·

Selasa, 16 Oktober 2007

Pesta Kebangunan Rohani Kaum Bapak HKBP Distrik X Medan-Aceh Meriah

Medan (SIB)
.
Kaum Bapak (Ama) diajak untuk bangkit dan memberdayakan diri agar bisamengemban tri tugas panggilan gereja yaitu koinonia, pekabaran Injil, misi sending dan untuk berbuat bagi orang lain. Hal itu disampaikan Praeses HKBP Distrik X Medan-Aceh dalam khotbahnya pada Acara Kebangunan Rohani atau Parheheoan Ama HKBP Distrik X Medan Aceh, Minggu (30/9) di Pardede Hall Medan.
.
Ajakan itu disampaikan bukan berarti kaum bapak (Ama) selama ini belum diberdayakan, tapi memang belum sepenuhnya diberdayakan karena seolah-olah selama ini pesta “parheheon” itu hanya milik sekolah minggu, remaja, naposo bulung maupun kaum perempuan. Padahal dalam almanak (kalender) HKBP secara jelas tercantum bahwa setiap bulan November merupakan bulan kebangunan rohani Ama. Ini bentuk penghargaan bagi kaum bapak. Untuk itu kaum bapak sebagai jemaat sudah saatnya bangkit bukan hanya sekedar seremonial belaka tapi mengambil peran dalam tri panggilan gereja.
.
Kebangkitan rohani yang baru pertama digelar secara bersama di Distrik X Medan Aceh diharapkan menjadi momen bagi kaum bapak untuk mengambil peran dalam penyelenggaraan tugas imamat, tugas panggilan semua jemaat membangun tubuh Kristus. Dengan demikian HKBP dalam menjalankan tugasnya akan menjadi berkat bagi orang lain karena itu bukan hanya tugas gembala gereja tetapi juga semua warga jemaat.Pesta parheheon Ama se-Distrik X Medan-Aceh berlangsung meriah dihadiri seribuan bapak, kaum ibu, dan pemuda. Gubsu Drs Rudolf M Pardede, Walikota Medan yang diwakili Asisten Pamerintahan Daudta Sinurat dan Asisten I Pemprovsu Hasiholan Silaen SH saat memasuki ruangan disambut “gondang sabangunan”. Pesta itu juga dihadiri Kabainprom Sumut Drs Gandhi Tambunan, anggota DPRD Sumut Budiman Nadapdap dan Bishop Gereja Protestan Persekutuan (GPP) Pdt DR JH Manurung STh mewakili gereja tetangga.
.
Acara itu berthema Budayakan Hidup rukun Dalam Suasana Kedamaian (mazmur 133:1) itu berlangsung cukup meriah dengan penampilan Paduan Suara HKBP Se-Distrik X Medan-Aceh berjudul “Mars HKBP Distrik C Medan Aceh”, Koor Ama se-Distrik berjudul “Nang Gumulsang”, Koor Ina Se-HKBP Distrik X, berjudul “Soripada na Marhuaso” dan lagu-lagu pujian diiringi Roris Band pimpinan Arjon Aritonang.
.
Gubsu Drs Rudolf Pardede dalam sambutannya mengatakan, pesta parheheon ini diharapkan membawa perubahan bagi kaum bapak agar semakin meningkatkan peran dan tugasnya di lingkungan gereja terlebih di tengah-tengah keluarga. “Perubahan itu ke arah yang lebih baik. Memang di kalangan orang Batak ada sifat elat dan late, jadi itu harus dirubah. Kemudian kaum bapak seperti saya alami dulu jarang aktif pada kegiatan-kegiatan sosial dan gereja. Bahkan banyak kaum bapak yang jarang bergaul dekat dengan anak-anaknya karena sering pulang malam. Saya pun dulu sering pulang di saat isteri sudah tidur, bahkan jarang bercengkerama dengan anak-anak, tapi belakangan hal itu harus dirubah supaya kita punya anak yang perkasa di dunia ini,” ujarnya.
.
Pada kesempatan itu Gubsu memberi kesaksian dirinya memiliki kekurangan dan kemampuan terutama melakukan tugas selaku Gubernur Sumatera Utara. Tapi semua itu katanya diserahkan lewat doa kepada Tuhan agar memberi kebijaksanaan memimpin masyarakat Sumut. “Kalau dilihat dari sisi kepintaran, mungkin Praeses Midian lebih pintar daripada saya. Setiap minggu beliau sering membuat tulisan-tulisan di koran-koran, saya belum bisa itu tapi kita tetap memanjatkan doa dan Tuhan memberikan berkat dan menunjukkan jalanNya,” ujarnya.
.
Rudolf bersyukur, dengan segala keterbatasan dirinya itu Pempropsu berhasil tercatat sebagai Propinsi yang meraih pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia mencapai 9 persen lebih tahun 2006 lalu dan ini akan ditingkatkan lagi tahun 2007. Ini terjadi berkat kondusifnya Sumatera Utara sehingga roda perekonomian bisa berjalan dan investor pun bisa masuk perlahan-lahan.
.
“Itu semua atas doa bapak-bapak sekalian. Dan saya khawatir, silaf-silaf saya bisa pula nanti terpilih menjadi Gubernur untuk kedua kalinya, itu pun kalau Tuhan mengijinkan. Kenapa Sumut bisa kondusif, kenapa ekonomi meningkat itu bukan karena Rudolf Pardede tapi karena berkat Tuhan. Saya berdoa, Tuhan jangan permalukan saya, ajari saya berkata-kata, ajari mata saya melihat, ajari tangan saya berbuat dan ajari kaki saya melangkah. Kalau dilihat kemampuan saya nggak ada apa-apanya,” katanya disambut tepuk tangan seribuan hadirin.
.
Untuk itu kepada kaum bapak HKBP dimintanya untuk berubah menjadi bapak yang baik di tengah-tengah keluarga, gereja dan bangsa ini. Untuk itu, katanya selalulah memanjatkan doa dengan menyampaikan agar kehendak Tuhan yang jadi. “Jadi jangan kita minta kehendak kita, tapi kehendak Tuhan saja yang jadi. Kalau memang Praeses kita ini nanti menjadi Sekjen HKBP biarlah kehendak Tuhan yang jadi, kalau memang tidak ya jangan dipermasalahkan belakang hari karena Tuhan yang tahu,” ujarnya.
.
Di penghujung acara Pdt Midian KH Sirait mengulosi Gubsu Drs Rudolf Pardede, Asisten I Pempropsu Hasiholan Silaen, Asisten Pemerintahan Pemko Medan Daudta Sinurat dan Bishop GPP Pdt DR JH Manurung STh mewakili gereja tetangga.HKBP Tanjung Sari Raih Tiket Ke Festival Koor Tingkat NasionalFestival Koor tingkat Distrik X Medan Aceh yang digelar sehari sebelum kebangunan rohani menetapkan HKBP Resort Tanjung Sari Binaan, Drs Gandhi Tambunan sebagai juara pertama dan menjadi wakil HKBP Distrik X Medan Aceh pada festival koor antar Distrik HKBP se-Indonesia pertengahan Oktober 2007 di Jakarta. (M-15/M-17/f)
.
Sumber : Sinar Indonesia Baru (SIB)

Anak Rantau Sumbang Rp251 Juta dan Pertapakan Gedung Sekolah Minggu HKBP P Siantar

Pematangsiantar (SIB)
.
Melihat telah berkembangnya jemaat HKBP Kota Pematangsiantar yang saat ini mencapai 4.600 lebih jiwa dan sudah banyak menerima berkat dari Tuhan tetapi timbul pertanyaan dari semua jemaat tersebut berapa persenkah orang yang benar-benar seperti orang Kristen yang percaya kepada Tuhan Allah dan Juru Selamat Tuhan Jesus Kristus. Sebab banyak saat ini orang mengaku Kristen tetapi tidak benar menjalankan ajaran Kristen.Demikian disampaikan Ephorus HKBP Pdt DR Bonar Napitupulu dalam khotbahnya yang diambil dari Lukas 19:1-10 di hadapan lebih kurang 5.000 jemaat pada Pesta Jubileum 100 Tahun HKBP P Siantar Ressort P Siantar Distrik Sumatera Timur, Minggu (30/9) di halaman Gereja HKBP P Siantar. Sebelumnya Sabtu (29/9) telah dilaksanakan Pesta Jubileum hari pertama yang dihadiri jemaat HKBP P Siantar.
.
Menurut ephorus, saat ini banyak orang Kristen melakukan pesta Jubileum untuk mengucapkan syukur dan memuji nama Tuhan Yesus, tetapi tidak banyak yang mengikuti dan melakukan pesta Jubileum tersebut yang mencerminkan sebagai orang Kristen yang percaya kepada Allah Sang Pencipta dan Tuhan Jesus sebagai juru selamat. Sementara hakekat dari Pesta Jubileum tersebut adalah suatu pesta ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena diberi berkat kepada seluruh jemaat.
.
Dikatakan, orang yang percaya kepada Tuhan bukan karena dia tahu tentang Allah, tentang Yesus Kristus dan tentang semua isi Alkitab tetapi orang Kristen yang percaya adalah orang yang mau menjalankan perintah Tuhan, senantiasa mengucap syukur atas apa yang sudah diberikan oleh Tuhan dan mau mengasihi sesama umat manusia. Apalah arti seseorang tersebut tahu tentang isi Alkitab tetapi tidak mau menjalankan perintah dari isi Alkitab itu sendiri.
.
Karenanya, orang Kristen yang saat ini ada di HKBP P Siantar hendaknya dapat menjadi orang percaya kepada Allah dan Jesus Kristus sang Juru selamat, sebab sudah 100 tahun HKBP P Siantar tentu selama ini sudah banyak menerima berkat yang disalurkan Tuhan kepada seluruh jemaat yang kemungkinan sudah tersebar di luar Kota P Siantar, ujar Ephorus.
.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Ir RE Siahaan yang juga Walikota P Siantar mengatakan, menyongsong Pesta Jubileum 100 tahun HKBP P Siantar dibentuk panitia tahun 2004 dan sejak itu berbagai kegiatan telah dilaksanakan di antaranya, tahun 2004 pesta pra Jubileum yang dilaksanakan Sekolah Minggu, tahun 2005 dilaksanakan Seksi Wanita dan tahun 2006 pesta pra Jubileum yang dilaksanakan oleh Seksi Bapa dan tahun 2007 sejak Sabtu (29/30) dan dilanjutkan hari ini Minggu (30/9) dilaksanakan acara puncak perayaan Pesta Jubileum 100 tahun HKBP P Siantar.
.
Namun selama satu minggu menjelang Pesta Jubileum 100 tahun, panitia telah melaksanakan berbagai kegiatan juga di antaranya pasar murah selama satu minggu, seminar budaya, kesehatan yang bertujuan untuk menambah pengetahuan kepada seluruh jemaat tentang budaya dan bahaya Narkoba, HIV/AIDS. Tegasnya, melalui Pesta Jubileum 100 tahun HKBP P Siantar ini berbagai program yang belum dilaksanakan khususnya pembangunan gedung Sekolah Minggu dan lain-lain pada hari mendatang segera dapat terwujud, ujar Siahaan.
.
Sementara itu, Pendeta Ressort HKBP P Siantar Pdt Darwin Humala Sitorus membacakan sejarah HKBP P Siantar yang didirikan sejak 29 September 1907 oleh missionaris Pdt Edward Muller dengan jumlah jemaat 26 orang dan saat ini berkembang menjadi 4.600 lebih jiwa atau 1.014 kepala keluarga. Seiring berkembangnya jemaat juga diikuti perkembangan jumlah unit sekolah dan satu gedung NHKBP yang dikelola oleh HKBP P Siantar.
.
Sejak missionaris Edward Muller meninggalkan HKBP P Siantar dan berangkat ke Eropa pada tahun 1921, beliau meninggalkan jemaat yang ada di Simalungun 21 gereja, 16 sekolah, 3 pendeta, 10.742 jemaat, 24 guru Sekolah Minggu dan 89 Sintua. Lebih lengkapnya missionaris Jerman yang pernah bertugas di HKBP P Siantar sebanyak 7 orang. Para pendeta yang menemani missionaris Jerman dan praeses sebanyak 20 orang. Pendeta khusus, pendeta ressort dan pendeta diperbantukan 32 orang. Pendeta khusus NHKBP 5 orang, khusus Sekolah Minggu 2 orang, guru huria 63 orang, bibelvrow 13 orang, diakones 2 orang.Sumbang Rp 251 Juta
.
Dalam acara Puncak Pesta Jubileum 100 tahun HKBP P Siantar, para anak rantau dari jemaat HKBP menyumbang dana sebesar Rp 251 juta untuk pembangunan gedung Sekolah Minggu. Turut hadir anak rantau yang kini berada di Jakarta di antaranya Brigjen (Purn) Tarida Sinambela, DR Capt Anton Sihombing, Drs Postdam Hutasoit, Parlin Siahaan, Basa Hutagalung, MS Siahaan, Otto Hasibuan SH MM, Agustinus Hutajulu. Sedangkan Raja Sutan DL Sitorus yang telah menitip pesan melalui Brigjen TNI (pur) Tarida Sinambela menyumbang dana untuk pembelian pertapakan gedung Sekolah Minggu.
.
Sebelum memasuki tempat acara puncak Pesta Jubileum, terlebih dahulu dilaksanakan prosesi dari rumah dinas Walikota P Siantar dengan urutan pembawa salib, Alkitab, lilin, bendera Merah Putih, Bendera HKBP dan urutan selanjutnya rombongan Ephorus HKBP, Walikota, Ketua STT HKBP Pdt DR J Sirait, rombongan pendeta, Sintua dan Panitia serta para undangan. Barisan prosesi disambut para anak Sekolah Minggu dengan pengalungan bunga kepada Ephorus dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti Jubileum 100 tahun HKBP P Siantar oleh Ephorus, Praeses Distrik V Sumatera Timur Pdt DR Plaston Simanjuntak, Pendeta Ressort HKBP P Siantar Pdt DH Sitorus, Ketua Panitia Ir RE Siahaan dan Sekretaris Panitia Pariaman Pakpahan.
.
Kebaktian Pesta Jubileum 100 tahun HKBP yang menampilkan koor raksasa “Jubileum” dan “Ahu Do Dalan”, liturgis dipimpin Pdt DR Plaston Simanjuntak dan usai kebaktian dilaksanakan lucky draw dan kata-kata sambutan di antaranya mewakili Gubsu Kabiro Orta Pemprovsu Oloan Sihombing SH dan acara manortor bersama dengan semua jemaat dan artis ibukota Trio Axido dan pelawak Jurtul dan Timba Laut. (S5/S7/S1/d)
.
Sumber : Sinar Indonesia Baru (SIB)
1 Oktober 2007

Sibide Mulai Bangkit Ikuti Program HTR

Porsea (SIB)
.
Dua bulan setelah mendapat sindiran dari Eporus HKBP DR Bonar Napitupulu, Sibide, sebuah desa di kecamatan Pintu Pohan Meranti, Tobasamosir, kini mulai bangkit mengikuti program HTR (hutan tanaman rakyat).Berdasarkan sebuah laporan, dewasa ini masyarakat Sibide sudah mendata sedikitnya 225 hektar lahan marjinal yang selama ini hanya ditumbuhi lalang untuk dikembangkan menjadi HTR ekaliptus (eucalyptus sp) bekerjasama dengan industri pulp Porsea, TobaPulp.
.
Melalui konsep HTR itu, lahan masyarakat yang sering mengalami kebakaran pada musim kemarau itu segera disunglap menjadi hutan baru dan pada usia sekitar enam tahun kayunya dapat dipanen dan dijadikan bahan baku industri pulp. Setelah panen itu lahan bekas HTR benar-benar sudah menjadi subur kembali.
.
Dari hasil panen kayu itu, kelak, para pemilik lahan memperoleh sekitar 40 persen dari hasil kotor. Tetapi sebelumnya, yakni selama proses penghutanan kembali, dimulai dari penyiapan lahan, penanaman, perawatan, pemanenan hingga pengangkutan hasilnya ke pabrik, masyarakat sekitar dapat menjadi mitra-usaha atau pekerja dan untuk itu mereka memperoleh penghasilan. Pada awal penanaman ekaliptus, yakni untuk jangka waktu tertentu, tanaman tumpang sari seperti jagung juga dapat dikembangkan.
.
Dengan demikian terdapat dua manfaat penghutanan kembali tanah-tanah kritis milik masyarakat, yakni terehabilitasinya tanah-tanah marjinal serta sekaligus menjadi sumber pendapatan baru.
.
Dua bulan lalu, 8 Juli 2007, Eporus DR Bonar Napitupulu mengeritik banyaknya lahan kosong dan tak dimanfaatkan ketika mengunjungi Sibide untuk meresmikan gereja HKBP Siriaria. “Tuhan memberi kita lahan untuk dikelola. Tetapi nyatanya sampai sekarang masih banyak yang dibiarkan kosong. Padahal, di sekitar ini ada perusahaan pulp yang membutuhkan kayu sebagai bahan baku utamanya,” kata Eporus menyampaikan sindiran halus untuk memotivasi jemaat gereja agar gemar menanam.
.
Meski ditujukan kepada 200 keluarga penduduk Sibide yang menjadi mayoritas jemaat gereja HKBP, namun beberapa pejabat industri pulp Porsea, yang mengikuti acara peresmian —diantaranya Juanda Panjaitan SE (Direktur) dan Walman Pangaribuan (Manajer Tobafiber estate Habinsaran)—ikut “tersentak.”Kata Humas Tobafiber estate Habinsaran, Tarida Sitinjak, “Kami jadi tersadar bahwa kita perlu melakukan sesuatu untuk menyahuti ungkapan Eporus, apalagi dikemukakan dalam khotbah.”
.
Tobafiber kemudian bergerak cepat dan masyarakat –umumnya petani sawah dan kopi— pun kemudian menyambut baik sehingga dalam dua bulan sudah terdata 225 hektar lahan yang siap di-HTR-kan.Kelak, HTR di Sibide dapat menjadi “jembatan” untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui terbukanya lapangan kerja dan lapangan usaha baru sehingga penduduk tidak lagi hanya mengandalkan hidup pada pertanian sawah sebagai mata pencarian satu-satunya.
.
Dalam konsep HTR, status lahan masyarakat itu tidak akan beralih menjadi milik TobaPulp. Sebab, kerjasama terbatas pada pemanfaatan lahan untuk ditanami kayu untuk batas waktu yang disepakati. “Tanah masyarakat tetap menjadi milik masyarakat,” kata Tarida Sitinjak. (T19/x)
.
Sumber : Sinar Indonesia Baru (SIB)
8 Oktober 2007

Refleksi Interaksi Gereja HKBP dengan Budaya Batak dan Indonesia Modern

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap MTh
.
A. TIGA PILIHAN SIKAP
.
Dari perjalanan sejarah umat Allah, dalam PL atau PB, kita tahu sedikit-dikitnya ada 3 (tiga) pilihan sikap yang bisa diambil oleh gereja terhadap budaya atau masyarakat sekitar:
.
Pertama: larut atau inklusif. Gereja melakukan kompromi, adaptasi dan identifikasi total, menghilangkan semua identitas atau ciri khasnya untuk menjadi persis sama dengan budaya dan masyarakat sekitarnya. Batas-batas antara gereja dan budaya hilang sama sekali dan keduanya tidak bisa dibedakan. Sikap dan nilai yang dianut gereja ekuivalen atau sama-sebangun dengan apa yang dianut masyarakat sekitarnya. Memakai ungkapan bahasa Batak: eme na masak digagat ursa, aha na masa ba i na niula. Berhubung gereja melebur dengan budaya dan masyarakat maka praktis tidak ada ketegangan antara keduanya. Gereja hidup aman dan tenteram di tengah-tengah masyarakat sebagai bagian dari masyarakat. Dalam posisi ini gereja menjalankan fungsinya sebagai sub-ordinat atau perpanjangan tangan dari budaya atau kelompok masyarakat yang dominan, rejim yang sedang berkuasa atau kelompok ekonomi. Prinsip, nilai dan sikap gereja berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat.
.
Kedua: sikap eksklusif. Disini gereja justru mengambil sikap sebaliknya, yaitu menutup dirinya rapat-rapat terhadap budaya dan masyarakat. Dengan alasan untuk menjaga kemurnian iman atau sangat sibuk menyongsong kedatangan Tuhan, gereja membangun kehidupannya bagai semacam pulau terasing, ghetto atau menara yang terpisah dari dunia. Kontak antara gereja dengan budaya dan masyarakat diminimalisasi. Gereja menjauhkan diri dari dan sama sekali tidak berminat terhadap persoalan-persoalan masyarakat dan budaya. Agenda gereja benar-benar berbeda dengan agenda masyarakat. Gereja mengambil jarak yang sangat jauh, mencurigai atau memusuhi budaya dan masyarakat, begitu juga sebaliknya. Konsekuensi logisnya ketegangan dan potensi konflik antara gereja dengan budaya pun sangat tinggi. Gereja dan budaya hidup dalam status quo atau semacam gencatan senjata.
.
Namun karena umumnya warga gereja sehari-hari hidup dalam masyarakat, dan tidak dapat melepaskan diri sepenuhnya dari dunia yang dianggap jahat dan kotor itu (kecuali dengan jalan membentuk kibbutz, biara, atau bunuh diri massal) maka akibatnya ada warga gereja praktis hidup di dalam dua dunia yang berbeda dan bermusuhan. Yaitu dunia masyarakat-budaya dan dunia gereja. Hari Minggu mereka seolah-olah di surga dan hari Senin sampai Sabtu mereka nyata-nyata di dunia.
.
Ketiga: sikap kritis dan dinamis. Pilihan ketiga bagi gereja adalah tidak larut namun tidak eksklusif, sebaliknya mengembangkan sikap kritis dan dinamis. Artinya gereja sadar betul bahwa ia hidup di dalam masyarakat dan budaya, bukan di ruang vakum dan juga belum di surga. Sebab itu gereja secara sengaja dan intensif berinteraksi dengan masyarakat dan budaya. Namun, gereja juga sadar bahwa ia memiliki tugas khusus dari Allah di dunia ini yang membuatnya tidak boleh persis serupa dengan dunia (Roma 12:2).
.
Gereja membangun hubungan yang sangat kritis dan dinamis dengan budaya. Gereja secara sadar membiarkan ketegangan antara keharusan menjadi sama dan atau harus berbeda dengan budaya. Jika gereja seratus persen sama dengan dunia maka gereja kehilangan identitasnya dan missinya. Sebaliknya jika gereja seratus persen berbeda dengan dunia maka gereja menjadi “orang asing” atau “musuh” budaya itu. Dalam ketegangan yang kreatif inilah gereja mengembangkan teologi hubungan gereja dengan budaya. Ia merefleksikan panggilan imannya dalam konteks budaya, sekaligus pada saat yang sama gereja Gereja berusaha untuk ikut menggarami dan menerangi budaya itu.
.
Jika diterapkan dalam kasus gereja HKBP (yang keanggotaannya mayoritas Batak) maka pertanyaannya adalah: bagaimanakah gereja-gereja tersebut dapat menghayati imannya dalam konteks budaya Batak yang masih “dianut” oleh anggota-anggota gereja itu? Hal-hal apakah dalam budaya Batak (terutama sekarang dan masa depan) yang harus digali dan dikembangkan oleh oleh gereja-gereja untuk merumuskan iman, ajaran, ibadah dan kesaksian, pelayanan dan kelembagaannya? Selanjutnya apakah yang dapat disumbangkan oleh gereja-gereja untuk memperkuat daya resistensi, daya survival, dan transformasi kehidupan budaya dan masyarakat Batak yang sedang menjadi bagian bangsa-negara Indonesia dan masyarakat global? Apakah yang membedakan gereja daripada persekutuan budaya?
.
B. PILIHAN SIKAP KRITIS
.
Berabad-abad lamanya suku bangsa Batak hidup terisolasi di Tanah Batak, daerah bergunung-gunung di pedalaman Sumatera Bagian Utara. Pada waktu yang ditentukanNya Allah mengirim hamba-hambaNya yaitu para missionaris dari Eropah untuk memperkenalkan INJIL itu kepada kakek-nenek (ompung) yang beragama Batak itu. Mereka pun menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat. Mereka pun beriman kepada Allah tritunggal (Bapa, Anak dan Roh) dan tidak lagi menyembah dewa-dewa Batak dan roh-roh nenek moyang yang mati. Mereka berpindah dari gelap kepada terang, dari keterbelakangan kepada kemajuan, dari kematian kepada kehidupan.
.
Namun penerimaan kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat itu tidaklah membuat warna kulit kakek-nenek kita berubah dari “sawo matang” menjadi “bule”, atau mengubah rambut mereka dari hitam menjadi pirang. Mereka tetap petani padi dan bukan gandum, memakan nasi dan bukan kentang, hidup di sekitar danau Toba dan bukan di tepi sungai Rhein. Penerimaan Kristus juga tidak mengubah status kebangsaan mereka dari Batak menjadi Jerman. Artinya setelah dibabtis dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus kakek-nenek kita tetaplah tinggal sebagai orang Batak dan hidup sebagai masyarakat agraris sederhana. Para missionaris juga tidak berusaha mencabut kakek-nenek kita yang sudah Kristen itu dari kebatakannya dan kehidupan nyatanya. Buktinya mereka berusaha bersusah-payah menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Batak, mendorong mereka beribadah dalam Bahasa Batak (bukan Jerman atau Yahudi atau Yunani), membangun struktur gereja HKBP mengikuti peta budaya dan masyarakat Batak, dan membiarkan anggota HKBP tetap berpartisipasi dalam perayaan atau horja.
.
Sebagai Kristen rupanya kita tidak harus berbahasa atau berbudaya lain. Tidak ada budaya atau bahasa tertentu yang lebih unggul mengantar kita mendekat Kristus (Gal 3:28). Artinya tidak ada juga bahasa (budaya) yang menjadi kendala atau penghalang kita mendekati Kristus. Firman telah menjadi manusia sama dengan kita dan tinggal di antara kita (Yoh 1:14). Itu dapat diartikan bahwa Firman itu juga telah menjadi manusia Batak dan hidup diantara manusia Batak juga. Sebab itu tidak ada keragu-raguan bagi kita menyapa, memuji dan berdoa kepada Allah dengan bahasa dan budaya Batak. Mengapa? Sebab Kristus telah lebih dulu datang menyapa kita dengan bahasa Batak yang sangat kita pahami dan hayati.
.
Persoalan sesungguhnya adalah bagaimana hubungan antara iman dan budaya (batak) itu. Dalam Matius 5:13-16 Tuhan Yesus menyuruh orang Kristen untuk menggarami dan menerangi dunia. Itu artinya Tuhan Yesus menyuruh kita untuk mempengaruhi dan mewarnai realitas ekonomi, sosial, politik dan budaya yang ada. Karena itu sebagai orang Kristen kita tidak harus memusuhi atau menjauhkan diri dari budaya Batak, namun sebaliknya menggarami dan meneranginya dengan firman, kasih dan kebenaran.
.
Agar dapat menggarami dan menerangi budaya Batak itu tentu saja kita tidak dapat bersikap ekstrim: menolak atau menerima absolut. Kita sadar sebagai orang Kristen kita hanya mau tunduk sepenuhnya kepada Kristus. Sebaliknya kita juga sebagai kristen tidak boleh mengasingkan diri dari dunia (budaya). Lantas bagaimana? Disinilah pentingnya sikap kreatif dan kritis dalam membangun hubungan iman dan budaya itu. Mana yang baik dan mana yang buruk? Mana yang relevan dan mana yang tidak relevan? Mana yang harus dikembangkan dan mana yang harus diubah?
.
C. KAUM BATAK MISKIN KOTA: PARAMETER KESUNGGUHAN INTERAKSI HKBP DENGAN BUDAYA BATAK
.
Daripada sibuk membangga-banggakan (meratapi?) masa silam budaya dan masyarakat Batak itu mungkin jauh lebih baik kita memahami kondisi nyata dan mencoba memetakan masalah yang sedang dihadapi oleh budaya Batak itu. Menurut saya salah satu faktor yang harus diperhitungkan untuk merumuskan hubungan iman Kristen dan budaya Batak masa depan itu adalah soal kemiskinan Tapanuli dan orang-orang Batak miskin di kota.
.
Mungkin kita sepakat bahwa masyarakat yang menetap di Tapanuli masih sangat miskin dan terbelakang, dibanding saudara-saudaranya yang tinggal di kota. Untuk itu kita mungkin harus mengadakan penelitian sungguh-sungguh: apakah dampak kemiskinan di jantung Tapanuli itu bagi perubahan budaya Batak? Bagaimanakah konsepsi budaya Batak sendiri tentang kemiskinan? Selanjutnya: sejauhmanakah faktor kemiskinan itu mempengaruhi HKBP (termasuk konflik-nya)?
.
Jumlah orang Batak yang merantau ke kota-kota di luar Tapanuli sangat siginifikan. Sebagian dari mereka berhasil dan makmur. Namun sebagian besar “kalah” di tengah-tengah persaingan dan terlempar ke pinggiran kota sebagai masyarakat marjinal. Pengamatan saya, orang-orang Batak miskin kota ini tidak terjangkau oleh apa yang dinamakan “ritus budaya Batak” yang dicoba dijelmakan oleh lembaga-lembaga marga lewat ritus-ritus konsumtif di gedung-gedung maupun oleh HKBP lewat ritus-ritusnya. Banyaknya orang Batak-Kristen atau anggota HKBP yang miskin terlibat dalam kriminalitas memberikan isyarat kuat bahwa orang Batak miskin di kota ini benar-benar diluar jangkauan “punguan-punguan marga” Batak maupun HKBP. Karena itu jika kita ingin merumuskan hubungan gereja atau iman dan budaya Batak maka, pertanyaan yang utama yang mutlak harus kita gumuli: bagaimanakah sesungguhnya teologi kita terhadap kemiskinan Tapanuli dan komunitas orang Batak miskin di kota? Bagaimanakah konsepsi budaya Batak itu sendiri terhadap kemiskinan di Tapanuli maupun di kota-kota besar?
.
Menurut penulis, HKBP ditantang untuk membangun teologi solidaritas dengan orang-orang miskin desa dan kota ini. Sebagai gereja Tuhan, dan sebagaimana diteladankan oleh Tuhan yang diimaninya, gereja HKBP harus setia hadir dan berada di tengah-tengah kemiskinan Tapanuli dan orang-orang Batak miskin di kota. HKBP dengan alasan apapun tidak bisa menutup mata dan telinga hatinya terhadap realitas politik-ekonomi ini yang menyebabkan kemiskinan warganya di Tapanuli maupun di kota-kota besar. Sebab itu bersama-sama dengan warganya yang miskin itu HKBP harus berjuang mengatasi kemiskinan itu dan membangun kehidupan yang lebih sejahtera dan manusiawi di dunia ini. Kesaksian, pelayanan, persekutuan, pendidikan dan ibadah HKBP karena itu juga sebagian harus diterjemahkan sebagai aksi dan refleksi orang-orang beriman agar bisa bebas dan keluar dari kemiskinan.
.
Lantas bagaimana dengan punguan-punguan marga atau parsahutaon Batak? Menurut penulis, juga sudah waktunya kita mendorong masyarakat Tapanuli dan komunitas-komunitas orang Batak miskin di kota untuk membangun persekutuan (punguan) dan organisasinya sendiri sebagai alat perjuangan untuk keluar dari kemiskinan dan ketidakadilan sosial tersebut. Punguan parsahutaon, wijk atau lungguk, atau organisasi orang Batak-Kristen di suatu wilayah atau lokasi tertentu, karena itu perlu didorong menjadi suatu organisasi masyarakat yang memiliki dampak perbaikan sosial. Begitu juga adalah tanggungjawab kita untuk mendorong para tukang tambal ban, supir dan kernet, pedagang asongan yang berasal dari Batak untuk mengorganisir dirinya dengan semangat keterbukaan dan persaudaraan dengan orang-orang miskin yang berasal dari suku atau agama lain. Itu artinya punguan-punguan marga juga ditantang untuk meninjau ulang agendanya, sehingga tidak larut dalam persoalan-persoalan remah atau tetek-bengek di sekitar ritus domestik (kelahiran, pernikahan, kematian), namun membuka hati dan pikiran kepada persoalan kemiskinan warganya. Sebagaimana pada jaman dahulu adat Batak mencakup penanaman padi, perang dan pasar, maka pada masa sekarang pun adat Batak harus mencakup ekonomi, sosial dan politik, dan bukan sekedar ritus domestik atau sekitar rumah tangga (kelahiran, pernikahan dan kematian).
.
D. MENCARI KATA-KATA KUNCI INTERAKSI INJIL, BUDAYA BATAK DAN MODERNITAS
.
Menurut penulis pergumulan kita di HKBP tentang Injil dan budaya Batak harus ditempatkan dalam konteks Indonesia dan modernitas (globalisasi). Pertanyaannya adalah: dapatkah kita pada saat yang sama Batak, Kristen, Indonesia dan moderen sekaligus? Dapatkah kita menjadi 100% Batak, 100% Kristen, 100% Indonesia dan 100% moderen? Pertanyaan ini menantang kita untuk menggali nilai-nilai apa yang sesuai dengan kebatakan, kekristenan, keindonesiaan dan kemodernan kita. Menurut penulis minimal ada 4 (empat) nilai yang sangat penting, yang sesuai dengan ke-empat konteks itu
.
1. DESENTRALISASI (MARSERAK, MANOSOR, MANJAE, MAMULIK)
.
Salah satu tema yang kerap kali dibanggakan oleh mereka yang menyebut dirinya “pengetua” adat Batak adalah konsepsi hasadaon (kesatuan) dalam budaya Batak. Begitu banyak umpama dan umpasa yang menyinggung soal indahnya hasadaon ini. Misalnya: aek godang aek laut, dos ni roha umbahen na saut, masiamin-aminan songon lampak ni gaol masitungkol-tungkolan songon suhat di robean, rap mangangkat tu ginjang rap manimbung tu toru, hata mamunjung hata lalaen hata natorop sabungan ni hata. Namun kita harus kritis memahami umpama ini agar tidak terkecoh. Pada hakikatnya budaya Batak justru sangat desentralistis (memiliki banyak pusat atau sentrum), sentrifugal (bergerak menjauhi pusat), bahkan mungkin lebih tepat disebut sporadis (membelah, memecah menjadi banyak). Itu nampak dalam penghayatan orang Batak tentang kampung huta atau lumban yang sangat independen dan otonom. Seperti sering dikatakan, tiap kampung Batak adalah bagaikan republik sendiri. Jika kampung semakin besar maka akan memecah atau membelah lagi melalui proses manjaemanosor (membuka kampung yang baru) atau mamulik (memisahkan diri). Oleh sebab itu orang Batak (setidaknya sampai terbentuknya HKBP (?) atau negara kesatuan RI) tidak pernah menghayati suatu pemerintahan pusat yang menguasai seluruh dimensi kehidupan rakyat.
.
Apa hubungannya dengan gereja HKBP? Kita dapat belajar bahwa membangun suatu gereja HKBP (beranggotakan orang Batak) yang sangat sentralistis dan hirarkis adalah sangat bertentangan dengan budaya Batak yang cenderung desentralistis, sentrifugal atau sporadis ini. HKBP sebaliknya mungkin lebih cocok dibangun dengan semangat asosiasi atau federasi (perserikatan).
.
Pola pengembangan jemaat-jemaat dan ressort-ressort HKBP ini sangat mirip dengan pola pengembangan kampung atau huta Batak. Tiap jemaat atau ressort selalu mengalami proses membelah dan memecah, baik dikarenakan jumlah anggota yang semakin banyak, atau disebabkan konflik, atau keinginan untuk mandiri (manjae). Konsepsi kesatuan HKBP itu juga, menurut penulis, mirip benar dengan pola kesatuan kampung-kampung atau marga-marga Batak. Sebagaimana kampung dan marga Batak otonom dan hanya diikat oleh nilai-nilai religi yang sama dan ikatan-ikatan kekerabatan dan perjanjian, sebenarnya pada kenyataannya jemaat-jemaat dan ressort-ressort HKBP itu juga otonom dan hanya diikat oleh nilai yang sama (cinta HKBP?). Kekuasaan Kantor Pusat atau Pearaja pada prakteknya atau de facto sangat terbatas kepada jemaat-jemaat dan ressort-ressort. Selain menetapkan Almanak, Buku Ende, mutasi pendeta, dan menentukan persembahan ke pusat, praktis Kantor Pusat tidak bisa berbuat banyak mengintervensi kehidupan jemaat-jemaat atau ressort-ressort. Otonomi jemaat dan resort ini nampak jelas dalam hal keuangan. Hampir tidak ada jemaat atau resort yang tergantung secara finansial kepada Pusat. Boleh dikatakan tidak ada jemaat HKBP yang membangun gedung gerejanya dengan bantuan uang Kantor Pusat. Sebab itu pemeriksaan keuangan oleh Pusat dan Distrik kepada jemaat-jemaat selalu menimbulkan sinisme atau ejekan di kalangan Majelis (Parhalado) lokal: ai sasintongna hami do na ingkon mamareso hamu (sebenarnya kamilah yang harus memeriksa Anda). Mengapa? Karena jemaat atau resort tidak pernah dibantu pusat soal keuangan, lantas apakah dasar legitimasinya untuk memeriksa? Sebaliknya, uang pusat justru berasal dari jemaat, dan logikanya jemaat-lah yang harus memeriksa pusat (menerima laporan dari pusat).
.
Bukti ampuh desentrasi jemaat-jemaat HKBP ini nampak jelas ketika terjadi konflik HKBP yang terakhir. Walaupun Kantor Pusat lumpuh namun 3000-an gereja atau jemaat HKBP yang tersebar di seluruh Indonesia justru tetap eksis dan melangsungkan ibadah dan kegiatannya! Itu merupakan bukti yang sangat kuat bahwa sebenarnya HKBP sebenarnya tidak memiliki satu pusat (sentralistis) namun banyak pusat (desentralistis). Kekuatan HKBP tidaklah di Kantor Pearaja namun tersebar di seluruh jemaat dan ressort. Selanjutnya kita melihat dalam pengalaman konflik yang terjadi di jemaat-jemaat lokal hanya dapat diselesaikan di dan oleh jemaat yang bersangkutan, dan justru jarang berhasil dengan intervensi Kantor Pusat. Dan menarik untuk diamati bahwa penyelesaian konflik di jemaat lokal cenderung dengan pola membelah atau memecah.
.
Pola desentralisasi (manjae, manosor, mamulik) ini juga nampak dalam perhimpunan-perhimpunan kekerabatan Batak. Tiap-tiap punguan marga (bahkan cabang marga atau par-saompu-on) atau parsahutaon merupakan perhimpunan independen dan otonom. Punguan-punguan ini benar-benar mandiri dan tidak memiliki ikatan satu sama lain kecuali nilai-nilai kebatakan (habatahon) dan kekristenan (hakristenon) yang sama. Karena itu kita dapat menyaksikan banyak usaha untuk mempersatukan semua marga dan komunitas ini dalam suatu kelembagaan mengalami kegagalan. Begitu juga usaha untuk melakukan pembakuan atau formalisasi adat yang berlaku bagi semua marga atau komunitas Batak mengalami nasib yang sama. Mengapa? Karena budaya Batak pada hakikatnya memang melawan tiap usaha sentralisasi, akumulasi atau penyeragaman.
.
Sebagaimana sudah disinggung di atas masyarakat dan budaya Batak tidak memiliki satu pusat kekuasan yang dapat mengendalikan segala-galanya. Tiap marga, luat, kampung, huta, punguan adalah otonom. Dalam adat pun tidak ada yang baku dan berlaku bagi semua. Tidak ada aturan yang berlaku di semua tempat dan waktu. Aturan sangat tergantung kondisi setempat atau sesaat dan kesepakatan pihak-pihak yang terlibat. Sebab itu setiap kali aturan harus diteguhkan kembali melalui perundungan dan kesepakatan yang baru. Itu artinya banyak atau semua hal mesti dinegosiasikan atau dirundingkan bersama. Dengan kata lain budaya Batak dibangun di atas proses negosiasi atau perundingan yang terus-menerus ini. Kita saksikan orang Batak justru sangat menghargai budaya berunding dan bersidang (manghatai) ini. Tiap lembaga atau kelompok yang bekerja di tengah-tengah masyarakat Batak termasuk HKBP harus mengetahui persis budaya negosiasi ini jika ingin berhasil. Dalam kehidupan ber-gereja pun pendeta atau majelis tidak dapat begitu saja memaksakan programnya tanpa melalui rapat atau percakapan bersama. Karena itu kita lihat banyak program gereja atau lembaga adat yang gagal karena tidak lebih dulu dibicarakan bersama dengan pihak-pihak yang terlibat. Ingkon jolo diseat hata asa diseat raut!
.
Otonomi dan independensi unit-unit ini merupakan kekuatan HKBP yang luar biasa untuk survive di tengah-tengah krisis dan untuk melangkah ke masa depan. Inilah yang membuat HKBP dan bangsa Batak sulit ditaklukkan atau didikte pihak-pihak luar. Tidak ada satu orang elit atau kelompok pun yang bisa menguasai HKBP dan atau orang Batak secara keseluruhan!
.
2. PARTISIPASI (PARSIDOHOTON, PARJAMBARAN & PARTOHONAN)
.
Selanjutnya kita melihat bahwa budaya Batak sangat menjunjung tinggi partisipasi. Dalam acara adat semua orang dihargai sebagai peserta penuh (parsidohot), bahkan sebagai raja-raja dan pemegang jabatan (partohonan), memiliki hak dan kewajiban atau tohonan, pemilik hak dan bagian (parjambar: hata, juhut, ulaon). Sebab itu mereka sangat senang dan menikmati upacara itu walaupun memakan waktu berjam-jam dan biaya banyak. Menurut penulis kata kunci dalam budaya Batak adalah: parsidohot (peserta, partisipan), partohonan (pemegang jabatan) dan parjambar (penerima hak atau bagian). Dimana orang Batak menghayati dirinya sebagai parsidohot, partohonan dan parjambar maka dia akan melakukan tugas dan tanggungjawabnya sebaik-baiknya dan rela berkorban sebesar-besarnya untuk itu. Sebaliknya orang Batak akan merasa kecil hati atau bahkan tersinggung jika hanya disuruh menonton, mendengar atau menerima secara pasip.
.
Bagaimanakah jika hal ini kita hubungkan dengan HKBP? Keadaan sangat berbeda. Coba kita lihat liturgi gereja-gereja kita: Peran dan posisi utama dipegang oleh segelintir parhalado (seumur hidup) dan lebih kecil lagi oleh seorang pendeta. Anggota HKBP yang adalah 99% persen Batak (lahir batin) ini praktis hanya diundang sebagai penonton dan pendengar, paling maksimal diberikan peran pembantu. Sebab itu wajar jika bawah sadar jiwa mereka berontak. Akibatnya ada dua: Pertama mereka akan malas ke gereja dan mencari kelompok-kelompok keagamaan dimana mereka benar-benar sebagai parsidohot, partohonan dan parjambar (bukan kebetulan jika di gerakan kharismatik pentolannya banyak sekali orang Batak) atau berusaha membuat ulah di gerejanya sendiri mencari posisi. Kita dapat mengambil contoh yang sangat sederhana. Warga jemaat yang kebetulan memiliki peran dan kedudukan di HKBP (dirigen, ketua panitia pembangunan, ketua punguan ina/ ama) cenderung bertahan dan tidak mau meninggalkan HKBP bagaimanapun sulitnya keadaan. Sebaliknya warga jemaat yang tidak memiliki peran dan kedudukan di HKBP sangat mudah meninggalkan HKBP. Karena itu menurut penulis banyaknya warga HKBP yang “lari” dari HKBP dan aktiv di gereja-gereja dan persekutuan-persekutuan lain harus dimengerti dalam konteks budaya ini. Mereka ingin memiliki peran dan kedudukan dalam gerejanya, dan tidak suka jika hanya jadi penonton.
.
Sebab itu menurut saya kita harus mengubah liturgi HKBP agar lebih partisipatip. Sebab dalam budaya Batak sangat sulit diterima (entah apapun alasannya) ada satu orang yang berbicara terus-menerus dan semua yang lain harus diam dan mendengar. Yang ideal semua orang harus memiliki peran (ulaon) dan bagian (jambar). Karena itu kita harus menyusun rangkaian tata ibadah atau liturgi yang sangat partisipatip dan mengundang keterlibatan penuh anggota jemaat. Salah satu contohnya adalah menambah jumlah dan selalu merotasi orang (pelayan dan anggota) yang bertugas dalam ibadah, dan menghindari dominasi oleh satu atau beberapa orang saja. Contoh: Selama ini pemimpin liturgi (mar-agenda) di HKBP adalah satu orang sintua (pada saat tertentu pendeta). Karena faktor-faktor khusus (antara lain penghormatan) pemimpin liturgi pada saat pesta Natal atau Paskah selalu diberikan kepada sintua tertentu (terbaik, terkaya, terpintar, terkuat dll). Akibatnya sering terjadi selama puluhan tahun menjadi parhalado seorang sintua tidak pernah sama sekali memimpin ibadah natal atau paskah. Padahal di bawah sadar para penatua yang lain umumnya ingin juga berperan dalam ibadah natal dan paskah itu. Karena itu menurut penulis ibadah HKBP baik jika dilayani oleh tiga atau lima orang penatua sekaligus. Selain memberikan kesempatan berpartisipasi kepada sebanyak-banyaknya orang, ibadah yang dilayani oleh banyak orang ini mencerminkan representasi atau kehadiran seluruh jemaat. Sebab dalam even Batak yang sangat menekankan kebersamaan, seseorang berpidato sendirian di depan publik dapat menimbulkan kesan arogan. Karena itu dia harus selalu mengajak sanak-saudaranya menemaninya.
.
Ritus Batak tidak berpusat kepada satu orang tokoh namun kepada persekutuan. Orientasi atau sentrum ruang Batak adalah pelataran luas (alaman) rakyat dan bukan panggung kecil elit. Sebab itu dalam even budaya Batak semua orang selalu duduk berkeliling (mangaliat) dan berhadap-hadapan (masiadopan). Pusat ruang pesta pernikahan Batak bukanlah panggung kursi pengantin di depan, namun meja para perunding (parhata) di tengah-tengah. Tari (tortor) Batak dilakukan di tengah-tengah ruangan dan bukan di depan. Sebab itu sewaktu menari (manortor) orang Batak lebih dulu menyembah berputar 360 derajad dan bergerak berkeliling (mangaliat). Itu adalah simbol orientasi ritus yang menunjukkan kebersamaan dan persekutuan.
Hal ini menyadarkan kita bahwa arsitektur gereja HKBP secara umum kurang mengakomodasi tuntutan budaya Batak ini. Sebagai contoh susunan kursi gereja yang searah (model bioskop, teater) harus diubah menjadi model persidangan (huruf U, melingkar atau berhadap-hadapan) agar lebih partisipatip dan melibatkan sehingga anggota jemaat tidak merasa sekedar penonton atau pendengar pasip. Dalam membangun gedung gereja HKBP yang penting bukanlah meniru bentuk luar rumah Batak, atau sekedar memberi tempelan asesoris bernuansa Batak, namun bagaimana mewujudkan tata ruang yang sesuai dengan jiwa Batak yang sangat menjunjung partisipasi, kebersamaan dan persekutuan itu.
.
3. KESETARAAN ATAU EGALITER (HADOSAN)
.
Selanjutnya kita tahu masyarakat Batak sangat egaliter atau menekankan kesetaraan. Dengan masuknya kekristenan yang menghabisi perhambaan, praktis semua orang Batak laki-laki merasa dirinya sebagai raja dan keturunan raja. Menarik juga bahwa seluruh elemen kekerabatan Batak yang lazim disebut dalihan na tolu (dongan sabutuha, boru dan hula-hula) dan paopat sihal-sihal (ale-ale) selalu disebut dengan kata sandang Raja. Perempuan Batak dipanggil sebagai boru ni raja (puteri raja) atau sebutan terhormat inanta soripada (walaupun kiita harus mengkritisi sejauhmana penghormatan kepada perempuan ini dalam praktek). Yang hendak kita katakan adalah sistem dalihan na tolu ini terus-menerus mendorong sirkulasi peran dan jabatan. Tidak mungkin seseorang terus-menerus menjadi hula-hula atau menduduki tempat terhormat. Peran dan jabatan selalu berganti, tergantung tempat dan situasi. Sirkulasi peran dan jabatan yang terus-menerus ini semakin mengekalkan perasaan egalitarianisme atau kesetaraan (hadosan) dalam masyarakat Batak. Memang diakui, karena kekayaannya atau ketuaannya seorang boru sangat dihormati, namun bagaimanapun juga ia tetap dalam posisi yang harus menghormat hula-hula-nya.
.
Apa hubungannya dengan gereja? Sistem gereja HKBP yang memungkinkan seseorang seumur hidup berperan atau menjabat parhalado (majelis) sebenarnya ganjil atau kurang memiliki legitimasi dalam budaya Batak. Masyarakat egaliter Batak menghayati sirkulasi peran dan jabatan. Hari ini hula-hula besok boru lusa dongan sabutuha, begitulah silih-berganti. Peran dan jabatan lain dalam budaya Batak juga selalu berganti. Sihunti ampang dan sijalo upa tulang juga selalu berganti di kalangan yang bersaudara. Namun dalam haparhaladoon HKBP justru prinsip sirkulasi peran dan jabatan itu tidak terjadi. Karena itu, menurut saya, salah satu bentuk terpenting demokratisasi atau “kontekstualisasi Batak” dalam HKBP adalah pemberlakukan periodesasi parhalado. Dengan periodesasi parhalado kita dapat mengakomodasi tuntutan-tuntutan yang sangat penting dalam budaya Batak (dan sekaligus organisasi moderen), yaitu: sirkulasi peran dan jabatan, mekanisme check and ballance, reward and punishment, prinsip kesetaraan di depan hukum, keadilan dan kompetisi adil dan bebas.
.
Dari segi arsitektur, angota jemaat HKBP di bawah sadar akan sulit menerima kenyataan ada sekelompok orang (baca: parhalado) jaman sekarang yang seumur hidup duduk di balkon atau di kursi terhormat dalam gereja. (dulu di Tanah Batak parhalado tidak punya tempat duduk, berdiri berdiri di pintu!). Apalagi jika lantai tempat duduk parhalado dibuat jauh lebih tinggi dari lantai tempat duduk jemaat. Mimbar kotbah yang lebih rendah dan kotbah yang pendek justru akan mengundang simpati anggota jemaat yang berbudaya Batak. Karena itu penulis mengusulkan agar di masa depan kita menata ruang yang mendukung prinisip kesetaraan (hadosan) ini. Mungkin susunan kursi setengah melingkar, altar di tengah, mimbar kotbah yang rendah adalah jawabannya.
.
Tuntutan anggota jemaat untuk berpartisipasi dan memiliki kedudukan yang sama dalam HKBP ini tidak hanya dalam ibadah Minggu atau khusus, namun dalam seluruh kehidupan berjemaat HKBP, termasuk proses pengambilan keputusan. Sebab itu jika kita ingin anggota jemaat itu betah di HKBP maka tak bisa tidak kita harus memberikan kepada mereka peran dan kedudukan ini, termasuk dalam rapat-rapat pengambilan keputusan. Salah satu yang mungkin dapat kita lakukan sebelum periodesasi sintua, adalah dengan melakukan periodesasi semua unit pelayanan HKBP termasuk guru Sekolah Minggu, pelatih dan dirijen koor dan lain-lain. Selain itu menurut penulis HKBP baik jika mengangkat utusan resmi anggota jemaat (pengurus atau perwakilan weik-weik) menjadi majelis yang tidak ditahbiskan (parhalado na so partohonan).
.
3. TRANSPARANSI (HAPATARAN)
.
Lama sekali saya baru dapat bersimpati dan memahami apakah makna lelang dalam gereja-gereja batak. Bagi saya dahulu mengumpulkan uang bagi gereja dengan lelang (lebih halus mengumumkan nama penyumbang secara terang-terangan) adalah bentuk arogansi Batak yang jauh dari kekristenan. Namun setelah lama mengadakan refleksi saya baru sadar bahwa lelang terbuka dalam gereja itu hanyalah salah satu ungkapan keterus-terangan Batak. Tedek songon indahan di balanga do Batak i. (Memang diakui dalam lelang juga sarat dengan unsur kompetisi yang juga sangat dihayati kultur Batak). Sementara itu gereja-gereja Batak justru seringkali dikelola dengan semangat yang berbeda dengan keterus-terangan atau transparansi ini. Rapat-rapat parhalado atau rapat pendeta sering merupakan “rapat rahasia”. Isu-isu teologia (kadang tidak bisa dijawab oleh kami pendeta) disembunyikan dengan alasan bahwa hal itu merupakan misteri Ilahi (hahomion). Laporan keuangan sering cuma mencantumkan pemasukan dan tidak (cukup) menjelaskan pengeluaran. Mekanisme pemilihan anggota komisi, panitia, dewan dan seksi sering tidak transparan sehingga memungkinkan sekali terjadinya nepotisme. Bagi masyarakat Batak di bawah sadarnya ketertutupan itu bukan saja sesuatu hal yang tidak simpatik namun juga mengundang rasa curiga terhadap adanya usaha kolusi (partuptupan) atau bisik-bisik atau main-mata (marmihim-mihim). Bukankah kata “tangkas”,“patar”, “tarida” (jelas, nyata) sangat bermakna positip dalam budaya kita dan juga iman kristiani dan era moderen? Sementara kata “buni” (tersembunyi), “semo” (kabur), “huphup” (tertutup) berkonotasi negatip?
.
Budaya transaparansi (hapataran) ini justru sangat sesuai dengan iman kristiani. Selanjutnya transparansi itu juga menjadi tuntutan masyarakat moderen. Karena itu dengan membangun HKBP dengan semangat transparansi (hapataran) kita sangat kristiani dan moderen.
.
4. KOMPETISI (MARSIADU, MARLUMBA)
.
Selanjutnya, sebagaimana kita tahu budaya Batak sangat dekat dengan kompetisi atau persaingan (yang harus diakui sebagian mengarah kepada konflik). Orang Batak di bawah sadarnya menghayati kehidupan bagaikan perlombaan atau pertandingan, dan dia menginginkan kemenangan (kadang dengan menempuh segala cara). Sikap hidup teal, elat, late bila dilihat lebih positip adalah bentuk kompetisi atau persaingan yang tidak benar. Namun pada saat yang sama gereja-gereja kita gagal atau mengabaikan kultur kompetisi ini. Sebagian dikarenakan pengaruh budaya harmoni Orde Baru dan sebagian karena salah menafsirkan konsepsi kebersamaan dan persatuan dalam Alkitab yang membuat seakan-akan kompetisi itu sesuatu yang kurang kristiani atau menjurus kepada dosa. Karena gereja – termasuk dalam kotbah pendeta-pendeta – hampir tidak pernah mengajarkan warganya untuk rela dan trampil berkompetisi akibatnya warga gereja kita menganggap kompetisi sebagai konflik atau sikap hidup menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
.
Jika kita tahu bahwa semangat kompetisi itu mempunyai tempat dalam iman Kristen, sejalan dengan era moderen yang menghendaki persaiangan bebas, dan meningkatkan “adrenalin” orang Batak, maka tugas gereja tinggal mengajarkan warganya bagaimana harus berkompetisi secara benar atau kristiani, berkompetisi secara adil dan damai, dan berkompetisi dalam semangat persaudaraan (seperti semangat ateletik dalam olimpiade: lebih tinggi, lebih cepat, lebih jauh!) untuk mengejar kemajuan dan kualitas.
.
PERTANYAAN DISKUSI
.
1. Hal-hal apa sajakah yang harus diubah dan dibaharui oleh HKBP untuk membantu masyarakat Batak (yang sedang menjadi Indonesia dan global-moderen) itu menghayati iman Kristennya? Secara khusus hal-hala apa saja yang harus diubah dalam HKBP agar membantu masyarakat Batak yang miskin?
.
2. Adakah budaya Batak yang dikembangkan sekarang cukup kondusif bagi kehidupan demokrasi? Bisakah dijelaskan? Adakah “pengalaman demokrasi” Batak yang sempat hilang dan harus ditemukan lagi, tentang bius sebagai persekutuan antar marga/kampung misalnya? Bagaimanakah pengaruh depolitisasi budaya dan masyarakat Batak selama 30 tahun terakhir?
.
3. Jika direnungkan dalam-dalam manakah yang lebih benar: desintegrasi dalam budaya Batak telah memacu konflik dalam gereja-gereja atau sebaliknya konflik gereja telah mengakibatkan desintegrasi budaya Batak?
.
Sumber :

Rebutan Gereja, 2 Kelompok HKBP Ricuh

Bandung, Jabar - Kericuhan mewarnai rebutan Gereja Huria Kristen Batak protestan (HKBP) di jalan Riau, Minggu (14/10) pagi. Kericuhan antara dua kelompok yang masih satu agama ini terjadi, akibat ketidak puasan dari kelompok HKBP Bandung yang tidak memberikan kesempatan kepada kelompok HKBP Bandung Riau, yang hendak melaksanakan kebaktian, padahal Jemaat HKBP Bandung Riau telah menunggu sejak pukul 09.00 WIB.
.
Tak kunjung diijinkan masuk, seorang jemaat HKBP Bandung Riau menerobos masuk. Saking emosinya, jemaat yang sudah berusia lanjut ini malah pingsan. Polisi yang melakukan penjagaan tampak kikuk menengahi dan hanya bisa mengantisipasi saja, agar tidak terjadi tindakan anarkis.
.
Setelah bernegosiasi berjam-jam, akhirnya kelompok HKBP Bandung Riau pun diijinkan masuk gereja pukul 14.00 Wib, itupun setelah jemaah HKBP Bandung meninggalkan gereja dengan penjagaan ketat aparat. Sialnya, Jemaat HKBP Bandung Riau tak bisa langsung melakukan kebaktian karena pintu gereja terkunci. Kisruh berakhir happy ending setelah kelompok HKBP Bandung Riau akhirnya bisa masuk gereja untuk kebaktian.
.
Konflik antara kelompok HKBP Bandung dan HKBP Bandung Riau memuncak tiga tahun lalu, karena masing kelompok tak mau mengakui kelompok lainnya. Kedua kelompok pun melakukan kebaktian terpisah. Upaya untuk menyatukan kedua kelompok dalam HKBP Resort sejauh ini gagal.
.
Sumber:
Senin, 15 Okt 2007 08:53:50

Rabu, 03 Oktober 2007

Kebaktian Akbar HKBP di Senayan Diundur ke Tanggal 28 Oktober 2007

Syalom,

Kebaktian Akbar HKBP di Stadion Utama Senayan dalam rangka Pesta Parolopolopan 67 tahun HKBP Manjujung Baringinna dan Hari Ulang Tahun HKBP yang ke-146 diundur dari Minggu 7 Oktober 2007 menjadi Minggu 28 Oktober 2007.

Sedangkan mengenai rancangan acara dan jam masuk serta rencana kegiatannya tetap.

Jadi pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 2007 kebaktian di semua gereja-gereja HKBP se-Jabodetabek disatukan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan masuk pukul 09.00 wib.

Demikian pemberitahuan ini untuk disebarluaskan.

HORAS!!!

Rabu, 19 September 2007

Pesta Parolopolopan 67 tahun HKBP Manjujung Baringinna dan Hari Ulang Tahun HKBP yang ke-146

Sesuai dengan Surat Panitia Pesta Parolopolopan 67 tahun HKBP Manjujung Baringinna dan Hari Ulang Tahun HKBP yang ke-146, yang menyatakan bahwa pada hari Minggu tanggal 7 Oktober 2007 kebaktian di semua gereja-gereja HKBP se-Jabodetabek disatukan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan masuk pukul 09.00 wib.

Untuk itu, semua jemaat gereja HKBP (terutama yang berada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi serta Banten dan Jawa Barat) diharapkan turut ambil bagian dan berpartisipasi dalam acara tersebut dengan hadir dalam kebaktian akbar tersebut.

Semua Paduan Suara yang ada di semua jemaat di gereja HKBP Jabodetabek diharapkan mempelajari nyanyian :

- Koor Gabungan : Haleluya Nabolon
- Punguan Ina : HuriaMi
- Naposobulung : Mars NHKBP
- Koor Gabungan dan seluruh jemaat : O Tano Batak

Nyanyian-nyanyian tersebut akan dikumandangkan secara bersama pada perayaan puncak parolopolopon, hari Minggu tanggal 7 Oktober 2007.

HORAS!!!
Google Search Engine
Google
·

Guestbook of HKBP

·
·


Visitor Map