dan kekuatan iman akan rusak. Masing-masing dari kedua kelompok ini mengharapkan suatu dampak emosional dari liturgi yang diciptakan atau yang mereka pertahankan. Pada umumnya kelompok yang bersifat progresif adalah dari golongan muda/mudi dan kelompok yang mendukung konservatif kebanyakan orang tua.
.
Relevansi
.
Zaman postmodernisasi sekarang sangat berdampak terhadap seluruh segi kehidupan manusia, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan rohani. Persoalan yang dihadapi oleh gereja sekarang adalah manusia yang berubah. Meskipun orang masih membayangkan Allah, tetapi Allah yang seperti apa? Bagaimana supaya dalam ibadah, unsur-unsur yang ada sesuai dengan selera jemaat. Liturgi harus disesuaikan dengan orangnya. HKBP tidak dapat membendung perubahan zaman sekarang melainkan HKBP harus mampu untuk menempatkan diri dan tetap eksis. Liturgi HKBP sebaiknya harus bersifat inklusif (terbuka), merangkul semua golongan dalam gereja (perempuan, laki-laki, tua, muda, kaya, miskin, petani, dokter, buruh, kuli bangunan, dan seterusnya) serta terbuka pada unsur-unsur yang baik dari budaya etnis serta ibadah dari gereja lain, tidak memaksakan satu jenis ibadah. Ibadah harus mampu melibatkan atau merangkul semua orang. Secara intern dalam persekutuan itu sendiri dan secara ekstern kepada orang lain, bagaimana orang lain bisa tertarik, tertarik pada sesuatu yang kita buat dalam persekutuan itu.
.
HKBP harus mampu untuk berada di tengah antara konteks ekstrim kaku (konserfatif) dengan semangat yang muncul sekarang (progresif) dan bagaimana gereja menangani serta menciptakan liturgi sehingga semuanya terlayani. Bentuk yang lama masih baik untuk banyak orang dan yang baru juga harus diciptakan tanpa menghilangkan makna teologis dari bentuk yang lama, supaya liturgi yang diciptakan tidak hanya berupa hiburan belaka. Oleh sebab itu adalah tugas pelayan untuk menjelaskan unsur-unsur liturgi, agar jemaat mengerti apa dan bagaimana ia beribadah. Karena kalau jemaat mengerti semua aspek yang ada dalam liturgi, rasa kaku dan membosankan akan terobati. Tawaran liturgi untuk memenuhi permintaan jemaat dapat dikemas dengan menawarkan model-model liturgi dalam ibadah minggu setiap minggunya. Misalnya, pada waktu gereja pagi, bentuk liturginya dikemas dalam bentuk ekspresif (jemaat dengan bebas berekspresi dalam ibadah) dengan menggunakan lagu-lagu yang bercorak pop dan sewaktu gereja siang bentuk ibadahnya dikemas dalam bentuk impresif/klasik dengan menggunakan bahasa Batak. Disesuaikan berdasarkan kebutuhan jemaat.
.
Persekutuan di dalam Tuhan adalah persekutuan yang indah, persekutuan yang dibutuhan jemaat sekarang. Jemaat akan mengunjungi gereja yang dirasanya memiliki persekutuan yang hangat. Jemaat akan merasa nyaman dan merasa betah bergereja di satu gereja jikalau jemaat tersebut disambut dengan hangat. HKBP juga sebaiknya dalam ibadah menyeimbangkan persekutuan secara vertical ( persekutuan pribadi dengan Tuhan) dengan persekutuan yang horizontal (persekutuan dengan sesama). Kemasan liturgi dan pelayan-pelayan liturgi harus mengajak jemaat untuk merasakan persekutuan yang indah di antara jemaat, antara jemaat dan majelis gereja, karena gereja adalah merupakan satu kesatuan yang utuh di dalam tubuh Kristus. Ketika kita hidup di dalam Kristus maka kita juga akan mampu membangun persekutuan dengan sesama yang akan berdampak kepada orang-orang yang berada di luar gereja. Gereja adalah tubuh Kristus yang menjadi nyata melalui sikap hidup anggotaNya yang telah diperbaharui.
.
Liturgi yang dikemas sebaiknya juga menyeimbangkan gambaran Allah sebagai kepala keluarga, Allah yang penuh kasih , Allah yang bersahabat, Allah yang dekat kepada anak-anakNya, dengan Allah yang adil, Allah yang Mulia, Allah yang Kudus. Sehingga jemaat dapat merasakan bahwa Allah itu kasih sekaligus adil, Allah itu Agung, mulia, kudus tetapi Allah itu juga Allah yang dekat kepada setiap orang yang mau datang kepada Dia. Semua ini dapat digambarkan mulai dari penataan ruang ibadah sampai kepada bemntuk liturginya. Bagaimanapun proses berjalannya ibadah sangat dipengaruhi oleh suasana/lingkungan kita beribadah. Penataan ruangan membantu jemaat untuk memahami dan menikmati ibadah yang dia ikuti.
.
Liturgi yang diwarisi dari zending sebaiknya dikaji ulang kembali, sehingga liturgi yang ada sekarang adalah liturgi yang kontekstual, yaitu liturgi yang diciptakan berdasarkan kebutuhan jemaat, tentunya liturgi yang tercipta adalah liturgi yang tidak kehilangan makna teologisnya. Jemaat juga sebaiknya dilibatkan dalam pembuatan liturgi karena merea juga bagian dari gereja. Sebagai satu kesatuan tubuh Kristus, gereja harus saling melengkapi. Potensi yang ada di dalam jemaat sebaiknya diberdayakan, jemaat diajak untuk berpikir secara kritis, sehingga jemaat dapat benar-benar merasakan bahwa mereka adalah bagian dari tubuh Kristus dan bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan gereja bahkan mereka juga turut berpartisipasi untuk mewujudkan dampak gereja kepada dunia.
.
Kesimpulan
.
Liturgi adalah kreasi teologis yang sekaligus teoritis dan praktis. Yang pertama tidak dapat berjalan tanpa yang kedua. Jika liturgy hanya berupa teori, maka ia tinggal sebagai dogma. Padahal liturgy juga merupakan praktis gereja. Secara garis besar liturgi HKBP merupakan liturgi yang masih mempertahankan warisan dari zending. Sesuai dengan perkembangan zaman, HKBP juga harus mampu untuk melakukan transformasi sehingga HKBP dapat menjawab kebutuhan jemaatnya, tidak terkecuali di bidang liturgi. Untuk melakukan transformasi ini tidak hanya tugas pendeta atau penatua, tetapi jemaat juga harus berpastisipasi.
.
Untuk mewujudkan peribadahan yang benar kepada Allah, diri pribadi harus berubah. Introspeksi dan perubahan merupakan bagian dari kondisi yang patut dikerjakan dalam rangka melaksanakan peribadatan yang benar. Tugas untuk mewujudkan kebaktian yang sesuai dengan syarat-syarat alkitabiah merupakan proses yang sukar sekali. Tapi walaupun sukar, justru sangat penting demi terciptanya suasana kehidupan yang sehat. Tapi dengan syarat : atas pertolongan Roh Kudus.
.
Saran
.
Sebagai gereja yang dinamis, sebaiknya HKBP terus melakukan transformasi, peka terhadap kebutuhan jemaatnya. Salah satu wujud nyata transformasi yang dilakukan harus kelihatan dalam liturgi yang dipergunakan oleh tiap-tiap gereja. Tiap-tiap gereja sebaiknya tidak mengadopsi sepenuhnya liturgi yang ditawarkan oleh pusat melainkan tiap-tiap gereja harus mampu menciptakan liturginya sendiri berdasarkan kebutuhan lokal dengan memberdayakan potensi-potensi yang ada dalam jemaat. Liturgi yang ditawarkan oleh pusat biarlah itu menjadi sebuah gambaran/pedoman untuk menciptakan liturgy yang baru, sehingga liturgy yang tercipta adalah liturgi yang makna teologisnya tidak hilang dan tetap sesuai dengan dogma HKBP.
.
Sumber :
Ance M. D. Sitohang
www.forumteologi.com

Jambar

JAMBAR adalah istilah yang sangat khas Batak. Kata jambar menunjuk kepada hak atau bagian yang ditentukan bagi seseorang (sekelompok orang). Kultur Batak menyebutkan ada 3(tiga) jenis jambar. Yaitu: hak untuk mendapat bagian atas hewan sembelihan (jambar juhut), hak untuk berbicara (jambar hata) dan hak untuk mendapat peran atau tugas dalam pekerjaan publik atau komunitas (jambar ulaon).
.
Tiap-tiap orang Batak atau kelompok dalam masyarakat Batak (hula-hula, dongan sabutuha, boru, dongan sahuta dll) sangat menghayati dirinya sebagai parjambar. Yaitu: orang yang memiliki sedikit-dikitnya 3(tiga) hak: bicara, hak mendapat bagian atas hewan yang disembelih dalam acara komunitas, dan hak berperan dalam pekerjaan publik atau pesta komunitas. Begitu pentingnya penghayatan akan jambar itu, sehingga bila ada orang Batak yang tidak mendapatkan atau merasa disepelekan soal jambarnya maka dia bisa marah besar.
.
1. JAMBAR HATA
.
Pertama-tama tiap-tiap orang dalam komunitas Batak (kecuali anak-anak dan orang lanjut usia yang sudah pensiun dari adat/ naung manjalo sulang-sulang hariapan) diakui memiliki hak bicara (jambar hata). Sebab itu dalam tiap even pertemuan komunitas Batak tiap-tiap orang dan tiap-tiap kelompok/ horong harus diberikan kesempatan bicara (mandok hata) di depan publik. Jika karena alokasi waktu jambar hata harus direpresentasikan melalui kelompok/ horong (hula-hula, dongan tubu, boru dll) maka orang yang ditunjuk itu pun harus berbicara atas nama kelompok/ horong
yang diwakilinya. Sebagai simbol dia harus memanggil anggota kelompoknya berdiri bersama-sama dengannya. Sekilas mungkin orang luar mengatakan bahwa acara mandok hata ini sangat bertele-tele dan tidak efisien.
.
Namun pada hakikatnya jambar hata ini menunjuk kepada pengakuan bahwa tiap-tiap orang memiliki hak untuk mengeluarkan pendapatnya (baca: hak untuk didengarkan) di depan publik. Bukankah hal-hal ini sangat demokratis dan moderen?
.
2. JAMBAR JUHUT
.
Selanjutnya jambar juhut menunjuk kepada pengakuan akan hak tiap-tiap orang untuk mendapat bagian dari hewan sembelihan dalam pesta. Lebih jauh. jambar juhut ini merupakan simbol bahwa tiap-tiap orang berhak mendapat bagian dari sumber-sumber daya (resources) kehidupan atau berkat yang diberikan Tuhan. Sebab itu bukan potongan daging (atau tulang) itu yang terpenting tetapi pengakuan akan keberadaan dan hak tiap-tiap orang. Sebab itu kita lihat dalam even pertemuan Batak bukan hanya hasil pembagian hewan itu yang penting tetapi terutama proses membagi-baginya. (acara mambagi jambar). Sebab proses pembagian jambar itu pun harus dilakukan secara terbuka (transparan) dan melalui perundingan dan kesepakatan dari semua pihak yang hadir, dan tidak boleh langsung di-fait accompli oleh tuan rumah atau seseorang tokoh. Jolo sineat hata asa sineat raut. Setiap kali potongan daging atau juhut diserahkan kepada yang berhak maka protokol (parhata) harus mempublikasikan (manggorahon) di depan publik. Selanjutnya setiap kali seseorang menerima jambar maka ia harus kembali mempublikasikannya lagi kepada masing-masing anggotanya bahwa jambar (hak) sudah mereka terima.
.
Jambar juhut ini menunjuk kepada gaya hidup berbagi (sharing) yang sangat relevan dengan kehidupan modernitas (demokrasi) dan kekristenan. Sumber daya kehidupan atau berkat Tuhan tidak boleh dinikmati sendirian tetapi harus dibagi-bagikan secara adil dalam suatu proses dialog yang sangat transparan.
.
Inilah salah kontribusi komunitas Batak kepada masyarakat dan negara Indonesia. Bahwa hasil pembangunan dan devisa Indonesia seyogianya harus bisa juga dibayangkan sebagai ternak sembelihan yang semestinya dibagi-bagi kepada seluruh rakyat secara adil dan transparan.
.
3. JAMBAR ULAON
.
Jambar ulaon menunjuk kepada pengakuan kultur Batak bahwa tiap-tiap orang harus diikutsertakan dan dilibatkan dalam pekerjaan publik. Dalam even pertemuan komunitas Batak tidak ada penonton pasif, sebab semua orang adalah peserta aktif. Tiap-tiap orang adalah partisipan (parsidohot) dan pejabat (partohonan). Dari kedalaman jiwanya orang Batak sangat rindu diikutsertakan dan dilibatkan dalam pekerjaan publik atau komunitas.
.
Pada dasarnya orang Batak rindu memiliki peran dan kedudukan dalam komunitas dan masyarakatnya (termasuk gerejanya). Jika ia tidak memiliki peran dan kedudukan itu, maka kemungkinan yang terjadi cuma dua: si orang Batak ini akan pergi menjauh atau “menimbulkan keonaran”. Sebaliknya jika dia disertakan atau dilibatkan, sebagai parsidohot dan parjambar dan partohonan maka dia akan berusaha memikul dan menanggung pekerjaan itu sebaik-baiknya dan dengan sekuat tenaganya (termasuk berkorban materi). Mengapa laki-laki Batak begitu rajin dan betah di pesta adat? Sebab di sana mereka memiliki peran dan kedudukan!
.
4. JAMBAR DAN NASIB
.
Namun komunitas Kristen-Batak sekarang tetap harus mewaspadai seandainya masih ada sisa-sisa kaitan jambar dengan pemahaman nasib (sibaran, bagian, turpuk). Kekristenan jelas-jelas menolak konsepsi tentang nasib (predestinasi), yaitu anggapan bahwa kehidupan, kinerja dan prestasi seseorang sudah ditentukan sebelumnya jauh sebelum dia lahir. Kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitanNya kembali dari antara orang mati telah menghapuskan nasib ini. Yang lama telah berlalu sebab yang baru telah tiba (II Kor 5:17). Bagi orang percaya tidak ada yang mustahil sebab itu tidak ada juga nasib ( Luk 1:37, Kej 18:1 ). Tuhan tidak pernah merencanakan kecelakaan tetapi masa depan yang penuh pengharapan bagi kita (Yer 29:30). Sebab itu bagi kita komunitas Kristen-Batak jambar tidak boleh diartikan sebagai nasib. Itu artinya pemahaman tentang jambar harus didasarkan kepada Firman Tuhan.
.
Bagi kita komunitas Kristen-Batak jambar memiliki makna baru: yaitu simbol hidup berbagi yang diteladankan oleh Yesus. Yaitu sebagaimana Yesus telah rela mati di kayu salib memecah-mecah tubuhNya dan mencurahkan darahNya untuk kehidupan dan kebaikan semua orang, maka kita juga harus selalu membagi-bagi sumber daya kehidupan atau berkat yang kita terima kepada sesama.
.
Dalam kehidupan sehari-hari kita mau menyatakan bahwa sumber-sumber daya ekonomi, sosial dan politik serta budaya yang ada di masyarakat dan negara harus dibagi-bagi dan didistribusikan secara adil dan merata, dengan semangat solidaritas (kesetiakawanan).
.
5. PERSATUAN DAN KEADILAN
.
Budaya Jambar adalah simbol PERSATUAN dan KEADILAN sekaligus. Dengan memberikan kepada tiap-tiap orang dan kelompok apa yang menjadi hak-haknya (hak bicara, hak mendapat bagian dalam sumber daya, dan hak berperan) keadilan diwujudkan dan persatuan diteguhkan pada saat yang sama. Persatuan tanpa keadilan adalah penindasan. Keadilan tanpa persatuan adalah permusuhan. Sebab itu: Persatuan Indonesia pun harus dimengerti dan dihayati dalam rangka Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
.
6. TEOLOGI JAMBAR DALAM GEREJA
.
Sebagai gereja yang anggotanya sebagian besar atau hampir semua berlatar-belakang Batak, HKBP mau tak mau harus menyadari kultur parjambaran ini. Bahwa pada dasarnya tiap-tiap anggota HKBP harus memiliki hak bicara (jambar hata), hak menikmati berkat (jambar juhut) dan hak berperan (jambar ulaon). Bagaimanakah kita mengakomodir kultur jambar ini ini dalam liturgi, persekutuan, pelayanan, organisasi dan seluruh ekspressi beribadah dan berjemaat HKBP kita?
.
Sebagai orang yang menghayati kultur Batak, seyogianya kita sadar bahwa warga (ruas) HKBP sangat merindukan dan mengharapkan diterima dan diakui sebagai parsidohot (perserta), parjambar, partohap (pemegang hak), parnampuna (pemilik) dan panean (pewaris) di gereja HKBP. Anggota HKBP dari kedalaman jiwanya tidak suka hanya sekedar jadi penonton atau pendengar pasif. Mereka ingin berperan dan terlibat dalam seluruh kehidupan ber-HKBP.
.
Banyak contoh menyebutkan jika anggota HKBP diberi peran maka dia akan melaksanakan peran itu sebaik-baiknya. Jika perannya dalam ibadah hanyalah bernyanyi tentu saja dia cuma membawa Buku Ende ke gereja. Sebaliknya jika perannya termasuk membaca Alkitab, maka dia tentu akan membawa Alkitab juga ke gereja. Selanjutnya jika anggota jemaat diberi peran untuk melayani maka dia akan membawa segala hal yang diperlukan untuk pelayanan itu dan akan bersukacita tinggal dan bertahan dalam HKBP. Pertanyaan: ingin anggota HKBP tidak lari ke tempat lain?
Jawaban: berilah dia peran dan kedudukan dan tanggungjawab di HKBP!
.
7. APA KATA ALKITAB?
.
Apa kata Alkitab tentang jambar? Yesus mendesak Petrus agar menerima Tuhan membasuh kakinya supaya dia mendapat bagian (partohap) dalam Kristus (Yoh 13:8). Selanjutnya Yesus memuji Maria karena telah memilih bagian atau jambar atau tohap na umuli (Luk 10:42). Rasul Paulus mengatakan karena kematian Yesus di kayu salib kita mendapat bagian atau parjambar dalam kerajaan Allah dan semua janjiNya. (Ef 2:12, lihat juga Ef 1:11). Kita orang percaya adalah partohap dalam kasih karunia Allah (Flp 1:7). Selanjutnya penulis Ibrani mengatakan “ai nunga gabe partohap di Kristus hita, anggo gomos tatiop ro di ujungna pos ni roha, na di hita mulana” (Heb 3:14). Bahkan kita juga telah menjadi parjambar atau partohap dalam Roh Kudus (Heb/ Ibr 6:4). Rasul Petrus juga menyatakan bahwa kita orang beriman juga mendapat bagian (partohap) dalam kemuliaan Kristus di masa mendatang (I Pet 5:1).
.
Karena itulah sang pemazmur mengatakan “parjambarongku do Ho, ale Jahowa, nunga pola hudok, sai radotanku do HataMi” (Maz/ Psalm 119:57, lih. 73:26). “Jahowa do parjambarangku, ninna tondingku, dibaheni marhaposan tu Ibana ma ahu” (Andung 3:24)
.
Sumber :
Pdt. Daniel TA Harahap, MA
http://rumametmet.com

Adat Batak Bertentangan dengan Injil?

Jakarta, Bahana
.
Benarkah adat Batak bertentangan dengan Injil? Untuk menjawab pertanyaan ini dan sejumlah pertanyaan lain, Yayasan Gema Kyriasa menggelar seminar bertajuk “Adat Batak dan Injil; Apakah Benar Adat Batak Bertentangan dengan Injil?” belum lama ini di Jakarta.
.
Pdt. Ir. Mangapul Sagala, M. Div tampil sebagai pembicara tunggal dalam seminar yang sebagian pesertanya adalah orang tua. Mangapul menjelaskan bahwa letak permasalahan adanya polemik semacam ini karena kurangnya pemahaman orang-orang yang terlibat dalam polemik itu baik atas Injil maupun atas adat Batak.
.
Ia memberi contoh soal ulos (selendang). Mereka yang kontra adat berpendapat bahwa di dalam ulos ada kuasa gelap sehingga dapat mengikat orang yang memakainya dan menyebabkan kehidupan orang tersebut tidak bertumbuh. Terhadap pendapat ini Mangapul dengan tegas menolak. “Saya menolak penilaian itu karena ibu saya penenun ulos di Tapanuli, dan saya tidak pernah mengamati adanya kuasa gelap dalam pembuatan atau penenunan ulos itu,” tegas pria berbadan gelap ini.
.
Lantas bagaimana menempatkan Injil di depan adat dan sebaliknya adat di hadapan Injil? Menurut Mangapul, sikap yang rasional dan elegan bukan menerima semua atau menolak semua adat. Tetapi bersikap selektif. Untuk itu lanjutnya, harus ada pemahaman yang baik dan mendalam terhadap injil.
.
(E. Dapa Loka)
Sumber : Majalah Bahana

Hamoraon dan Teologi Kemakmuran

ADA ANGGAPAN bahwa orang Batak cenderung materialistis atau menjadikan materi sebagai nilai tertinggi dalam kehidupan. Sebagaimana dikatakan dalam syair lagu ciptaan komponis Nahum Situmorang, selain hagabeon (memiliki banyak turunan) dan hasangapon (sangat dihormati), hamoraon (memiliki banyak harta) adalah cita-cita, falsafah atau orientasi hidup masyarakat Batak.
.
1. HAMORAON DALAM PANDANGAN TRADISIONAL BATAK
.
Mungkin kita dapat setuju bahwa pada dasarnya memang orang Batak sangat menjunjung tinggi kekayaan (hamoraon). Kekayaan dipandang sebagai kebajikan sementara kemiskinan dianggap sebagai nasib malang. Kaya (mamora) berarti memiliki banyak harta (godang arta). Pada jaman dahulu harta terdiri dari: sawah, ternak, rumah dan emas. Begitu banyak perumpamaan yang memuji nilai kekayaan ini:
.
Simbora gukguk, sai mamora ma hita luhut! Tangkas ma jabu suhat tangkasan ma jabu bona.
.
Tangkas ma hita maduma tangkasan ma hita mamora. Tubu dingin-dingin di tonga-tonga ni huta. Saur ma hita madingin tumangkas hita mamora.
.
Tonggi ma sibahut tabo ma pora-pora. Gabe ma hita huhut jala sude hita mamora.
.
Tubu ma tandiang di topi aek sibara-bara. Sai gok ma jolma di ginjang , gok ma pinahan di taumbara.
.
Tinaba hau sampinur di tombak simarhora-hora. Sai lam matorop ma hamu maribur lam marsangap jala mamora.
.
Andor ras andor ris andor ni simamora. Sai horas ma hita jala torhis sai rap gabe jala mamora.
.
Banyak tindakan kebajikan dilakukan orang Batak bukan semata-mata demi kebajikan itu sendiri namun dengan tujuan agar memperoleh kekayaan. Misalnya penghormatan kepada hula-hula dilakukan juga dalam rangka mendapatkan berkat kekayaan. Demikian pula pengormatan kepada orangtua yang telah meninggal dunia.
.
Nidurung situma laos dapot pora-pora. Molo buas iba tu hula-hula na pogos hian iba gabe mamora.
.
Dolok ni Lumban Julu hatubuan ni simarhora-hora. Nunga dipanangkok hamu saring-saring ni angka ompunta i ba sai gabe ma hamu jala mamora.
.
Kultur Batak pra-Kristen memang tidak terlalu mempersolkan sumber atau asal-usul kekayaan. Kekayaan bisa diperoleh karena kerja keras, warisan, menang berjudi, jarahan perang, tebusan gadai, “tangko raja” (pencurian yang luhur?) dan lain-lain. Molo malo iba na tinangko gabe na jumpang, molo oto iba na jumpang gabe na tinangko!
.
Namun kultur Batak juga menuntut sikap khusus dari orang kaya, yaitu kemurahan hati (marasi roha) atau kedermawanan. Orang kaya sejati digambarkan sebagai orang yang tikarnya tidak pernah digulung (karena selalu menerima tamu), bakul nasinya besar, dan talenan-nya tipis atau ringan karena selalu dipergunakan. Paramak so balunon, parsangkalan na neang, parbahul-bahul na bolon.
.
Begitu pentingnya kekayaan (hamoraaon) ini, bahkan menjadi tujuan hidup sehingga demi memperoleh kekayaan, banyak orang Batak-Kristen mengabaikan prosedur atau cara memperolehnya, atau cenderung menghalalkan segala cara. Orang kaya mendapat tempat terhormat, juga di kampung milik hula-hulanya. Sebagaimana disiratkan dalam umpama berikut: Ai hotang rasras do hotang singgoran bahen pangarahut ni ruma. Dos do raja dohot na mora marorot di bagasan huta. Semangat merantau atau meninggalkan Tanah Batak ke ke daerah-daerah lain juga sebagian besar juga merupakan cita-cita untuk kaya. Kemajuan diidentikkan dengan kekayaan. Kekayaan merupakan satu-satunya tanda sukses di perantauan.
.
Dalam kultur Batak pra-Kristen hamoraon (kekayaan) bukan saja menentukan status sosial seseorang namun dianggap sebagai suatu salah satu tanda yang absolut bahwa seseorang mendapat berkat. Karena itu kemiskinan dianggap sebagai bencana atau kutuk. Itulah juga yang menyebabkan kultur Batak pra-Kristen menganggap kekayaan begitu penting dan mulia, sebab itu sering diupayakan dengan segala cara.
.
Nilai hamoraon ini mempengaruhi peran sosial dan perilaku orang Batak sehari-hari. Banyaknya pemuda Batak yang memilih jurusan studi yang “basah” (cepat menghasilkan uang berlimpah) dan sedikitnya yang memilih jurusan studi yang “kering” (sulit menghasilkan uang berlimpah) haruslah dilihat dalam kerangka filsafat hidup ini. Begitu pula jenis-jenis profesi yang sangat diminati orang Batak (hukum, ekonomi, teknik) sebagian harus dilihat dalam konteks “keinginan menjadi kaya” (mamora). Satu hal yang sangat memprihatinkan orang Batak, karena ingin cepat kaya dan dapat untung, juga sangat banyak yang berprofesi sebagai rentenir, pedagang VCD porno, penjual togel.
.
2. HAMORAON DALAM PERSPEKTIF MODEREN
.
Komunitas Batak sekarang hidup dalam era moderen. Agar dapat survive di tengah masyarakat moderen maka komunitas Batak juga harus mengakomodir nilai-nilai modern termasuk tentang kekayaan. Bagaimana pandangan modernitas tentang nilai kekayaan?
.
Bagi masyarakat moderen dan demokratis, kekayaan diterima sebagai ganjaran yang wajar dan semestinya dari kerja keras, ketekunan, prestasi, kinerja dan talenta (bakat khusus) yang dikembangkan. Namun masyarakat moderen menolak kekayaan yang diperoleh dengan cara melawan hukum (korupsi, kolusi).
.
Kita harus menolak pemahaman yang memisahkan kekayaan dari hukum, moralitas dan hati nurani. Kekayaan dianggap baik dan mulia karena diperoleh dan digunakan berdasar kepada hukum dan moralitas serta mengindahkan hati nurani. Sebaiknya kekayaan yang diperoleh atau digunakan tidak berdasar hukum, moralitas dan hati nurani harus dianggap rendah dan memalukan.
.
Namun dalam masyarakat moderen kekayaan mesti diimbangi juga dengan ketaatan membayar pajak dan kedermawanan (semangat filantropi). Semain kaya seseorang ia harus makin jujur dan taat membayar pajak dan memberikan bantuan sosial. Itulah sebabnya di luar negeri orang-orang kaya menggunakan kekayaannya mendirikan yayasan sosial guna membagi-bagikan kekayaan itu kepada masyarakat (baca: sama sekali bukan untuk mendapatkan keuntungan!).
.
Selanjutnya bagi masyarakat moderen bentuk kekayaan bukan lagi hanya sawah, ternak atau emas, namun meluas. Pengetahuan, informasi, jaringan, bakat dan keahlian khusus, dan bahkan kesehatan juga dianggap sebagai asset atau kekayaan, bahkan yang terpenting.
.
3. HAMORAON DALAM PERSPEKTIF KRISTEN
.
Ada 4(empat) pertanyaan yang senantiasa harus diajukan sehubungan dengan kekayaan:
.
(1) Asal-usul. Dari manakah kekayaan itu berasal atau bersumber? Kekristenan menolak kekayaan yang diperoleh dengan cara korupsi atau mencuri. Hukum ke-8 berbunyi “Jangan mencuri!”. (baca: Jangan korupsi!). Bagi kekristenan bukan hanya tujuan menjadi kaya yang penting, tetapi terutama bagaimana cara menjadi kaya. Cara yang benar menjadikan tujuan benar. Cara yang salah membuat tujuan jadi salah.
.
(2) Pengelolaan. Bagaimana kita mengelola kekayaan itu? Kekayaan di tangan orang jahat akan cenderung digunakan untuk melakukan kejahatan. Sebaliknya di tangan orang baik, kekayaan akan digunakan untuk melakukan kebaikan juga. Hanya orang yang menjadi hamba Tuhanlah yang dapat menjadikan kekayaan sebagai hamba atau alat kebenaran dan kasih. Sebaliknya: orang yang menjadi hamba dosa, akan tidak dapat merajai kekayaannya namun malah menjadikan kekayaan sebagai majikan atau tuannya. Karena itulah Alkitab mengatakan “cinta uang akar segala kejahatan” (I Tim 6:10)
.
(3) Dampak. Apakah dampak kekayaan itu kepada orang yang bersangkutan? Ada kekayaan yang berdampak baik namun ada juga yang berakibat buruk. Sebagian orang setelah kaya semakin mendekat kepada Tuhan, namun sebagian lagi justru menjadi menjauh. Memang kekristenan menolak kekayaan dijadikan ukuran atau parameter menilai kemanusiaan seseorang. Kaya-miskin pada hakikatnya kemanusiaan seseorang sama di hadapan Tuhan. Begitu juga Tuhan menghendaki perubahan pemilikan harta atau kaya-miskin tidak mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan dan dengan juga orang yang kita cintai-mencintai kita.
.
Adalah wajar dan sah jika kita ingin hidup sejahtera dan berkecukupan. Tuhan juga menjanjikan hidup berkelimpahan kepada orang percaya (Yoh 10:10, Maz 23:5-6, II Kor 9:8). Namun kita dipesan agar kita melakukan kebajikan dan kasih demi kebajikan dan kasih itu sendiri, bukan karena pamrih.
.
(4) Tujuan atau motivasi. Apakah tujuan seseorang meraih kekayaan? Alkitab menolak kekayaan sebagai tujuan akhir (ultimate goal) dalam hidup. Tujuan akhir dalam hidup adalah memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama. Kekayaan tidak abadi, sebab itu tidak dapat dijadikan tujuan pertama dan terakhir dalam hidup ini. Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya maka semua itu akan ditambahkan kepadamu (Mat 6:34). Langit bumi akan berlalu namun Firman Allah tetap (I Pet 1:24-25). Namun uang itu dapat digunakan untuk berbuat kebajikan di dunia ini (Luk 16:1-9). Bahkan Alkitab menjadikan uang sebagai alat untuk menguji kesetiaan iman. Barangsiapa dapat dipercaya soal uang, dapat dipercaya juga soal iman. (Luk 16:10). Sebaliknya siapa korup soal uang akan korup juga soal iman!
.
Kekristenan memahami kekayaan (yang diperoleh secara benar) sebagai berkat Tuhan sekaligus sebagai godaan. Kekayaan tidak otomatis sebagai berkat. Sama seperti kemiskinan dibalik kekayaan juga ada godaan dan resiko. (Amsal 30:1-7)
.
Kritik kita kepada “teologi kemakmuran” adalah karena menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya tanda atau bukti utama berkat Tuhan. Itu artinya: semua orang kaya otomatis orang yang diberkati oleh Tuhan. (walaupun kaya karena mencuri, korupsi dan kolusi) Sebaliknya semua orang miskin pastilah tidak diberkati oleh Tuhan (walaupun miskin karena jujur, adil dan benar). Padahal Tuhan justru memberkati orang jujur, adil dan benar (walaupun struktur dan sistem politik-ekonomi yang tidak adil sering menjadikan mereka miskin.
.
Sumber :
Pdt. Daniel TA Harahap, MA
Home: http://rumametmet.com

Darah Batak dan Jiwa Protestan

1. INJIL DATANG KE TANAH (JIWA BATAK)
.
BERABAD-ABAD suku bangsa Batak hidup terisolasi di Tanah Batak daerah bergunung-gunung di pedalaman Sumatera Bagian Utara. Pada waktu yang ditentukanNya sendiri, Allah mengirim hamba-hambaNya yaitu para missionaries dari Eropah untuk memperkenalkan INJIL kepada kakek-nenek (ompung) dan ayah-ibu kita yang beragama dan berbudaya Batak itu. Mereka pun menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruslamat. Mereka tidak lagi bergantung kepada dewa-dewa dan roh-roh nenek moyang yang mati tetapi beriman kepada Allah Tritunggal (Bapa, Anak dan Roh Kudus) yang hidup. Mereka berpindah dari gelap kepada terang, dari keterbelakangan kepada kemajuan, dan terutama dari kematian kepada kehidupan yang kekal. Injil telah datang
dan merasuk ke Tanah (baca: jiwa) Batak!
.
2. MENERIMA INJIL DAN TETAP BATAK
.
Namun penerimaan kepada Kristus sebagai Tuhan, Raja dan Juruslamat tidaklah membuat warna kulit kakek-nenek kita berubah dari “sawo matang” menjadi “putih” (bule), atau mengubah rambut mereka yang hitam menjadi pirang. Mereka tetap petani padi dan bukan gandum, memakan nasi dan bukan roti, hidup di sekitar danau Toba dan bukan di tepi sungai Rhein. Penerimaan Kristus itu juga tidak mengubah status kebangsaan mereka dari “Batak” menjadi “Jerman”. Sewaktu menerima Injil dan dibabtis dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus kakek-nenek dan ayah-ibu kita tetaplah tinggal Batak dan hidup sebagai masyarakat agraris Sumatera dengan segala dinamika dan pergumulannya. Para missionaries itu juga tidak berusaha mencabut kakek-nenek dan ayah-ibu kita yang Kristen itu dari kebatakannya dan kehidupan sehari-harinya. Bahkan mereka bersusah-payah menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Batak agar kakek-nenek kita dapat mengerti dan menghayati Firman Tuhan itu dengan baik sekali. Selanjutnya melatih mereka memuji dan berdoa kepada Kristus yang baru mereka kenal itu juga dengan bahasa Batak (baca: bukan Inggris atau Yahudi).
.
3. INJIL DAN KOMUNITAS BATAK MODEREN
.
Injil itu kini juga sampai kepada kita sekarang. Sebagaimana kakek-nenek dan ayah-ibu kita dahulu kita sekarang pun menerima dan mengakui Kristus sebagai Tuhan, Raja dan Juruslamat, Anak Allah yang hidup. Melalui iman kepada Kristus itulah kita menerima hidup baru yang kekal, pengampunan, berkat, damai sejahtera Allah dan Roh Kudus. (Yoh 3:16). Sama seperti kakek-nenek dan ayah-ibu kita dahulu, kita yang sekarang pun mengalami bahwa babtisan dan kekristenan tidaklah mengubah warna kulit kita dari sawo matang menjadi putih. Juga tidak mengubah kita dari Batak-Indonesia menjadi Eropah-Amerika. Sebagai pengikut Kristus rupanya kita tidak harus menjadi orang yang berbahasa dan berbudaya lain. Tidak ada bahasa dan budaya atau status social tertentu yang mutlak menjamin kita lebih dekat kepada Kristus. (Gal 3:28) Tidak ada juga bahasa yang menghalangi kita datang kepadaNya.
.
4. FIRMAN MENJADI MANUSIA
.
Firman telah menjadi manusia sama dengan kita dan tinggal di antara kita (Yoh1:14). Itu artinya Itu dapat diartikan bahwa Firman itu juga telah menjadi manusia Batak dan hidup diantara kita orang yang berjiwa dan berkultur Batak juga. Sebab itu tidak ada keragu-raguan kita untuk menyapa, memuji dan berdoa kepada Allah dengan bahasa, idiom, terminologi, simbol, ritme, corak dan seluruh ekspressi kultur Batak (termasuk Indonesia dan modernitas) kita Mengapa? Sebab Tuhan Yesus Kristus lebih dulu datang menyapa kita dengan bahasa Batak yang sangat kita pahami dan hayati.
.
5. DAHULU DAN SEKARANG
.
Bagaimanakah kita menyikapi tortor, gondang dan ulos Batak sebagai orang Kristen? Memang harus diakui bahwa pada awalnya – jaman dahulu – tortor dan gondang adalah merupakan ritus atau upacara keagamaan tradisional Batak yang belum mengenal kekristenan. Harus kita akui dengan jujur bahwa leluhur kita yang belum Kristen menggunakan seni tari dan musik tortor dan gondang itu untuk menyembah dewa-dewanya dan roh-roh, selain membangun kebersamaan dan komunalitas mereka. Disinilah kita sebagai orang Kristen (sekaligus Batak-Indonesia) harus bersikap bijaksana, jujur, dan hati-hati serta kreatif. Kita komunitas Kristen Batak sekarang mau menerima seni tari dan musik Tortor dan Gondang Batak warisan leluhur pra kekristenan itu namun dengan memberinya makna atau arti yang baru. Tortor dan gondang tidak lagi sebagai sarana pemujaan dewa-dewa dan roh-roh nenek moyang tetapi sebagai sarana mengungkapkan syukur dan sukacita kepada Allah Bapa yang menciptakan langit dan bumi, Tuhan Yesus Kristus yang menyelamatkan kita dari dosa, dan Roh Kudus yang membaharui hidup dan mendirikan gereja. Bentuknya mungkin masih sama namun isinya baru. Ini mirip dengan apa yang dilakukan gereja purba dengan tradisi pohon natal. Pada awalnya pohon terang itu adalah tradisi bangsa-bangsa Eropah yang belum mengenal Kristus namun kemudian diberi isi yang baru, yaitu perayaan
kelahiran Kristus. Begitu juga dengan tradisi telur Paskah, Santa Claus dll.
.
6. MENGACU KEPADA ALKITAB
.
Dalam Alkitab kita juga pernah menemukan problematika yang sama. Di gereja Korintus pernah ada perdebatan yang sangat tajam apakah daging-daging sapi yang dijual di pasar (sebelumnya dipersembahkan di kuil-kuil) boleh dimakan oleh orang Kristen. Sebagian orang Kristen mengatakan “boleh” namun sebagian lagi mengatakan “tidak”. Rasul Paulus memberi nasihat yang sangat bijak. “Makanan tidak mendekatkan atau menjauhkan kita dari Tuhan. Makan atau tidak makan sama saja.” (I Kor 8:1-11). Keadaan yang mirip juga terjadi di gereja Roma: apakah orang Kristen boleh memakan segalanya. (I Kor 14-15). Rasul Paulus memberi nasihat “Kerajaan Allah bukan soal makanan atau minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (I Kor 14:17). Kita boleh menarik analogI dari ayat-ayat ini untuk persoalan tortor dan gondang dan juga ulos. Benar bahwa tortor dan gondang dahulu dipakai untuk penyembahan berhala, namun sekarang kita pakai untuk memuliakan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.. Selanjutnya: kita sadar bahwa kekristenan bukanlah soal makanan, minuman, jenis tekstil atau musik, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita Roh Kudus.
.
Nasi sangsang atau roti selai tidak ada bedanya di hadapan Tuhan. Tenunan ulos Batak dengan batik Jawa atau brokart Prancis sama saja nilainya di hadapan Kristus. Taganing atau orgel adalah sama-sama alat yang tidak bernyawa dan netral. keduanya dapat dipakai memuliakan Allah (atau sebaliknya bisa juga untuk menghinaNya).
.
7. MENGGARAMI DAN MENERANGI BUDAYA
.
Persoalan sesungguhnya adalah: bagaimana sesungguhnya hubungan antara iman Kristen dan budaya. Dalam Matius 5:13-16 Tuhan Yesus menyuruh orang Kristen untuk menggarami dan menerangi dunia. Itu artinya Tuhan Yesus menyuruh kita mempengaruhi, mewarnai, merasuki, memperbaiki realitas sosial, ekonomi, politik dan budaya yang ada.
.
Itu artinya sebagai orang Kristen kita dipanggil bukan untuk menjauhkan diri atau memusuhi budaya (tortor, gondang dan ulos) namun untuk menggarami dan meneranginya dengan firman Tuhan, kasih dan kebenaranNya. Bukan membakar ulos tetapi memberinya makna baru yang kristiani. Namun sebaliknya kita juga diingatkan agar tidak terhisab atau tunduk begitu saja kepada tuntutan budaya itu! Agar dapat menggarami dan menerangi budaya (tortor, gondang dan ulos dll) kita tidak dapat bersikap ekstrim: baik menolak atau menerima secara absolut dan total. Kita sadar sebagai orang Kristen bahwa kita hanya tunduk secara absolute kepada Kristus dan bukan kepada budaya Sebaliknya kita juga sadar bahwa sebagai orang Kristen (di dunia) kita tidak dapat mengasingkan diri dari budaya. Lantas bagaimana? Disinilah pentingnya membangun sikap kreatif dan kritis dalam menilai hubungan iman Kristen dan budaya Batak itu, termasuk tortor dan gondang serta ulos. Mana yang baik dan mana yang buruk? Mana yang harus dipertahankan dan mana yang harus diubah? Mana yang relevan dengan kekristenan, Indonesia dan modernitas dan mana yang tidak lagi relevan?
.
8. TORTOR DAN GONDANG KRISTIANI
.
Kita akui jujur sebelum datangnya kekristenan tortor dan gondang adalah sarana untuk meminta kesuburan (sawah, ternak, dan manusia), menolak bala dan atau menghormati dewa-dewa dan roh nenek moyang. Bagi kita orang Kristen tortor dan gondang bukanlah sarana membujuk Tuhan Allah agar menurunkan berkatNya, namun salah satu cara kita mengekspressikan atau menyatakan syukur dan sukacita kita kepada Allah Bapa yang kita kenal dalam Yesus Kristus dan membangun persekutuan sesama kita. Selanjutnya sebelum datangnya kekristenan gondang dianggap sebagai reflektor atau yang memantulkan permintaan warga kepada dewa-dewa. Bagi kita yang beriman Kristen gondang itu hanyalah alat musik belaka dan para pemainnya hanyalah manusia fana ciptaan Allah. Kita dapat menyampaikan syukur dan atau permohonan kita kepada Allah Bapa tanpa perantara atau reflektor kecuali Tuhan Yesus Kristus. Dahulu bagi nenek moyang kita sebelum kekristenan, tortor dan gondang, sangat terikat kepada aturan-aturan pra-kristen yang membelenggu: misalnya wanita yang tidak dikaruniai anak tidak boleh manortor dengan membuka tangan. Bagi kita yang beriman Kristen sekarang, tentu saja semua orang boleh bersyukur dan bersukacita di hadapan Tuhannya termasuk orang yang belum atau tidak menikah, belum atau tidak memiliki anak, belum atau tidak memiliki anak laki-laki. Semua manusia berharga di mata Tuhan dan telah ditebusNya dengan darah Kristus yang suci dan tak bernoda (I Pet 1:19).
.
Sumber :
Pdt. Daniel TA Harahap
http://rumametmet.com

Dalihan Na Tolu

DALIHAN NA TOLU (TUNGKU TIGA BATU)
.
DALIHAN NA TOLU pada dasarnya berarti tungku (tataring) yang terbuat dari tiga buah batu yang disusun. Tiga buah batu itu mutlak diperlukan menopang agar belanga atau periuk tidak terguling. Selanjutnya di kemudian hari istilah dalihan na tolu ini dipergunakan untuk menunjuk kepada hubungan kekerabatan yang diakibatkan oleh pernikahan, yaitu dongan tubu (pihak kawan semarga), hula-hula (pihak “pemberi perempuan”) dan boru (pihak “penerima perempuan”). Sebab itu dalihan na tolu adalah konstruksi sosial yang diciptakan oleh suatu masyarakat dan budaya Batak. Dalihan na tolu bukanlah wahyu atau sesuatu yang alami dan terjadi dengan sendirinya. Dalihan na tolu adalah produk budaya Batak.
.
1. BERKEMBANG DALAM SEJARAH
.
Jika kita melihat secara kritis kultur Batak termasuk dalihan na tolu sebenarnya bukan sesuatu yang statis atau beku tetapi juga mengalami pergeseran dan perkembangan dalam sejarah. Sebagai contoh penghormatan terhadap hula-hula justru semakin kuat dengan datangnya kekristenan. Mengapa? Sebab sulit kita membayangkan bahwa nenek moyang kita dapat memberi penghormatan yang sama tingginya kepada tiap hula-hula jika dia memiliki istri lebih dari satu. Lebih sulit lagi membayangkan nenek-moyang kita dapat menghormati hula-hula dari selir (rading) atau istri yang diperolehnya secara paksa dari peperangan atau bekas hambanya. Namun dengan masuknya kekristenan yang membuat pernikahan orang Batak menjadi monogami dan permanen (abadi) maka dampaknya penghormatan terhadap hula-hula juga semakin kuat. Semakin baik pernikahan maka penghormatan kepada hula-hula juga semakin baik.
.
Contoh lain menunjukkan pergeseran dalihan na tolu: Pada jaman dahulu tidak semua even pertemuan Batak dihadiri oleh tulang atau hula-hula (kecuali pesta besar). Hal ini dapat dimaklumi karena hula-hula atau tulang tinggal di kampung yang lain yang jauh (kecuali bagi sonduk hela, orang yang menetap di kampung hula-hulanya). Namun keadaan ini berubah dengan migrasi orang Batak ke luar Tapanuli. Kampung dan kota di luar Tapanuli bersifat majemuk (multi marga, multi suku). Banyak orang kini tinggal sekampung atau bahkan bertetangga dengan hula-hula atau tulang-nya. Apakah
dampaknya? Interaksi antara hula-hula dan boru semakin intensif. Jika ada acara di rumah banyak orang jadi sungkan jika tidak mengundang tulang atau hula-hula yang kebetulan menjadi tetangga atau tinggal sekota dengannya.
.
Pada jaman dahulu ketika nenek moyang kita masih menetap di Tanah Batak kampung identik dengan marga. Artinya “dongan sahuta” hampir identik dengan “dongan tubu”. Namun dengan migrasi orang Batak ke Sumatera Timur dan kota-kota lain keadaan berubah. Dongan sahuta tidak lagi otomatis dongan tubu (kawan semarga). Dampak perubahan demografi ini peranan dongan sahuta (parsahutaon) yang terdiri dari multi marga ini semakin besar di kota-kota. Jonok dongan partubu jumonok dongan parhundul.
.
2. MANAT MARDONGAN TUBU, ELEK MARBORU, SOMBA MARHULA-HULA
.
Jika kita perhatikan kampung-kampung tradisional di Tapanuli dihuni oleh orang-orang yang semarga. Dongan tubu karena itu adalah teman untuk mengerjakan banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Sebab itu kita harus memperlakukan dongan tubu secara hati-hati (manat). Kehati-hatian pada dasarnya adalah bentuk lain dari sikap hormat. Nasihat ini relevan sebab justru kehati-hatian sering kali hilang karena merasa terlalu dekat atau akrab. Hau na jonok do na masiososan. Selanjutnya Elek marboru merupakan nasihat bahwa boru harus senantiasa dielek atau dianju (dibujuk). Boru adalah penopang dan penyokong. Sebab itu mereka senantiasa diperlakukan dengan ramah-tamah dan lemah-lembut agar mereka tidak sakit hati dan kemudian membiarkan hula-hula-nya. Namun sebaliknya: Bagi orang Batak pra-Kristen hula-hula memang dipandang sebagai mata ni ari bisnar, sumber berkat dan kesejahteraan, sebab itu harus disembah (somba marhula-hula).
.
Lantas bagaimana dengan kita orang Kristen? Prinsip-prinsip dalihan na tolu ini dapat terus kita pertahankan sebagai kontsruksi budaya yang positif. Namun makna somba marhula-hula harus kita beri warna baru. Sebab bahasa Batak tidak membedakan istilah hormat dan sembah. Sementara sebagai orang Kristen kita mengakui bahwa Tuhanlah sumber berkat satu-satunya. Hula-hula atau mertua hanyalah salah satu (baca: bukan satu-satunya) saluran atau distributor berkat yang dipakai Tuhan.
.
Selanjutnya sebagai orang Kristen dan moderen, kita juga harus memperkaya prinsip dalihan na tolu ini dengan semangat egalitarian (kesetaraan). Pada dasarnya tiap-tiap orang, tanpa kecuali, harus kita hormati. Tiap-tiap orang (apapun suku, ras, profesi, pendidikan, jenis kelamin, agama dan tingkat ekonominya) pantas mendapat hormat. Kita wajib menghormati hula-hula, melindungi boru dan memperlakukan hati-hati dongan tubu kita tanpa memandang latar belakang ekonominya, pendidikan, pangkat atau jabatannya.
.
3. SIRKULASI PERAN DAN JABATAN
.
Inti atau substansi kultur dalihan na tolu adalah sirkulasi dan distribusi peran dan jabatan. Dalam kultur Batak setiap orang tidak mungkin terus-menerus dihormati sebagai hula-hula. Hari ini menjadi boru, esok menjadi dongan tubu, lusa menjadi hula-hula. Hari ini duduk dilayani besok melayani. Tidak ada orang yang mutlak selama-lamanya (dondon pate) dihormati. Tidak ada juga orang yang selama-lamanya berada di bawah melayani!
.
Masyarakat Batak sangat sadar akan arti ruang atau tempat dan even. Peran dan kedudukan seseorang sangat dinamis sebab tergantung ruang dan even (ulaon). Sirkulasi peran dan jabatan ini merupakan kontribusi masyarakat Batak bagi gereja dan masyarakat. Bahwa semua orang harus bergantian melayani dan dilayani, menghormati dan dihormati. Tidak ada yang terus-menerus boleh menjadi kepala atau pemimpin.
.
Ini sangat relevan dengan dunia modernitas. Kepemimpinan moderen tergantung kepada even dan ruang dan waktu. Tidak ada orang yang boleh mengklaim menjadi pemimpin di setiap even, di semua ruang dan sepanjang waktu. Ini juga relevan dengan iman Kristen yang memandang semua manusia setara di hadapan Tuhan (Gal 3:28) dan harus diperlakukan dengan hormat dan kasih (Roma 12:10, II Pet 1:7, Yoh 13:14, 34)
.
4.HUKUM BERBALASAN POSITIF
.
Selanjutnya dalihan na tolu merupakan perwujudan prinsip hukum berbalasan. Sisoli-soli do uhum siadapari do gogo. Saling berbalas adalah hukum dan saling berganti merupakan kekuatan. Boru memberikan juhut (daging) dan hula-hula menyambut dan memberikan boras dohot dengke (beras dan ikan). Boru memberikan piso-piso (uang) dan hula-hula merespons dengan memberi doa memohon berkat. Hula-hula memberikan ulos dan boru membalas dengan uang.
.
Prinsip berbalasan positif (sisoli-soli) ini bertujuan untuk mewujudkan keadilan atau kesejahteraan bersama. Beban dan keuntungan dibagi dan dipikul bersama. Hula-hula, dongan tubu dan boru harus sama-sama bersukacita dan beruntung. Tidak boleh ada pihak yang ingin menang dan nikmat sendiri!
.
Namun prinsip dalihan na tolu tetap harus dimurnikan senantiasa dengan KASIH AGAPE atau kasih tanpa mengharapkan balasan yang diajarkan Yesus. Yesus memang tidak pernah melarang kita membalas yang baik (seluruh ayat Alkitab hanya melarang membalas yang jahat), namun Dia menghendaki agar kita belajar juga mengasihi dan memberi tanpa mengharapkan balasan (pamrih).
.
5. KESETARAAN PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI
.
Tuhan Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan sebagai citra Allah (Kej 1:27). Laki-laki dan perempuan sama dan setara di hadapanNya (Gal 3:28). Kekristenan mengajarkan bahwa perempuan bukanlah manusia kelas dua atau bagian laki-laki. Perempuan juga bukan properti milik laki-laki yang dapat dijadikan objek transaksi atau perjanjian jual-beli. Sebab itu komunitas Kristen-Batak juga harus menempatkan dalihan na tolu dalam konteks kesetaraan (hadosan) dan keadilan (hatigoran) laki-laki dan perempuan.
.
Pada jaman dahulu hula-hula dianggap sebagai pemberi perempuan. Namun di jaman modern perempuan yang bebas dan otonom karena itu tidak boleh dijadikan objek apalagi “diserah-terimakan”. Perempuan adalah subjek atau pribadi. Pernikahan karena itu kini dianggap perjanjian dua pihak yang setara. Akibatnya secara tak langsung makna hula-hula pun bergeser bukan lagi sebagai “marga pemberi perempuan” namun “marga asal perempuan”.
.
Sinamot atau tuhor (uang mahar pernikahan( karena itu bukanlah keuntungan yang diperoleh dari transaksi perempuan tetapi harus diartikan sebagai biaya (cost) yang diperlukan untuk menciptakan sukacita bersama.
.
6. GEREJA MENCEGAH CHAOS
.
Gereja HKBP memiliki anggota yang mayoritas Batak (minimal sampai saat ini). Anggota HKBP karena itu juga dalam hidupnya menghayati dalihan na tolu. Salah satu prinsip dalihan na tolu adalah melarang pernikahan yang semarga. Gereja HKBP menerima prinsip melarang pernikahan semarga ini agar tidak terjadi chaos atau kekacauan di masyarakat. Sebagaimana dikatakan Rasul Paulus agar semuanya berlangsung secara teratur (I Kor 14:40) dan rapih tersusun (Ef 4:16)
.
7. DEPOLITISASI DAN DOMESTIKASI ADAT
.
Dahulu yang disebut adat Batak adalah segala sesuatu konsep, nilai, ide, hasil karya dan kegiatan orang Batak (menanam padi, membangun rumah, membuka kampung baru, berperang, mengikat perjanjian antar marga dll). Dalam perkembangan terakhir makna adat telah mengalami proses depolitisasi dan domestikasi. Kini adat Batak direduksi atau diminimalisasi menjadi sekedar ritus domestik (rumah tangga): ritus pernikahan, kelahiran dan kematian. Apa akibatnya? Peranan dalihan na tolu menjadi sangat dominan atau menonjol walaupun pada prakteknya kurang berpengaruh kepada kehidupan ekonomi dan politik komunitas Kristen-Batak itu sendiri. Sebab itu tantangan bagi kita sekarang adalah mencari dan menemukan hakikat atau esensi adat Batak itu sendiri agar tidak larut dan hanyut dalam ritus atau seremoni konsumtif belaka.
.
Sumber :
( Pdt. Daniel T.A. Harahap)
Home: http://rumametmet.com
Google Search Engine
Google
·

Guestbook of HKBP

·
·


Visitor Map