·
Tampilkan postingan dengan label Liputan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liputan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 September 2008

Seminarium Sipoholon Pasca Sinode Godang

Syukur bagi Tuhan Sinode Godang HKBP telah selesai dilaksanakan. Pimpinan HKBP yang baru juga telah terpilih. Berita ini tentu membuat semua jemaat atau warga HKBP bersukacita. Sukacita seperti ini bukan hanya bagi jemaat HKBP tetapi bagi warga Kristen pada umumnya. Kenapa tidak? Sinode godang yang dikabarkan ribut ternyata aman tentram. Sejuk....ada kesejukan ....sebagaimana diharapkan Panitia dan Pimpinan HKBP sebelumnya. Saat ini kompleks Seminarium sipoholon sudah mulai sepi di banding dengan keadaan selama ini. Umbul-umbul dan spanduk sudah mulai diturunkan, sampah-sampah dibersihkan sehingga keindahan Seminarium kembali tampak bagi para pengunjung. Demikian juga tenda-tenda tempat jualan sudah mulai dibongkar dan disimpan di satu tempat. Itu artinya akan dipergunakan kembali ketika kegiatan akbar terjadi
.
Bukan hanya itu saja. Masyarakat Simanungkalit sangat merasakan hasil yang sangat baik dari sinode godang ini. Selain kampung mereka dikunjungi tetapi jualan mereka habis terjual. Ketika salah seorang pemilik warung selama sinode ini ditanya berapa keuntungan yang didapat. Jawabnya: " Rp 3 juta....." Ha...., gaji sebulan seorang pegawai kantor Bupati. Jual apa saja rupanya? Ada Juice, makanan khas Batak, mie gorong, pokoknya semua jenis jualan diserbu peserta.
.
Sumber : Pdt. Pahala J. Simanjuntak, MTh

Sabtu, 06 September 2008

Hasil Akhir Pemilihan Kadep Diakonia HKBP

.
Akhirnya setelah makan malam panita mengitung perolehan suara kedua calon Kadep Diakonia, akhirnya .. haha (kaya film india)
.
Pdt Nelson 609 suara
Pdtt Plasthon 511 suara
Blanko 1 suara: Jumlah 1121 suara.
.
Dengan demikian secara resmi Pdt Nelson Flores Siegar terpilih kembali menjadi Kepala Departemen Diakonia HKBP Periode 2008-2012.
.
Ini adalah kali kedua beliau terpilih menjadi Kadep yang membidangi Pelayanan diakonia, ualon parasinirohaon, caritas emergency dan pelayanan kasih lainnya. Semoga bidang ini tetap menjadi perhatian khusus gereja ini, sebab peleyanan gereja mesti holistik menyentuh hidup kerohaanian dan tidak kurang perlunya adalah kehidupan jasmani, kemasyarakatan, dan ekonomi rakyat.
.
Dengan demikian lengkaplah Uluan Pimpinan HKBP Fungsionaris HKBP 2008-2012 :
.
Ephorus : Pdt Dr Bonar Napitupulu
Sekjend : Pdt Ramlan Hutahaean, MTh
Kadep Koinonia : Pdt Dr Jamilin Sirait
Kadep Marturia : Pdt Dr Binsar Nainggolan
Kadep Diakonia : Pdt Nelson Flores Siregar, STh.
.
52 Nama-nama Calon Praesses akan diumumkan hari ini untuk dipilih Sinodisten dari 98 nama Balon Praesses yang dipilih dalam Sinode-sinode Distrik.
.
Sumber : Bakti J Situmorang
.

Ruang Favourite di Sinode Godang HKBP 2008

Tahukah Anda Tempat apa yang paling diburu orang di sinode godang HKBP 2008? Inilah urutan berdasar kepentingan dan kesesakannya :
.
1. Ruang sidang saat akan sessi pemilihan; karena takut suaranya tidak tersalur; tapi tidak untuk ibadah. Biasanya orang lebih suka di luar kongkow2 sambil ngobrol, kecuali reunian.
.
2. Ruang /meja makan. karena takut antre terlalu panjang dan akhirnya kambuh maag.
.
3. Tempat snack; idem.
.
4. Kamar mandi; karena takut kebelet.
.
5. Lapo; minum dan ajang reuni sekaligus pamer hp hahaha….
.
6. Mungkin berikutnya adalah pemandian air hangat di Sipoholon; mandi2 sampai keringat.
.
Sumber : Bakti J Situmorang

Jumat, 15 Agustus 2008

Retreat NHKBP Duren Jaya Bekasi 2008

Retreat naposobulung HKBP Duren Jaya Bekasi, akan diadakan di villa Istana Bunga,lembang,Bandung...

pada tanggal 6-7september 2008,
biaya Rp.100.000...nett

dihimbau agar semua NHKBP DUREN JAYA BEKASI ikut serta dalam kegiatan tersebut...

God bless you all...

Jumat, 18 April 2008

Salib Kasih Berpotensi Jadi Primadona

.
Salib Kasih setinggi kurang lebih 30-an meter yang terletak di Bukit Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara, kini menjadi salah satu primadona baru tujuan wisatawan di Sumatera Utara. Lokasi wisata dengan latar belakang sejarah perkembangan agama Kristen di Sumatera Utara ini sangat potensial menarik wisatawan mancanegara, terutama wisatawan dari negara-negara terkait dengan pekabaran Injil di Tanah Batak, seperti Inggris, Jerman, Belanda, Amerika dan sebagainya. Tinggal bagaimana pengelola lokasi wisata rohani ini mengemasnya supaya menjadi konsumsi menarik bagi wisatawan yang datang berkunjung. Seperti diketahui, hingga saat ini belum ada kegiatan-kegiatan menarik yang dikemas secara rutin di lokasi wisata ini, kecuali kegiatan kebaktian bersama dan penyediaan bilik-bilik doa. Padahal kalau dipikir-pikir, jika hanya untuk sekedar kebaktian bersama atau sekedar berdoa, kenapa harus jauh-jauh ke Salib Kasih?
.
Jika ingin mengembangkan lokasi Pariwisata Salib Kasih lebih baik dan bermasa depan cerah, maka perlu dipikirkan pengadaan kegiatan-kegiatan rutin terkait dengan latar belakang sejarah keberadaan Salib Kasih itu sendiri. Kegiatan-kegiatan rutin tersebut dimaksudkan untuk menghindari rasa jenuh para wisatawan yang datang berkunjung. Pemberdayaan masyarakat di sekitar lokasi Salib Kasih itupun perlu dipikirkan, paling tidak sebagai guide atau penyambung lidah sejarah tentang keberadaan Salib Kasih. Bila perlu, semua warga di sekitar Salib Kasih harus tahu sejarah keberadaan Salib Kasih atau paling tidak mereka harus dibekali penyuluhan tentang sejarah perkembangan agama Kristen di Tanah Batak sebagai cikal bakal terbentuknya Salib Kasih di desa mereka. Ini juga akan menjadi kegiatan rutin yang tidak harus mengeluarkan biaya besar bagi pengelola. Soalnya tidak lucu, kalau ada wisatawan yang bertanya kepada warga setempat tentang Salib Kasih, si warga tidak tahu memberi jawaban yang dapat memuaskan hati wisatawan. Paling parah lagi, jika ada warga setempat tentang Ompui, DR.I.L. Nommensen, sebagai penanam sejarah utama keberadaan Salib Kasih. Hal ini perlu diantisipasi pengelola, dan jangan sampai menyepelekannya. Bukankah nilai sejarah akan lebih berarti jika banyak orang yang selalu mengenang sejarah tersebut? Salib Kasih akan lebih bersinar dan menjadi kerinduan setiap warga nasrani di seluruh dunia, jika tokoh di balik sejarahnya menjadi buah bibir yang menarik. Bayangkan jika ada warga Silindung atau Tarutung, Tapanuli Utara tidak tahu sama sekali tentang DR.I.L. Nommensen, padahal pertanda sejarahnya berupa Salib Kasih mungkin setiap hari bertengger di pelupuk mata. by Ams
.
Sumber : Artista, Desember 2007

.

Jumat, 04 April 2008

M. Simarmata, Tokoh Jemaat HKBP Palembang Sudah Tiada

Amang M. Simarmata, seorang tokoh jemaat HKBP Palembang yang disegani dan dihormati itu ternyata telah berpulang pada tanggal 16 Maret 2008 yang lalu. Beliau sangat berjasa di masa-masa konflik internal HKBP tahun 90-an yang lalu, bahkan sampai akhir hayatnya. Beliau selalu menawarkan bantuannya kepada gereja HKBP Palembang tanpa diminta Pendeta atau Sintua. Amang ini sudah lama dicalonkan jadi Sintua namun selalu menolak. Beliau selalu berkata mesti ada yang jadi ruas (jemaat) dan ada yang jadi Sintua dan Pendeta. Kalo semua jadi Sintua dan Pendeta, siapa lagi yang jadi ruas(jemaat)-nya. Memang, penyandang Bintang Nararya ini dikenal sangat tegas dan disiplin namun low profile.
.
Leadershipnya terlihat menonjol di saat-saat konflik tersebut. Amang inilah yang menghadap Pangdam, Kasdam, dan Kapolda sehingga tercipta "status-quo". Amang inilah juga yang mengkoordinir keamanan dalam menghadapi para preman yang dikirim dari Riau sebanyak 2 truk oleh, yang mengaku-ngaku dari, kubu Tiara. Amang ini sebenarnya juga tidak pro-SSA, namun beliau tidak mau gerejanya diacak-acak oleh orang luar. Karena beliau telah menjadi jemaat HKBP Palembang dari tahun 1964. Ya, beliau adalah salah seorang sesepuh Batak di Palembang bersama Amang Prof.Dr. BIT Tamba dan lain-lain yang bersama-sama sepakat bahwa gereja HKBP Palembang harus bersih dari konflik HKBP di Pusat. Kebetulan beliau adalah seorang sesepuh jemaat HKBP yang berasal dari angkatan. Beliau, seperti halnya amang Prof. Tamba, mampu berkomunikasi ke seluruh lapisan masyarakat, dari lapisan paling bawah sampai paling atas di Sumsel.
.
Amang pendeta waktu itu ada Amang Pdt. Parhusip, Amang Pdt. Saragih, Amang Pdt. Daniel Harahap, dll. Amang Pdt. Daniel Harahap waktu itu masih muda, namun terlihat tidak seberani sekarang. Walaupun dalam tulisannya Amang Pdt. Daniel Harahap terlihat menyepelekan peran amang M.Simarmata ini (Amang ini sudah tau akan adanya tulisan Amang Pdt DTA itu, beliau kecewa, tapi cuma bilang pendeta itu kan manusia juga), namun justru amang inilah dulu yang melindungi mereka, walaupun sudah dilarang anak-anaknya karena menurut anak-anaknya ikut-ikut konflik HKBP tidak ada gunanya. Toh, tidak akan ada pendeta HKBP yang mengingatnya. Memang sih, tidak ada pendeta HKBP yang dulu dibelanya turut mengucapkan duka cita. Tragis memang...
.
Amang M.Simarmata ini adalah seorang anggota POLRI yang berasal dari Brimob, pemegang bintang Nararya, dan seorang lulusan Diplom Criminolog (setara S1) dari Jerman Barat. Kisah perjuangan hidup amang ini sudah melegenda di Palembang, karena beliau memulainya di Palembang dari nol.
.
Amang ini dikebumikan di TPU Sugih Waras, Palembang, walaupun sebenarnya beliau berhak dimakamkan Taman Makam Pahlawan karena memiliki Bintang Nararya. Selamat Jalan Amang...
.
Sumber :

Rabu, 28 November 2007

Evolusi Lewat Musik

Dinamika Gereja Kharismatik juga ada hikmahnya bagi HKBP melakukan, salah satunya, memainkan musik band dan song leader pada acara kebaktian. Tujuannya, untuk menarik simpati anak-anak muda. Tentu,setiap hal yang baru, selalu ada pro kontra.
Tak jelas idenya kapan muncul dan dari mana pertama dimulai. Kenyataanya, sejumlah gereja-gereja besar di lingkungan HKBP - khususnya kota-kota besar – mulai melakukan terobosan baru, mengiringi acara kebaktian dengan full band (seperangkat alat-alat musik modern) dan song leader (penyanyi pemandu). Dengan demikian, musik kebaktian yang selama ini cukup dengan organ, sudah ditinggalkan. HKBP menyebutkan kebaktian alternatif. Tujuannya, agar warga HKBP tak lagi merasa monoton selama mengikuti kebaktian.
.
Sejauh pengamatan HORAS di Jakarta kebaktian alternatif ini antara lain bisa di temukan di HKBP Suprapto, HKBP Rawamangun, HKBP Tebet, dan HKBP Cengkareng. Di luar Jakarta juga sudah mulai diterapkan, misalnya di HKBP Jambi. Biasanya, kebaktian alternatif hanya diberlakukan untuk kebaktian Remaja tentu saja, inilah salah satu cara HKBP mengantisipasi eksodus anak-anak muda warga HKBP ke Gereja Kharismatik.
.
”Iringan musik lengkap disengaja agar pra remaja tidak merasa jenuh. Dengan demikian kita akan lebih mudah membimbing kerohanian mereka,” kata pendeta Resort HKBP Cengkareng Pdt Agian M.Lumbantobing.
.
Apakah nilai kekhidmatan ibadah masih ditemukan dengan bungkusan budaya pop karena menggunakan musik band?
.
”Tata ibadah tidak perlu diubah karena memang sudah baku dan nilai spritualnya sudah mecakup,”kata Again M.Lumbantobing menjelaskan.
.
Hal yang sama juga diungkapkan Ramlan Hutahaean. ”Tata ibadah tetap dipertahankan. Maka, sama sekali tidak mengurangi kekhidmatan memuji Tuhan,”katanya.
.
Adalah Ramlan Hutahaean yang sudah dua setengah tahun bertugas di Resort HKBP Tanah Tinggi, membuat kebijakan itu di gereja HKBP Suprapto, bersama-sama dengan seorang anak muda Godfried Lumbantobing. Nama terakhir disebut adalah chorus master, konduktor, dan composer di paduan suara Grandiosso Chorus Community.
.
Kebaktian alternatif sempat ditolak sebagian orang tua. Namun setelah dijelaskan dan melihat hasilnya, penolakanpun suruh perlahan. Kaum remaja mulai rajin datang ke gereja. Persekutuan di antara mereka pun semakin terikat kuat.
.
”Nilai-nilai tradisonal (yang mendominasi warga HKBP karena masih banyak lahir dan besar di kampung) sudah tidak cocok dengan nilai-nilai modern perkotaan yang diperoleh anak-anak muda. Yang dia dengarkan dari luar tidak bisa kita katakan tidak bagus. Bagi saya musik kontemporer itu tak menarik. Tetapi, demi anak, saya harus ikut juga bernyanyi,” kata Ramlan Hutahaean memberi contoh.
.
Memang, benturan antara nilai tradisional yang masih banyak dianut kaum tua masih kerap berbenturan dengan nilai–nilai yang di dapat kaum mauda perkotaan.
.
Menurut St.Drs.Parpunguan Sianipar, di HKBP Setia Mekar Bekasi pernah dilaksanakan kebaktian dengan iringan musik band. Hal ini tekendala karena kebetulan kaum tua dan yang muda sama-sama melaksanakan kebaktian bersama, ”kebaktiannya harus terpisah. Itulah sebabnya kebaktian alternatif tidak berjalan baik di HKBP Setia Mekar Bekasi.” katanya.
.
Perubahan yang mendasar hanya pada direktori lagu, yaitu, adanya penambahan diluar kidung jemaat. ”Ada yang harus kita koreksi dari kita sesuai perkembangan jaman. Memang ada ketentuannya di HKBP, nyanyian yang disahkan itulah yang dinyanyikan dalam ibadah. Tetapi apakah itu terus kita pertahankan sehingga anak-anak kita pergi kemana-mana?” tukas Ramla Hutahaean.
.
Mengoptimalkan musik saat kebaktian, menurut Ramlan Hutahaean dan Godfried Lumbantobing malah bisa lebih meningkatan spritualitas jemaat.
.
”Musik adalah bagian dari seni yang membuat ketetarikan dan keterikatan,” kata Ramlan Hutahean.” Musik juga jamiat (siraman rohani),” timpal Godfried Lumbantobing sembari menambahkan bahwa konsep puji-pujian seperti itu akan terus dilanjutkan.
.
”Memang, setiap ada hal baru selalu mendapat pro dan kontra. Saya yakin, suatu waktu (kebaktian alternatif) akan berterima,” ujarnya.
.
Kebaktian alternative seperti di HKBP merupakan salah satu ciri Gereja Kharismatik. Namun, menurut Godfried Lumbantobing, musik juga sudah melekat menjadi cap bagi HKBP. ”Di Amerika, Gereja HKBP di sebut the singing church (gereja yang bernyanyi). Kalau menyanyikan lagu gereja sudah ada yang tertarik suara 2, suara 3. spontan semua. Musikalitas jemaat HKBP memang diakui sangat menonjol.” Katanya.
.
Perlahan tapi pasti, harus diakui, evolusi mulai tumbuh di HKBP. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. AAp
.
Sumber : HORAS

HKBP! “Berubah”

HKBP berdiri 7 Oktober 1861. Dengan demikian, genaplah usia gereja suku terbesar di Indonesia ini, 146 tahun. Dalam sejarahnya, HKBP kerap dilanda masalah, mulai dari konflik internal hingga eksternal. Kemelut terakhir yang dihadapi HKBP terjadi pada tahun 1980-an, yaitu adanya dualisme di tampuk kepemimpinan yang mengakibatkan meletupnya konflik horizontal sesama anggota jemaat. Konflik ini tidak murni muncul dari dalam, melainkan adanya campur tangan pemerintah Orde Baru.
.
Luka dalam itu kini sudah mulai sembuh usai rekonsiliasi. Namun, sadar atau tidak, masalah lain yang dihadapi HKBP pada 10 tahun terakhir cukup spesifik. Warga HKBP, banyak yang memilih melakukan kebaktian di Gereja kemana lagi, kalau tidak ke Gereja Kharismatik?
.
Warga HKBP yang paling banyak ikut kebaktian di Gereja Kharismatik adalah kaum muda, siswa SLTP, SLTA, hingga mahasiswa. Warga HKBP Jakasampurna, Bekasi, ini beberapa kali pernah kebaktian di Gereja Tiberias.
.
”Sira-man rohaninya lebih mengena. Pendeta-pendetanya pintar berkotbah. Suasana kebaktiannya juga hedup. Pikiran kita sangat terbuka mendengarkan firman Tuhan. Beda dengan di HKBP suasananya kaku dan monoton. Pas tiba giliran kotbah, teman teman banyak yang ngantuk. Malah ada yang keluar. Paling tidak tetap duduk di bangku, memaksakan diri menyimak kotbah sambil bergerak gerak biar nggak ngantuk. Ada juga yang gaduh dan ngusilin teman. Yang tekun malah nggak konsentrasi,”kata siswa kelas 3 SMAN 107 jakarta, itu.
.
Pada umumnya, warga HKBP yang pindah sekte atau sekadar menenggalkan kebaktian di HKBP kebanyakan terjadi di kota kota besar.
.
Gereja Kharismatik di Indonesia mulai memperliatkan dinamikanya sejak taun 1990-an. Materi kotbah mereka kaya dan variatif, langsung menohok permasalahan hidup orang orang Kristen. Mereka sering muncul di radio dan televisi. Mereka bahkan mampu mendatangkan puluhan ribu umat Kristen di Senayan saat mengadakan KKR (Kebaktian Kebangunan rohani). Ibarat sebuah perusahaan kosmetik, mereka cukup lihai dalam hal marketing sehingga produknya laris manis di pasar.
.
TIDAK ANTISIPATIF DAN KURANG PEDULI
.
Berpindahnya sejumlah warga HKBP ke Gereja kharismatik akibat monotonnya suasana kebaktian di HKBP juga diakui situa dan beberapa pendeta HKBP. Kometator itu datang dari St.Drs. Parpunguan Sianipar dari HKBP Setia Mekar Bekasi, pendeta Resort Tanah Tinggi Jakarta pusat Ramlan Hutahaean, MTh, serta Praeses HKBP Distrik 11 Silindung Welman Tampubolon,STh
.
“Selain monoton, materi kotbah juga kurang menyentuh,” tukas Parpunguan Sianipar.
Parpunguan Sianipar khawatir, apa bila HKBP tidak antisipatif, sewaktu waktu kelak HKBP akan stagnan, bahkan vakum. ”Yang saya khawatirkan adalah anak-anak muda perkotaan. Mereka sangat kritis terhadap apapun karena hidup di tengah banyak perubahan dan kemajuan. Mereka pasti tidak tertarik manakala pendeta datang dengan konsep dan materi konvensionaltradisional,”katanya.
.
Untuk itulah Parpunguan Sianipar mengusulkan agar HKBP lebih peka terhadap perkembangan terhadap dan perubahan. Khusus pendeta dia sarankan harus memiliki nilai plus, baik dari segi pendidikan dan pengalaman.
.
Tom Pasaribu warga HKBP Rawamangun Jakarta timur melihat ke soal yang lebih pokok. Menurut Direktur Eksikutif KP31(Komite Pemantau dan Pemberdayaan Parlemen Indonesia)ini, faktor utama adalah berubahnya visi dan misi HKBP dari pembangunan rohani menjadi pembangunan fisik. “HKBP kini lebih peduli pada pembangunan–pembangunan gereja daripada menempatkan diri sebagai gembala yang setia menjaga dombanya,”katanya.
.
”Asyik membangun gereja dan suka marbadai (konflik internal) itulah salah satu faktor kenapa warga jemaat diabaikan. HKBP harus belajar dari sejarah. Kalau dulu HKBP tidak bertengkar, Pearaja (kantor pusat HKBP) sudah persis sama dengan Vatikan. Kesalahan-kesalahan yang dibuat sekarang akan berpengaruh berpuluh tahun ke depan,”tandasnya.
.
Maka menurut anak ke-empat Praeses HKBP Pdt.Krisostomos Atlas Pasaribu (1978-1979)itu, HKBP harus mengembalikan visi dan misinya sebagai gembala, ”Di usia yang sudah 146 tahun HKBP semestinya bisa menjadi teladan. Sekarang, malah Gereja gereja yang lebih muda yang diikuti banyak orang.”katanya
.
KURANG PEMBINAAN
.
Pendeta Resort HKBP Tanah Tinggi Jakarta Pusat Ramlan Hutahaean,MTh dengan rendah hati juga mengakui beragam kelemahan di HKBP. Soal orientasi ke pembangunan fisik, menurut dia adalah kebanggaan sekaligus kekurangan.
.
Disinggung masalah konflik yang sering muncul di internal HKBP, Ramlan Hutahaean menukasnya dengan diplomatis. ”Kami, para pendeta produk jemaat yang hidup, bukan dari banua ginjang(surga). Benar, kalau kami ribut, pengaruhnya juga akan terasa ke warga HKBP,” katanya sembari mengabarkan bawa sekarang ini HKBP terus-menerus melakukan pembenahan dan meningkatkan pelayanan.
.
Dia juga tidak menutup-nutupi kekurangcakapan sejumlah pendeta di HKBP.” Hanya kurang pembinaan. Menurut saya, pendeta-pendeta muda ditempatkan bersamaan dengan pendeta senior yang dapat bertangung jawab. Pola itulah yang saya terapkan di mana saja saya bertugas. Mereka harus dipantau setiap saat. Juga dites kemampuannya,” jelasnya. Soal pendidikan, menurut dia tidak ada masalah karena apa yang diperoleh pendeta selama pendidikan sudah memadai. Tetapi, itu saja tidak cukup. Para pendeta, menurut dia harus lebih banyak memperkaya diri dengan wawsan dan pengatahuan.
.
TANTANGAN BESAR
.
Ramlan Hutahaean mengambarkan tantangan besar yang dihadapi HKBP saat ini. Masalah itu adalah jumlah pendeta yang sangat terbatas dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah jemaat, kebutuhan pendeta, dan motivasi seseorang menjadi pendeta
Terbatasnya jumlah pendeta terkait langsung dengan pelayanan sehingga yang sering terjadi adalah pelayanan seremonial. Dia mencontaohkan Gereja HKBP Suprapto dimana dia bertugas yang hannya memiliki 5 pendeta. ”Kurangnya jumlah pendeta membuat warga jemaat kehausan.”katanya.
.
Kurangnya jumlah pendeta ditambah tugas-tugas pelayanan menjadi yang harus dia lakukan sering tidah sebanding dengan kesehatan. ”Banyak pendeta muda yang meningal karena sering sakit.”katanya.
.
FENOMENA SOSIAL
.
Praeses HKBP Distrik 11 Silindung Welman Tampubolon,STh juga mengakui bahwa kurangnya pelayanan di HKBP turut memepengaruhi berpindahnya sebagian jemaat HKBP ke sekte lain, terutama Karismatik. Namun, Welman Tampubolon lebih memotretnya sebagai fenomena sosial. ”Mereka memiliki kecenderungan ingin merasakan dan mencoba sesuatu yang baru,” katanya.
.
Sebagai fenomena sosial, Welman Tampubolon mengaku tidak terlalu resah mengenai hal itu.” Memang banyak warga HKBP yang beribadah di Geraja Kharismatik. Tetapi, itu hanya segelintir dari persoalan yang besar yang dihadapi HKBP saat ini. Yang paling besar adalah bagaimana HKBP menyikapi hidup sehari-hari jemaatnya,” katanya.
.
Pendeta Resort Cengkareng Jakarta Barat Again M. Lumbantobing berpendapat bahwa berpindahnya sebagian jemaat HKBP ke kharismatik bukan semat-mata karena materi kotbah di HKBP kurang menyentuh atau kebaktiannya monoton. Dia cenderung sama dengan Welman Tampubolom menyebutnya semacam fenomena sosial. Bedanya, secara spesifik dia menyebutkan “jajan rohani.”
.
”Mereka tidak pindah atau meninggalkan HKBP Buktinya, apabila ada peristiwa dukacita HKBP tetap melanyani mereka. Yang mereka lakukan tidak lebih seperti berjalan-jalan ke mall,” kata Again M.Lumbantobing.
.
Selain itu, menurut dia, jarak tempuh yang jauh dari rumah ke gereja HKBP juga menjadi alasan warga HKBP ikut kebaktian di gereja yang lain. Oleh karena itu Again M. Lumbantobing mengaku tidak terlalu resah atas fenomena tersebut.
.
Bagi Again M. Lumbantobing, jalan keluarnya adalah tetap membiarkan mereka memuji Tuhan Yesus meskipun berada di sekte yang lain. “Mereka bukan jadi pelbegu. Kita pun tidak perlu membujuk apalagi memaksa mereka kembali ke HKBP. Kita harus menyayangi mereka,” katanya.
.
Namun, dia tetap setuju bahwa untuk perkembangan ke depan HKBP tetap harus meningkatkan pelayanan, terutama membina para generasi muda. ”Majelis dan warga harus saling membahu,” katanya. AAP/BJH/LS
.
Sumber : HORAS
Google Search Engine
Google
·

Guestbook of HKBP

·
·


Visitor Map